
Air mata tidak lagi bisa terbendung, suara tangis ingin sekali keluar dari mulutnya. Namun semua suara yang seharusnya keluar dari mulutnya kini seakan terhenti di tenggorokannya.
Grestal hanya bisa terduduk lesu dengan berpangku kedua lututnya. Pandangannya pilu, menatap apa yang dirinya saksikan di hadapannya.
"Tidak mungkin...."
"Ini pasti ilusi..." Grestal berusaha meyakinkan diri dengan menampar sendiri wajahnya. Namun gambar yang diperlihatkan oleh kedua matanya tetap tidak mau berubah.
Ratusan mayat Bangsa Titan kini terbaring tak bernyawa. Tenda tenda tempat seharusnya mereka beristirahat kini telah ambruk tak tertata. Gerobak gerobak yang biasa digunakan untuk mengangkut barang barang pun kini telah terbakar semua. Tidak ada satupun barang yang utuh di pemukiman sementara Bangsa Titan tersebut.
"Kenapa? Kenapa bisa begini?" Grestal mencoba bertanya tanya, dirinya terus mengelilingi pemukiman yang berada di dekat tebing tebing batu tersebut. Mencoba mencari apakah masih ada Bangsa Titan yang selamat atau pun sekedar masih hidup.
Namun asa tinggal lah asa, yang Grestal dapati hanyalah onggokan mayat Bangsa Titan dan kepulan asap dari kobaran kobaran api.
"Kurang ajar..." Grestal berkali kali memukulkan tinjunya ke atas pasir. Membuat debu debu kini beterbangan mengelilingi tubuhnya.
"Kenapa?"
"Kenapa?"
Grestal ingin menyalahkan, namun kepada siapa dirinya harus menyalahkan? Tidak ada siapapun di sekitarnya yang bisa dirinya jadikan kambing hitam. Meskipun pada kenyataannya... Grestal juga tahu, siapa yang berada di balik kejadian ini semua.
Namun Grestal juga tidak bisa berbuat apa apa saat ini. Sangat naif jika dirinya sampai melakukan tindakan ceroboh dengan menyerang pihak terduga seorang diri. Hal seperti itu sama saja dengan dirinya mengantarkan nyawanya kepada musuhnya.
"Entah bagaimanapun caranya... Aku pasti akan membalas apa yang telah kalian perbuat. Aku tidak akan mati dengan tenang sebelum aku memakan setiap jantung yang kalian miliki..."
Ya... Hanya itu yang bisa terucap dari mulut Grestal. Sebuah umpatan berisi sumpah serapah dan janji yang dirinya buat untuk dirinya sendiri.
###
"Apa kamu benar benar akan pergi?" Tanya Rendemiz pada seorang Elf yang dirinya kenal sebagai AS.
"Ya... Aku harus membiasakan kalian semua untuk bisa berkembang sendiri. Tidak mungkin jika aku harus terus berada di tempat ini dan mengurus semuanya. Kalian harus tetap berusaha dengan tangan kalian sendiri..."
__ADS_1
Meskipun belum tertata sepenuhnya, Alan merasa jika sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi dari Kerajaan Bangsa Demon. Satu bulan sendiri telah Alan habiskan untuk membantu Rendemiz dan Selene mengatur Kerajaan Bangsa Demon. Mulai dari tatanan sosial, sumber ekonomi, sampai pasukan militer. Alan merasa semua yang dirinya lakukan sudah cukup untuk membuktikan janjinya pada para Bangsa Demon.
"Hah... Padahal aku pikir kamu bisa menjadi perdana menteriku..." Keluh Rendemiz yang merasa begitu kehilangan akan sosok Alan yang akan meninggalkannya. Selama ini Alan benar benar telah menjadi panutan yang luar biasa bagi dirinya.
"Hahaha... Aku tidak terlalu pandai dalam hal seperti itu... Atlantik lebih tepat untuk mengisi posisi seperti itu..." Lirik Alan pada gadis cantik jelita yang berdiri di belakang Rendemiz.
Atlantik hanya tersenyum menanggapi perkataan Alan. Dirinya sudah menunggu kesempatan ini sedari dulu, dengan menjadi perdana menteri di Kerajaan Bangsa Demon, Death Mask miliknya akan lebih mudah bergerak dan berkembang. Namun tentu Atlantik tahu tempat untuk bersikap, dirinya hanya memasang senyum termanisnya, menganggap apa yang disampaikan Alan sebagai sebuah pujian.
Padahal itu adalah bagian dari kesepakatan dirinya dengan Alan. Dengan informasi mengenai Sun Flower Guild yang dirinya berikan kepada Alan, Alan memberikan peluang kepada Atlantik untuk semakin memperlebar sayap Death Mask yang dirinya kelola.
"Apa kamu yakin dia bisa dipercaya?" Rendemiz melirik ke arah Atlantik, memperhatikan postur tubuh gadis cantik tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Tenang... Aku bisa menjamin hal itu... Lagipula... Jika dia sampai berbuat hal yang tidak tidak..." Alan tersenyum lagi ke arah Atlantik. Memberikan senyuman yang berisi sebuah ancaman pada calon perdana menteri Kerajaan Bangsa Demon tersebut.
Atlantik hanya bisa bergidik ngeri, masih terbayang bagaimana Alan mengobrak abrik markas Death Mask dulu. Dirinya tentu tahu apa yang dikatakan Alan bukanlah sebuah candaan semata.
