
Bonus Chapter Parodi.
1. Re'zero.
Souma duduk di kursi loket toko seperti biasanya sampai tiga orang menerobos masuk dengan alat pemukul di tangan mereka yang semuanya dililit oleh kawat berduri.
Salah satu orang berkata selagi menunjukan senjatanya.
"Yo Onii-chan, akhirnya kami bisa membuat perhitungan denganmu. Gara-gara kau farmasi ditutup dan sekarang kami kehilangan pekerjaan karenamu."
"Kalian yang membuang limbah waktu itu," kata Souma seolah baru mengingat.
"Jangan khawatir saat kami memukulmu kau akan jauh lebih mengingatnya."
Souma berteriak dengan nada wanita pada umumnya.
"Kyaaaaa... pak penjaga selamatkan aku."
Gerakan ketiganya terhenti seketika dengan keheningan yang tercipta setelahnya.
"Hampir saja, barusan bikin merinding disko gue."
"Langsung sikat aja bos."
Suara yang lain memecah perkataan mereka.
"Cukup di sana."
Ketiganya melirik ke asal suara di mana Risela berdiri di dekat tangga dengan pakaian kesatrianya serta pedang di pinggangnya.
"Aku sarankan untuk melepaskan pria itu."
"Kenapa ada pahlawan Risela Lockhart di sini."
"Jika kalian masih mau melanjutkan, aku tidak keberatan.."
__ADS_1
"Muke gile! Lawannya tidak sebanding."
Ketiganya segera membuang senjata mereka dan lari tunggang-langgang meninggalkan toko.
2. Konosuba.
Di jalanan sepi itu Souma terus berlari dengan kekuatan kakinya, dia bergerak melewati perempatan jalan kemudian berbelok ke gang sempit.
Ia berfikir bisa meloloskan diri sayangnya, seorang telah menunggunya di depan selagi meletakan kedua tangannya di pinggang.
Dia adalah Undine.
"Usaha bagus Souma, tapi kau tidak bisa lari dari sini. Sekarang ikut aku waktunya bekerja."
"Tinggalkan aku sendirian atau kau akan menyesal, aku bisa bertindak kasar."
"Aku ingin lihat seperti apa itu."
Souma menarik nafas kecil sebelum mengulurkan tangannya selagi berteriak.
Ekpresi Undine terlihat menjadi tidak tenang, ia beberapa kali menyentuh roknya untuk memastikan bahwa benda itu berada di tempatnya.
"Hi-lang."
Sementara itu Souma membuka telapak tangannya yang sesaat sebelumnya bersinar dan memperhatikan potongan kain segitiga di sana lalu mengarahkannya sejajar dengan matahari.
"Uwaah Jackpot."
"Kembalikan..." teriak Undine berlinang air mata.
3. Death note.
Souma duduk di kursinya selagi memeluk lututnya dengan pandangan mata panda, sementara tangannya asyik menulis di sebuah buku di meja, tangan yang lain mengambil cemilan manis ke dalam mulutnya dengan menjepit mereka diantara jari telunjuk dan ibu jari.
Anna yang kebetulan sedang menyapu lantai berkata ke arah Souma.
__ADS_1
"Apa yang Souma lakukan? Dan buku itu?"
"Buku ini bukan buku biasa Anna, siapapun nama yang ditulis di dalam buku ini akan mati karena serangan jantung."
"Lalu siapa yang Souma tulis?" tanya kembali Anna dan Souma menyatukan tangannya tepat di antara kedua matanya selagi berbicara dengan serius.
"Orang-orang yang ngutang dan belum bayar selama satu tahun."
Meski Souma menulisnya tiga hari tiga malam orang-orang yang ngutang masih bermunculan bahkan pengutang yang baru semakin bertambah.
"Souma di mana bukumu yang waktu itu?"
"Sudah dibakar, produk imitasi sepertinya."
4. Dragon Ball.
Setelah melewati gunung, lembah dan juga samudera Souma akhirnya telah mengumpulkan tujuh bola di tangannya, tanpa memperdulikan penampilan yang lusuh ia menyatukan semuanya dan seketika ketujuh bola itu bersinar terang lalu menembakan cahaya keemasan ke langit seperti sebuah pilar raksasa.
Langit biru berubah menjadi gelap gulita dan dari awan yang berputar sosok kepala ular naga menyeruak keluar dengan auman hingga keseluruhan tubuhnya terlihat jelas.
"Katakan satu permintaanmu?"
"Aku ingin hidup santai," teriaknya dan naga tersebut memiliki ekpresi sulit.
"Sepertinya itu tidak mungkin, jika hidupmu santai maka novel ini akan tamat."
"Apa? Padahal aku belum dapat adaptasi komik dan anime."
"Genre Fantasy kurang digemari, coba masuk ke genre lainnya."
"Mana bisa aku melakukan itu dan juga kau ini editor kah."
"Waktunya sudah habis, sampai jumpa."
"Tunggu dulu bagaimana dengan keinginanku?"
__ADS_1
Souma terduduk lemas.