
Setelah pertemuan dengan Gold Backer, Alan langsung pergi kehutan untuk mencari tanaman herbal sebagai bahan dari potion yang akan dia jual. Hutan di sekitar kota Irtys tidak seperti di hutan selatan yang kaya akan tanaman herbal. Di hutan ini tanaman herbal sudah jarang, karena banyak NPC yang memanen tanaman herbal liar yang tumbuh di hutan ini.
Hampir setengah hari sendiri Alan mencari tanaman herbal, namun hasil yang dia dapat tidak terlalu banyak. Monster yang dia temui di hutan pun juga tidak sedikit, tapi mengingat tujuan Alan adalah untuk mencari tanaman herbal. Alan pun selalu berusaha untuk menghindari monster monster yang ada di hutan. Alan pun terus mencari sampai dirinya sampai di kaki sebuah gunung.
East Rock Mountain. Begitulah nama gunung itu setelah dirinya membaca peta yang ditampilkan oleh Joker. Seperti namanya, gunung ini terdiri dari sekumpulan batu yang saling bertumpuk hingga menjadi sebuah gunung. Tanaman yang tumbuh di kaki gunung itupun nyaris tidak ada, menandakan betapa kerasnya batu yang menjadi dasaran gunung tersebut. Alan melihat ke sekeliling, dirinya tidak menjumpai adanya monster di sekitar gunung tersebut.
Alan mencoba melihat ke atas gunung, mengaktifkan zoomnya. Berbeda dengan di kaki gunung, di bagian tengah gunung terdapat warna warna hijau. Alan pun semakin menyipitkan mata agar bisa melihat semakin jauh. namun hasilnya nihil. maximal zoomnya hanya 4x jarak pandangnya. Jarak dirinya ke warna warna hijau di tengah gunung terlampau jauh.
"Apa mungkin diatas ada tanaman yang tumbuh?" Gumam Alan.
Merasa dirinya tidak akan mendapat jawaban jika hanya diam, Alan pun memilih untuk naik ke tempat tersebut. Alan melompati satu batu ke batu yang lain. Angin gunung yang berhembus kencang benar benar menyulitkannya untuk bisa mencapai tempat tersebut. Untungnya Alan bisa mengatur arah angin. Jika ada angin besar yang sekiranya bisa meniupnya badannya, Alan membelokkan arah angin tersebut.
Setelah 2 jam menaiki gunung terjal. Alan mendapati sepetak lahan yang ditumbuhi tanaman herbal liar. Melihat begitu banyaknya tanaman herbal liar, Alan pun sumringah. Tidak sia sia dirinya berusaha menaiki gunung tersebut.
"Pasti tidak ada NPC atau player yang pernah datang kesini." Gumam Alan setelah melihat banyaknya tanaman herbal.
Akses untuk naik ketempat ini memang extrem. Jika saja Alan tidak punya passive skill, dirinya juga pasti sudah terbang tertiup angin.
[Red Berry Fruit.
Dapat digunakan untuk membuat potion penyembuh tingkat dasar.]
[Red Berry Leaf.
Dapat digunakan untuk membuat potion pengisi mana tingkat dasar.]
Dengan senang hati Alan memetik buah dan dedaunan yang mengisi setiap pohon Red Berry. Alan membiarkan pohon Red Berry tetap hidup agar dirinya bisa memetiknya lagi suatu waktu. Baginya menemukan tempat ini seakan mendapat sebuah lahan siap panen kapan saja untuk dirinya sendiri.
Selesai dengan urusannya, kini Alan bingung bagaimana caranya untuk turun. Gunung ini begitu curam. Salah sedikit melangkah Alan akan terpeleset dan jatuh kebawah.
"Apa aku harus terbang ya?" Gumam Alan pelan.
"Tunggu... Terbang?" Alan berbicara sendiri. Tapi pikirannya seakan terbuka oleh suatu hal.
Alan pun menuruni gunung itu dengan hati hati. Sesekali dirinya mengarahkan angin agar tidak bertiup kearahnya. Membuatnya bisa sampai di kaki gunung dengan selamat. Tidak berlama lama Alan pun kembali ke kota untuk membuat potion dan menyiapkan rencananya.
