
Sebuah pukulan menghantam tubuh Souma saat dia memasuki ruang pribadi di guild, di saat dia tergeletak di lantai serangan lain telah diterimanya hingga dia tidak bisa bergerak karena sebuah kuncian erat.
Yang melakukannya tentu saja Astrea, dialah orang yang berani melakukan hal-hal seperti ini padanya, tanpa menahan diri.
"Sialan kau, adikku yang tak tahu malu ini terus menerus membuat masalah padaku."
"Aku menyerah, kau akan mematahkan leherku."
"Ini hukuman untukmu, menyerang kekaisaran tanpa lapor padaku terlebih membawa pahlawan kekaisaran untuk bergabung ke guild, kau benar-benar lancang."
"Banyak hal yang terjadi."
"Banyak hal tidak menjelaskan apapun."
Seketika wajah Astrea sedikit berubah.
"Souma apa yang terjadi padamu? Kau seperti ikan mati, tapi sekarang kau banyak memiliki ekpresi di wajahmu."
"Kau bisa menganggapku telah mendapatkan hatiku kembali."
"Begitu, kau tumbuh jadi pria dewasa."
"Perkataanmu selalu saja aneh."
Sebuah pukulan menghantam kepala Souma hingga benjol sebelum dia duduk di sofa dan Astrea meletakan teh untuknya maupun dirinya.
"Sebelum aku mengatakan apapun yang ingin kau dengar lebih baik kau ceritakan semuanya padaku, termasuk pedangmu itu."
"Aku mengerti."
Souma menjelaskan semua hal tentang bagaimana dia beraliansi dengan Dark Elf serta Malaikat, dia juga mengatakan tentang Lugunica, sejarah penyihir dan juga gereja Harmonia, hampir semuanya tidak dia tutupi.
"Jadi begitu, pedang itu bisa bicara dan soal Sanctuary juga."
"Benar."
"Souma kau terlihat takut oleh wanita ini, apa dia ini pernah melakukan hal aneh-aneh padamu?" kata Lugunica.
__ADS_1
"Hmm naga memang terkenal dengan kurang ajarnya, miliki tubuhmu lagi akan kupelintir tanganmu itu."
"Cewe bar bar."
"Cewe numpang hidup."
"Siapa yang kau panggil numpang hidup Hah."
"Mau berantem."
"Jika aku punya tubuh aku yang akan memukulmu."
Souma mendesah pelan dalam situasi aneh ini, dia melanjutkan.
"Jadi apa yang terjadi selama aku pergi?"
"Pihak gereja benar-benar tak ada ampun, mereka telah menghancurkan 10 kota dan ibukota dengan menuduh kita sebagai pendosa, tentu menghancurkan yang kumaksud rata dengan tanah, Law bahkan tidak mampu menahan salah satu dari 12 kesatria suci, terlebih mereka mengambil gerbang Geonova."
Mendengar nama gerbang itu, Lugunica segera bereaksi.
"Apa kau bilang gerbang Geonova?"
"Benar."
"Kau ras naga pasti sudah tahu apa gerbang itu sebenarnya?"
"Tentu, saat festival naga terjadi gerbang itu telah menelan tulang berulang naga, aku tidak tahu apa yang terjadi namun kemungkinan besar bukan sesuatu yang bagus jika gerbangnya dibuka."
"Jadi begitu, Lugunica kau pasti naga yang membantai naga lainnya bukan?" ucap Astrea tegas.
"Benar, saat festival naga mereka menghancurkan kawasan ras iblis... karena itulah, karena tak ingin mengalami hal sama pada manusia, aku membunuh rasku sendiri sampai sekarang hal itu selalu menghantuiku."
"Aku sebagai perwakilan manusia hanya bisa mengucapkan terima kasih, maaf membuatmu memilih jalan yang penuh luka."
Perkataan Astrea terselimuti kesedihan yang mendalam, dimana dia salah satu orang yang mengetahui seberapa mengerikan hal itu.
"Tak apa, karena itulah aku membenci penyihir bencana, jika dia berusaha melakukannya lagi aku ingin Souma membunuhnya."
__ADS_1
"Souma bisa diandalkan, benarkan Souma?"
"Aku akan berusaha."
Dua wanita ini memang tipe yang dengan senang membuat masalah pada Souma.
"Sekarang kota kita menjadi ibukota, karena itu tidak aneh jika Gereja Harmonia mulai menargetkan kita lagi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Law, Stella dan juga Laura tengah bersiaga di luar tembok juga."
"Untuk sekarang aku serahkan pada mereka, aku ingin beristirahat sejenak."
"Sudah kutebak kau akan mengatakan itu, gunakan waktu istirahatmu dengan baik... oh benar, ada seseorang yang mencarimu, tunggulah sebentar lagi dia suka datang kemari untuk minum teh bersamaku."
"Seseorang?"
Souma tidak bisa menebak hal itu, seorang yang mencarinya?
Ketika memikirkannya sebuah ketukan terdengar dari pintu.
"Dia sudah datang."
Dari sana seorang wanita muncul, ia mengenakan celana panjang putih ketat dengan kemeja berlengan panjang berenda yang ditutup kembali mantel putih sepanjang lutut.
Sepatu boot tingginya adalah bagian kedua dari dirinya yang mencolok selain wajahnya yang cantik, ia memiliki rambut pirang sebahu dengan kepangan di pinggirnya.
"Anu, maaf mengganggu... namaku Heart, apa kamu orang yang bernama Souma?"
"Dia orangnya, silahkan mengobrol, aku harus ke bawah untuk mengecek informasi baru."
Saat pintu tertutup dan langkah kaki Astrea menjauh, sebuah kaki sudah mengangkangi Souma.
Ekpresi orang bernama Heart tampak berbeda seolah menampilkan mata yang tajam.
"Yo, aku Pandora... kau sangat lama datang, hingga membuatku kesal saja."
Lugunica terserang kejutan seperti terkena petir di siang bolong.
"A-apa, kenapa kepribadiannya berubah?"
__ADS_1
"Bukan berubah lebih tepatnya dia memang hidup dengan dua kepribadian," jawab Souma lemas.