
Tiga hari setelah kesadaran Alan, Dokter yang merawat Alan sudah memperbolehkan Alan untuk pulang dari rumah sakit. Kondisi Alan sudah lebih baik, tubuh Alan sudah mulai bisa untuk digerakkan secara normal. Meskipun untuk berjalan masih harus dibantu dengan alat bantu jalan. Tapi Dokter menilai jika Alan sudah tidak memerlukan perawatan yang intensif. Alan bisa melanjutkan perawatan dengan rawat jalan.
"Terima kasih banyak Tuan Mason... Sudah mengantar kepulangan saya..." Alan memberi hormat pada Mason yang sengaja meluangkan waktunya untuk mengantarkan kepulangan Alan dari rumah sakit.
"Tidak perlu sungkan Tuan Alan... Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan kesembuhan Anda." Mason membalas pernyataan penuh hormat dari Alan.
"Cukup panggil saya Alan saja Tuan Mason... Usia dan status saya jauh di bawah Anda." Alan merasa tidak enak hati, terus dipanggil dengan sebutan Tuan oleh Mason.
"Baiklah Tu... Alan... Kalau Anda memerlukan sesuatu yang lain. Tolong jangan sungkan untuk menghubungi saya."
"Terima kasih banyak Tuan Mason... Anda sudah begitu membantu saya..." Alan memberi tanda kepada Toni yang menjemput dirinya agar segera naik ke mobil. Dan bagaikan seorang baby sister yang cekatan, Toni langsung membantu Alan untuk naik ke mobil barunya.
Mason membukakan pintu mobil, dan Toni dengan perlahan membantu Alan masuk ke dalam mobil. Bagaikan seorang sopir profesional, Toni langsung bergerak cepat untuk masuk ke sisi mobil yang satunya. Duduk di kursi kemudi dan menyalakan mobilnya. Bersiap untuk memacu gas dan pergi dari tempat Alan dirawat selama setahun lebih.
Brum.... Brum...
Suara engine dipacu dari mobil Toni begitu nyaring didengar, menandakan kualitas mesin yang menjadi pemacu tenaga mobilnya bukanlah mesin sembarangan.
"Berhati hatilah di jalan..." Mason melambaikan tangan, melepas kepergian Alan dan Toni yang menaiki mobil sport elit berwarna Biru tua.
"Terima kasih Tuan Mason..."
Toni pun memacu gasnya perlahan, agar mobilnya tidak melaju terlalu cepat. Jalanan Kota Mediteran terlalu ramai di siang hari, Toni tentu tidak mau mobil barunya sampai lecet hanya karena suatu nafsu sensasi untuk memacu mobil kencang kencang.
"Mobilmu keren Ton..." Basa basi Alan di dalam mobil. Agar suasana perjalanan pulang ke asrama tidak kaku seperti seorang majikan yang sedang diantar oleh supirnya.
"Hadiah dari Ayahku... Mobil ini juga berkat kamu Lan..." Toni tidak mengalihkan pandangannya, tetap berfokus pada jalanan Kota Mediteran yang nampak padat.
"Aku? Bagaimana bisa?" Alan tentu bingung, bagaimana bisa dirinya menjadi alasan Ayah Toni membelikan mobil baru. Tidak mungkin kan Toni merengek minta mobil karena sahabatnya masuk rumah sakit? Apa hubungannya coba?
"Ya... Kalau aku tidak mencari dirimu ke Kerajaan South Mountain aku tidak akan bisa kembali akur dengan ayahku."
"Kamu? Mencariku di Kerajaan South Mountain?" Alan sedikit bingung harus bereaksi seperti apa. Antara tersentuh, senang, sedih, tapu juga membodoh bodohkan Toni yang melakukan hal seperti itu.
"Ya... Begitulah... Aku merasa bersalah telah memaksamu bermain New World. Karena itu aku berniat menyelamatkan dirimu."
"Uuuhhh.... Aku tersentuh..." Alan berlagak selayaknya gadis manja. Menggoda Toni yang masih terfokus pada jalanan kota.
"Najis..." Umpat Toni yang melihat sikap dibuat buat Alan.
"Lalu... Apa yang kamu dapat di South Mountain? Apakah disana masih kacau?" Alan teringat terakhir kali dirinya meninggalkan Ibukota Kerajaan South Mountain. Bagaimana hancurnya Ibukota tersebut karena perang saudara yang terjadi.
Bayangan akan Clara, Freya dan Shoote Sun tentunya langsung menghampiri isi pikiran Alan. Membuat dirinya ingin pergi ke Kerajaan South Mountain dan menemui mereka. Alan benar benar rindu rasa masakan yang Clara buat. Meskipun tidak membuat kenyang, namun sensasi rasa masakan Clara benar benar nikmat.
"Kamu akan terkejut jika pergi kesana. Semua sudah berubah 180°. Kerajaan South Mountain kini sudah berkembang jauh, bahkan bukan hal yang mustahil jika Kerajaan South Mountain menjadi Empire keempat di Midgard."