"Baiklah... Berhati hatilah... Aku tidak bisa membalas pemberianmu selama ini..." Rendemiz memberi hormat pada Alan. Secara pribadi dirinya begitu berhutang pada Alan, mulai dari membantunya di Dunia Abyss, mengajari dirinya bertarung, sampai membentukkan sebuah Kerajaan sekarang. Bahkan dengan nyawanya sekalipun, Rendemiz belum merasa cukup untuk membalas jasa yang Alan berikan.
"Hentikan... Kamu adalah Raja sekarang... Tidak baik seorang Raja memberi hormat pada orang biasa sepertiku..." Alan langsung mencegah apa yang akan Rendemiz lakukan.
"Kamu lebih dibutuhkan di tempat ini Flyin. Lagi pula, kamu pantas menjadi pimpinan Abyss Colloseum..." Alan menepuk pundak Flyin. Sahabat Demon yang sudah menemani dirinya selama dua tahun ini.
Kekuatan special yang dimiliki oleh Flyin menjadi dasar Alan mempercayakan posisi pimpinan Abyss Colloseum. Ke depannya, akan ada begitu banyak calon investor yang mencoba mengembangkan bisinis di Abyss Colloseum. Dan dengan kekuatan special yang Flyin miliki, Flyin bisa memilih mana investor yang benar benar bisa menguntungkan, atau yang berniat menghancurkan Abyss Colloseum.
"Terima kasih Tuan..." Flyin merasa tersanjung dengan pujian Alan. "Sebuah kehormatan saya pernah menjadi pelayan Anda..." Hormat Flyin pada sosok Elf yang ada di hadapannya.
"Kamu tidak akan mengucapkan salam perpisahan?" Tanya Alan pada Selene yang berdiri di sisi kiri Rendemiz.
"Untuk apa? Kamu juga pasti akan kembali kesini suatu hari nanti..." Jawab Selene dengan ketusnya.
"Hahaha... Benar juga apa katamu..." Alan tidak bisa memungkiri jawaban Selene tersebut. Dirinya pasti akan datang ke Kerajaan Bangsa Demon lagi suatu hari nanti. Apa lagi jika Kerajaan ini sedang memerlukan bantuan dirinya.
"Kalau begitu aku berangkat..."
__ADS_1
"Ayo Chiro..."
Kwak...
Chiro pun membesarkan ukuran tubuhnya, seirama dengan jumlah aura kegelapan yang dirinya serap dari tubuh Alan. Tanpa berbasa basi Alan naik ke atas punggung Chiro.
"Kenapa kalian tidak naik?" Tanya Alan pada Ken dan Cleo yang tetap berdiri di tempatnya semula.
"Aku bisa naik Willi..." Jawab Cleo sembari mengelus pundak Willi, meskipun Willi kini tengah terbaring lesu karena takut kepada Chiro.
"Akan lebih cepat jika baik Chiro... Lagipula kucingmu itu sedang malas malasan sekarang..."
"Ehm..." Cleo tidak bisa membantah lagi. Sikap yang Willi tunjukkan benar benar tengah membuat malu dirinya. Dengan terpaksa dirinya dan Willi harus ikut naik ke atas punggung Chiro.
"Ken?"
Pertanyaan Alan mengejutkan Ken yang sedari tadi memandangi Atlantik. Kecantikan dan postur tubuh yang Atlantik miliki benar benar membuat seluruh darah di dalam tubuhnya mendidih. Apalagi melihat dua buah mangga yang hanya tertutup setengahnya, Ken benar benar kehilangan ajaran Kuil Shaolin yang pernah diajarkan gurunya dulu.
"Ya... Besar..." Jawab Ken sekenanya.
"Apanya yang besar?" Alan menembakkan sebuah jarum dari gauntletnya. Mencoba menyadarkan pikiran Ken yang tengah terbang kemana.
Merasa malu karena ketahuan curi curi pandang, Wajah Ken langsung berubah merah. "Ini... Naganya yang besar..." Jawab Ken sembari melompat ke atas punggung Chiro.
"Dasar..." Aku tahu apa yang kamu lihat sedari tadi..." Bisik Alan pada Ken, yang membuat wajah Ken semakin memerah karena rada malu.
"Ok... Kita berangkat..."
"Chiro..."
Kwaaak...
Kepakan sayap Chiro membawa ketiga player tersebut terbang ke atas langit. Semakin banyak kepakan sayap yang Chiro kepakan, semakin jauh pula ketiga player tersebut meninggalkan Ibukota Kerajaan Bangsa Demon.
__ADS_1
"Sampai jumpa lagi... Shadow Warrior..." Senyum terkembang di wajah Flyin, dirinya tahu apa yang menjadi tujuan Alan pergi dari Kerajaan Bangsa Demon.
"Semoga semua usahamu membuahkan hasil yang kamu inginkan..." Flyin memanjatkan sebuah permohonan doa, meskipun dirinya juga tidak tahu, kepada siapa permohonan doa itu dirinya tujukan. Karena Flyin tidak percaya adanya Tuhan, dan Tuhan memang tidak ada di dalam sebuah Dunia Game. Flyin hanya mengikuti apa yang biasa orang orang lakukan, mendoakan keberhasilan seseorang yang begitu dirinya sayangi.