###
"Guild master... Saya mendapat laporan kalau pasukan revolusi sedang berkumpul di hutan utara kota Irtys." Wind Hunter melaporkan pada Heart King.
"Pasukan revolusi katamu?" Jawab King Heart.
"Benar Guild Master. Saya takut mereka berencana merebut pabrik senjata milik kerajaan."
"Apa mereka sudah gila?" Jawab King Heart.
"Apa yang akan kita lakukan Guild Master?"
__ADS_1
"Kita pergi menemui Raja Robert. Kalau sampai pabrik senjata direbut, kerajaan akan mengalami kemunduran fatal. Bisa berdampak pada guild kita nantinya." King heart pun langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke istana untuk menemui Raja Robert.
"Yang Mulia Raja..." Hormat King Heart dan Wind Hunter yang pergi menemui Raja Robert.
"Ohhh... King Heart dan bawahannya kesini. Ada perlu apa kalian kesini?" Raja Robert yang sedang duduk di tahta ditemani dengan para wanitanya hanya melirik pada King Heart dan Wind Hunter. Pemandangan yang ditunjukkan Raja Robert benar benar membuat iri semua pria yang melihatnya, tidak terkecuali King Heart dan Wind Hunter.
"Maaf mengganggu waktu anda yang mulia. Hamba mendapat laporan kalau pasukan revolusi sedang berencana untuk merebut pabrik senjata kerajaan."
"Pasukan revolusi katamu?" Raja Robert terkejut dengan informasi yang disampaikan king heart.
"Benar yang mulia. Hamba disini juga datang untuk menawarkan bantuan."
"Hahahaha.... Bagus... Bagus... Aku tidak perlu memburu tikus tikus got sialan itu. Kini mereka datang sendiri padaku. hahahaha...."
"Aku serahkan urusan ini padamu. Bawa 3000 prajuritku ke pabrik senjata. Aku hanya ingin mendengar berita baik setelah kepulanganmu." Tatapan Raja Robert berubah tajam diakhir perkataanya.
King Heart yang melihat tatapan Raja Ribert pun tidak berani bereaksi. Dirinya yakin konsekuensi dari kegagalannya kali ini adalah kehancuran dirinya dan guildnya.
"Baik Yang Mulia." King Heart langsung undur diri dan menyiapkan segala keperluan untuk langsung ke pabrik senjata dikota Irtys.
###
Waktu sudah malam hari di New World. Alan sedang sibuk membuat potion untuk dia jual. Clara, Freya dan Shoote Sun pun terheran melihat Alan yang tanpa lelah membuat potion. Mereka bertiga tahu kalau Alan sudah pergi seharian kehutan sendiri. Tapi bukannya istirahat malam harinya, Alan malah membuat potion. Shoote Sun pun kagum dengan kerja keras Alan.
"Kamu tidak beristirahat?" Tanya Shoote Sun pada Alan yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Shoote Sun hanya mengangguk. Menandakan dirinya mengiyakan pertanyaan Alan.
"Ok... Sampai jumpa besok..." Kata Alan yang masih sibuk memanaskan potion buatannya.
"Jangan terlalu keras... Ingatlah untuk beristirahat." Shoote Sun berpesan sambil mengatur jendela sistemnya untuk log out.
Alan pun hanya tersenyum mendengar nasehat dari Shoote Sun. Sudah lama tidak ada orang yang mempedulikannya. Kini ada seorang wanita yang mengingatkannya untuk menjaga diri. Alan pun merasa senang.
Clara dan Freya pun merasa canggung melihat kedekatan Alan dan Shoote Sun. Mereka berdua saling berbisik melihat Alan yang senyum senyum sendiri setelah kepergian Shoote Sun.
"Sepertinya kakakmu sedang kasmaran?" Bisik Freya pada Clara.
Clara pun hanya mengangguk tanda setuju dengan Freya. Mereka berdua saling bisik untuk membuat sebuah rencana agar Alan bisa menjadi pacar Shoote Sun.
Alan yang memiliki pendengaran tajam, tentu saja mendengar apa yang mereka berdua katakan. Tapi Alan merasa cuek, malah dirinya terkejut. NPC bisa mempunyai pemikiran untuk jadi mak comblang. Sebegitu hebatnya Hiro Tamada dalam menciptakan game sereality ini.