"Begitukah? Menarik..." Alan merasa tertarik dengan yang Toni jelaskan. Dirinya sudah yakin jika Ratu Leoni akan bisa memimpin Kerajaan South Mountain dengan sangat baik. Mengingat sifat Ratu Leoni yang begitu menyayangi rakyatnya.
"Ya... Begitulah... Kalau kamu ada waktu luang di New World, datanglah kesana. Kamu pasti akan terkejut jika melihat patung dirimu ada di setiap Kota di Kerajaan itu."
__ADS_1
"Patungku? Jangan bercanda..."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak... Itu juga reaksi pertamaku saat melihat patung dirimu pertama kali."
"Hah... Mereka terlalu berlebihan." Alan menghela nafas panjang. Dirinya tidak menduga sama sekali jika dirinya akan sampai dibuatkan patung di Kerajaan South Mountain. Jika dirinya sampai datang ke Kerajaan itu tanpa menutupi identitasnya, dirinya pasti akan membuat suatu kehebohan nantinya.
"Sepertinya aku belum bisa kesana..." Alan memilih untuk menunda rencananya pergi ke Kerajaan South Mountain. Meskipun kini jarak sudah bukan menjadi masalah, karena adanya gerbang teleportasi. Tapi Alan masih memiliki satu janji yang harus dirinya tepati terlebih dahulu, sebelum pergi bertamasya ke Kerajaan South Mountain.
Sebuah janji pada semua bangsa Demon yang dirinya masukkan ke dalam The Forgotten World.
###
Seorang gadis remaja berusia 18 tahun nampak sedang mondar mandir di dalam kamar apartemennya. Wajahnya nampak begitu gusar, memikirkan suatu masalah yang sedang dihadapinya.
Kring...
Kring...
Handphone gadis berambut pirang yang bernama Nadia Ghulam tersebut terus berbunyi. Menandakan seseorang sedang mencarinya sedari tadi. Namun Nadia tidak berani untuk menjawab panggilan dari Handphonenya tersebut.
"Apa yang harus aku katakan? Commander tentu pasti akan marah besar padaku..." Wajah Nadia begitu panik, melihat nama Commandernya tertera di layar handphonenya.
Ya... Gadis itu bernama Nadia Ghulam jika di dunia nyata, jika di New World gadis itu bernama Cleo. Seorang player berkelas Ranger yang menjadi anggota Death Mask. Sebuah organisasi pembunuh bayaran yang juga menerima jasa pengawalan.
Nadia sedang dipusingkan dengan kegagalannya melindungi paket Mana Stone, membuat dirinya tidak berani untuk memasuki New World selama tiga haru belakangan ini.
Tanpa adanya laporan dan penjelasan dari Nadia, tentu membuat Commander Death Mask mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bisa menghubungi Nadia melalui New World, membuat Commander Death Mask menghubungi Nadia melalui handphone di dunia nyata.
"Ahh... Aku kira kamu sudah benar benar mati..." Suara seorang wanita terdengar dari ujung telepon. Suara yang begitu sinis dan membuat telinga pedas.
"Ya... Commander.. Maaf? Aku sedang sibuk belakangan ini..." Nadia menjawab dengan tergagap. Ketakutan akan dikeluarkan dari Death Mask menghantui dirinya. Padahal dirinya begitu mengandalkan pekerjaannya di Death Mask untuk menutupi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya.
"Ah... Sudahlah... Datanglah ke markas.. Dan jelaskan semua yang terjadi. Akan aku pertimbangkan apa yang harus aku lakukan padamu nanti."
"Ba... Baik Commander..." Jawab Nadia. Dan telepon pun tertutup dengan sendirinya. Menandakan Commandernya sudah menunggu Nadia untuk segera datang ke markas Death Mask di New World.
"Ah... Semoga saja semua baik baik saja..." Nadia bersiap memakai helm VRnya. Mengakses game New World yang dirinya tinggalkan selama beberapa hari untuk bersembunyi.
"What?" Mata Nadia, atau yang sudah diganti dengan Cleo di New World terbelalak. Melihat level dirinya kini berada di level 95. Terakhir kali dirinya log in masih berlevel maksimal, 100. Dan dirinya hanya mati satu kali, seharusnya dirinya berlevel 99 saat ini.
"Aahh... Kepalang nasib..." Clei tahu ada beberapa item yang bisa melipat gandakan penalti kematian. Dirinya hanya tidak menyangka jika sosok yang membunuh dirinya memiliki item tersebut.
Tapi mau bagaimana lagi? Mau balas dendam pun juga tidak mungkin, Cleo sadar diri jika dirinya tidak akan bisa menang untuk melawan sosok yang membunuhnya. Sekuat apapun dirinya, sehebat apapun senjatanya, di hadapan sebuah kekuatan absolute yang sosok itu tunjukkan. Semuanya nampak begitu sia sia.
Nadia memasuki sebuah bangunan yang terletak di dalam kedalaman hutan. Bagi player lain, mungkin hal seperti ini terlihat gila. Membangun sebuah bangunan di dalam kedalaman hutan. Tapi tentu tidak bagi anggota Death Mask.
