New World

New World
Butuh Ketenangan


__ADS_3

"Aku tetap tidak akan mengubah keputusanku Second Priest!" Shoote Sun nampak mulai kesal, mendengar bujuk rayu dari Second Priest untuk mengerahkan pasukan yang Kuil Cahaya miliki beserta Light Guardian untuk membantu Sun Flower Guild demi memburu satu Bangsa Titan yang tersisa.


"First Priest... Kenapa?" Second Priest hampir diambang putus asa. Sudah puluhan kali dirinya terus menentang keputusan dari Shoote Sun, namun apalah daya. Shoote Sun nampak tidak bergeming sama sekali dengan keputusannya.


"Sudah cukup aku rasa dengan apa yang telah kita lakukan pada Bangsa Titan. Aku tidak ingin Kuil Cahaya justru mendapat cecaran dari banyak pihak jika terus menerus memburu Bangs Titan."


"Tapi membiarkan ada Bangsa Titan yang tersisa... Bukankah juga itu menunjukkan ketidakbecusan kita menangani mereka?" Second Priest tetap masih pada pendiriannya, membantu Sun Flower Guild saat ini adalah suatu momen yang begitu langka. Siapa yang tidak mau mendapat hutang budi dari sebuah guild kelas wahid?


"Biarlah orang berpikir apa untuk hal itu. Tapi yang jelas, kita sudah cukup dengan Bangsa Titan." Shoote Sun yang sudah merasa bosan dengan seribu alasan dan pertanyaan Second Priest memilih untuk pergi dari ruangannya. Meninggalkan Second Priest sendirian yang masih dengan wajah tanda tanya.


"Dan ingat satu hal... Komando pasukan tetap ada di tanganku... Aku tidak akan memaafkan dirimu jika memobilisasikan pasukan begitu saja!" Pesan Shoote Sun sebelum dirinya menghilang ditelan pintu ruangan.


"Cuih..." Sontak Second Priest langsung meludah di tempat. Rasa kesal akan posisinya sebagai komandan kedua di Kuil Cahaya Kerajaan Black Dessert semakin memuncak.


"Nikmati saja posisimu itu saat ini... Tidak akan lama lagi kamu akan menyesali keputusanmu..." Second Priest ikut keluar dari ruangan tersebut. Dirinya tetap tidak menyerah untuk bisa menjalankan rencana yang sudah dirinya susun.


Meskipun tanpa restu dari First Priest, dirinya tetap akan menjalankan rencananya. Rencana yang akan membantu dirinya merebut posisi First Priest dari tangan Shoote Sun.

__ADS_1


###


Marah... Kecewa... Sedih... Bahagia...


Tidak mendapati adanya Toni di dalam kamar asrama, membuat Alan semakin merasa gundah. Jujur saja... Dirinya kini butuh seseorang sebagai tempat bercerita.


Perasaan di dalam hatinya bercampur aduk bagaikan bubur ayam yang dicampur menjadi satu, tidak terlihat lagi mana ayam ataupun kacang di dalamnya.


"Kenapa jadi terpikir bubur ayam?" Keluh Alan sembari memegangi perutnya yang mulai berbunyi. Dirinya baru tersadar, terlalu larut di dalam game sampai membuat dirinya lupa akan tubuh aslinya yang perlu asupan.


"Aku benar benar harus menenangkan diri..." Bisik Alan pada dirinya sendiri setelah membasuh mukanya di wastafel kamar mandi. Terlihat pantulan wajahnya pada cermin di depannya, kantong matanya sedikit menghitam, rambutnya acak acakan, terlihat jelas jika Alan benar benar tidak merawat diri.


Luka yang berisikan rasa kehilangan, rasa rindu yang mendalam pada sosok wanita yang dahulu begitu perhatian pada penampilan dirinya.


"Ibu..." Lirih Alan... Tak kuasa air mata mulai merembes dari ujung matanya. Segeranya diusap air mata tersebut. Dirinya tidak ingin sampai arwah ibunya merasa pedih karena melihat anak laki laki satu satunya kini tengah menangis.


Teringat sosok ibunya membuat Alan teringat akan surat yang pernah kedua orang tuanya tinggalkan. Alan pun mencari keberadaan kedua surat tersebut, dimana dirinya menyimpan rapat kedua surat yang orang tuanya tinggalkan.

__ADS_1


"Apa aku harus membacanya sekarang?" Dengan memegang kedua pucuk surat, Alan mulai merasa bimbang. Dirinya tidak tahu, apakah dengan membaca surat dari ibunya tersebut akan membuat dirinya merasa lebih baikan, atau justru menjadi semakin tidak karuan.


"Ya... paling tidak aku tidak bisa membacanya di sini..." Alan pun keluar dari kamar asramanya. Membaca kedua surat tersebut bagaikan melempar sebuah koin. Dua hal bisa terjadi pada perasaan dirinya nantinya.


Alan memilih tempat yang nyaman untuk membaca surat tersebut. Berjaga jaga jika saja dirinya justru semakin emosional setelah membaca surat tersebut, dirinya bisa menenangkan diri dengan suasana yang ada di sekitarnya.


Tak sadar langkah kaki Alan membawa dirinya ke suatu sudut kota di Mediteran City. Suatu taman dimana terdapat sebuah sungai kecil yang membelah kedua sisi taman. Pepohonan yang rindang juga tertanam dengan rapi di sekitar area taman. Membuat sinar matahari yang menyengat tidak lagi menunjukkan taringnya, menjadikan suasana di taman menjadi begitu nyaman untuk sekedar duduk sembari menikmati angin.


"Ah..." Meletakkan kedua pantatnya di atas rerumputan, Alan memposisikan dirinya senyaman mungkin. Sungai kecil yang mengalir di hadapannya memberikan suara gemericik yang cukup menenangkan hati. Meskipun tidak secantik sungai yang ada di Middlemist Village, paling tidak tempat ini bisa sedikit memberikan suatu warna yang berbeda bagi hiruk pikuk kehidupan Mediteran City.


"Aku tahu ini adalah kata kata terakhir yang ingin kalian ucapkan kepadaku ... Aku juga tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan perasaanku setelah membaca surat dari kalian berdua..." Sekali lagi Alan memandangi kedua surat dari kedua orang tuanya tersebut.


"Tapi aku benar benar sedang memerlukan keberadaan kalian di sisiku..."


"Aku harap setelah membaca surat dari kalian, rasa rinduku kepada kalian bisa sedikit terobati...." Alan pun membuka amplop yang berisi surat dari kedua orang tuanya tersebut. Dimulai dari surat dari ibunya, Liliyana Scraft.


[Untuk Kekasihku tercinta... Alan Scraft]

__ADS_1


Satu kalimat tertulis di bagian depan lipatan surat tersebut. Hanya dengan satu kalimat yang ada di bagian depan lipatan tersebut. Air mata Alan sudah kembali menetes dari ujung matanya.


Alan menarik nafas dalam dalam, mempersiapkan diri untuk bertarung dengan segala kenangan dan rasa rindu yang nantinya akan terbayang ketika dirinya membaca surat dari Ibunya tersebut.


__ADS_2