Alan membuat potion sampai pagi di New World. Dirinya hanya sekali log out dari New World untuk makan dan mandi. Dirinya benar benar fokus di New World kali ini. Hagaimana tidak? Kegiatannya di New World sudah mulai menghasilkan uang. Hal yang sangat Alan butuhkan sekarang.
Berdasarkan informasi di forum yang Alan baca. Koin gold bisa ditukar di World Bank dengan dollar. Kursnya pun akan berubah setiap harinya. Berdasarkan kurs terakhir yang Alan baca 1 gold bisa ditukar dengan 5 dollar. 5 dollar cukup bagi Alan untuk hidup selama 1 minggu. Jika Alan hidup secara sederhana tentunya.
Itulah sebabnya Alan tidak melewatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan uang melalui menjual potion.
__ADS_1
"Kamu belum log out?" Tanya Shoote Sun yang baru saja kembali ke New World.
"Sudah tadi... Aku cuma makan dan mandi tapi." Jawab Alan sambil terus membuat potion.
Shoote Sun terperangah dengan jawaban Alan. Dirinya langsung memegang dahi Alan, melihat apakah Alan masih waras atau tidak.
"Kamu tidak gila kan?" Tanya Shoote Sun sambil memegang dahi Alan.
"Apaan sih?" Seru Alan yang merasa Shoote Sun mengganggu dirinya.
"Kamu harus istrahat AS. Jangan terlalu memaksakan diri." Kata Shoote Sun.
Alan pun tahu tentang hal itu, tapi dirinya mesti melakukan ini. Kalau tidak sampai kapan keinginan untuk mengembalikan tanah warga desanya bisa terpenuhi. Shoote Sun pun menasehati Alan karena dirinya tidak tahu alasan alan melakukan semua itu.
Kring... kring...
Panggilan dari Gold Backer membuat Shoote Sun diam dari ocehan yang dia lontarkan ke Alan. Setelah menerima panggilan dirinya langsung sumringah.
"Kabar baik... Gold backer telah mendapatkan barang yang kamu minta."
"Secepat ini?" Alan menghentikan membuat potion setelah mendengar berita dari Shoote Sun.
"Bukankah sudahku bilang, Gold Backer adalah merchant yang handal..." Kata Shoote Sun sambil mengusap hidungnya. Dirinya bisa sedikit menyombongkan diri di depan Alan sekarang.
"Bisa suruh dia kesini sekarang?" Kata Alan sambil terus membuat potion.
Shoote Sun hanya mengangguk dan menghubungi Gold Backer. Tidak berselang lama, Gold Backer datang dengan barang yang dia janjikan. Alan pun sangat berterima kasih pada Gold Backer atas kerja kerasnya.
Tidak lupa Alan memberikan potion hasil buatannya semalam. Alan berhasil membuat lebih dari 1500 botol heal potion dan mana regeneration potion. Gold backer terperanjat melihat Alan memberikan semua potion buatannya. Kini dia baru tahu kalau Alan adalah seorang Alchemist yang pekerja keras.
"Kamu tahu? Jamu bisa mendapat bayaran yang tinggi jika kamu bergabung dengan guild besar." Saran Gold Backer setelah menerima potion buatan Alan.
"Aku tahu... Tapi aku tidak tertarik bergabung dengan guild." Kata Alan padat jelas.
"Hah.... Sayang sekali... Skill Alchemimu ini bisa menghasilkan banyak uang."
"Aku memang berniat mencari uang, tapi tidak dengan bergabung dengan guild. Itulah sebabnya aku menerima saran dari Shoote Sun untuk menggunakan jasamu." Jawab Alan.
"Maksudmu?"
"Aku ingin kamu menjadi merchant pribadiku. Setiap barang yang aku hasilkan nanti hanya kamu yang menjualnya, bagaimana?"
Gold Backer merasa mendapatkan jackpot. Bagaimana tidak? Potion begitu dicari oleh pemain dan guild. Jika dirinya bisa menjual semua potion buatan Alan, berapa keuntungan yang bisa dia dapat?
"Tentu saja mau."
"Ok... Kamu jual dulu barang barang ini, dan tolong carikan barang ini. Untuk rencana selanjutnya akan kujelaskan nanti."
__ADS_1