Setiap anggota Death Mask sadar, jika Death Mask memiliki banyak musuh. Mengingat Death Mask sudah sering kali melakukan pembunuhan pada petinggi petinggi Guild. Membuat banyak Guild yang menaruh harga tinggi untuk bisa mencari tahu dimana markas Death Mask yang sebenarnya dan mencoba membalas dendam.
Namun tentu semua sia sia belaka. Markas Death Mask dikelilingi sebuah sihir ilusi, membuat markas Death Mask tidak akan bisa terlihat dari luar. Kecuali jika orang tersebut memiliki akses untuk bisa memasukinya tentunya.
__ADS_1
"Commander..." Hormat Cleo setelah dirinya berada di belakang seorang wanita yang nampak sedang memukuli sarung samsak di ruang latihan.
"Ohh... Kamu sudah datang... Cepat jelaskan." Balas wanita berambut hitam legam sebahu yang tidak mengalihkan perhatiannya dari samsak tinju di hadapannya.
"Maaf saya telah gagal Commander..." Jawab Cleo dengan hati hati, takut menyinggung Commandernya.
"Aku tahu itu.. Yang aku ingin tahu adalah... Kenapa?" Wanita berirish mata hijau tersebut terus memukuli samsak tinju di hadapannya, seakan dirinya sedang meluapkan semua kemarahannya pada samsak tinju tersebut.
"Ada seorang solo player yang begitu hebat Commander. Dia begitu hebat sehingga bisa membunuh semua yang ada di tempat tersebut. Dan juga..." Cleo tentu tidak berani mengatakan yang sejujurnya jika dirinya telah meninggalkan rombongan, dirinya bukanlah seorang yang naif. Yang berpikir Commandernya adalah seorang pemimpin yang begitu baik hati.
Yang bisa mengatakan "Ok... Jangan kamu ulangi lagi" pada setiap anak buahnya yang melakukan kesalahan.
"Katakan!"
"Dia memiliki item yang bisa melipat gandakan penalti kematian. Levelku turun 5 level setelah terbunuh olehnya."
Boom...
Samsak tinju yang tadinya dipukuli oleh Commander Death Mask tersebut terpental, hingga menabrak dinding batu yang menjadi pemisah setiap ruangan. Menandakan Commander wanita tersebut memukul samsak tinju tersebut sekuat tenaga.
"Apa kamu tidak berbohong?" Commander Death Mask langsung mengalihkan pandangannya pada Cleo. Perkataan Cleo benar benar menarik perhatiannya.
Sebuah item yang bisa melipat gandakan penalti kematian. Tentu item seperti itu yang setiap organisasi pembunuh bayaran di New World inginkan. Dengan item tersebut tentu dirinya bisa mempermudah pekerjaannya, atau menaikkan harga jasa pembunuhan Death Mask.
"Kita harus mendapatkan item itu. Bagaimana pun caranya!"
"Itu..." Wajah Cleo langsung pucat pasi mendengar perintah Commandernya. Commandernya mudah saat berkata, namun jika dilakukan? Bayangan tentang betapa mengerikannya Alan ketika membunuh dirinya langsung terputar otomatis di pikirannya.
"Ada apa?" Commandernya tentu tidak suka dengan reaksi Cleo.
"Player itu begitu kuat Commander. Aku takut jika Commander sekalipun belum tentu menang untuk melawan dia."
"Oh ya? Menarik..." Commander Death Mask memegang dagunya, dirinya begitu tertarik dengan sosok player yang tidak bisa dirinya kalahkan menurut Cleo tersebut.
Commander Death Mask masuk dalam jajaran 20 besar pemain terkuat yang Microboot rilis. Jika player itu lebih kuat dari dirinya, tentu player itu paling tidak masuk ke dalam jajaran 10 besar. Namun jajaran 10 besar pemain terkuat di New World memiliki guild yang menaunginya. Jadi Commander Death Mask berpikir jika Cleo sedang membual.
"Kalau begitu ajak dia untuk datang kesini. Kita undang dia secara baik baik."
"Baik Commander..." Cleo segera meninggalkan ruangan latihan Commandernya tersebut. Takut jika Commandernya berubah pikiran dan lebih memilih menghukum dirinya tas kesalahan yang dirinya buat.
"Satu lagi Cleo..." Cegah wanita berirish mata hijau tersebut.
"Ya Commander?" Cleo langsung berhenti dan membalikkan badan.
"Gajimu bulan ini dipotong setengah, untuk mengganti Mana Stone yang kamu gagal lindungi."
Duar...
Bagaikan disambar petir, apa yang Cleo takutkan benar benar terjadi. Dirinya tetap mendapatkan sangsi dari Commandernya atas kesalahan yang dirinya buat.
__ADS_1
"Baik Commander..." Cleo menerima hukuman tersebut tanpa protes apapun. Baginya lebih baik mendapat potongan gaji 50%, daripada harus dikeluarkan dari Death Mask.