
Anna memberitahukan apa yang dikatakan Souma pada semua orang hingga memunculkan tanda tanya di kepala mereka, penyihir rembulan hanya tersenyum selagi menikmati susu hangat di tangannya.
"Katanya dia tidak suka bertarung tapi malah melakukan sebaliknya, harusnya aku juga ikut."
Risela yang kesal hendak keluar dari pintu namun Undine lebih dulu memeganginya.
"Hentikan Risela, jika kau tidak ada lalu siapa yang akan membersihkan toilet bukannya besok giliranmu."
"Ini bukan waktunya peduli dengan toilet, kita harus membantu Souma."
Anna dan Celestrial memiliki ekpresi yang sama. Souma tidak akan bergerak begitu saja tanpa ada pemicu, apa terjadi sesuatu saat dia keluar dari toko dan penyihir rembulan memotong.
"Lebih baik kita biarkan saja Souma melakukannya, beberapa saat lalu aku merasakan beberapa orang asing di sekitar luar desa tapi sekarang sudah menghilang."
"Mungkinkah itu musuh?" pernyataan Anna mendapat anggukan kecil.
"Tidak salah lagi salah satu kerajaan menargetkan desa ini dalam daftar, Souma mungkin marah dan mencoba untuk mengamuk di sana."
Semua orang terdiam tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
Pak tua ini bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Pak tua ini mengayunkan pedang melebihi gerakan yang bisa mereka lihat.
Pak tua ini bergerak demi uang, sudah lama pak tua ini bisa bertarung dengan skala sebesar ini, menepis semua serangan musuh pak tua ini melompat ke samping kemudian melesat maju. Pak tua ini memberikan tebasan dari bawah ke atas yang memungkinkan musuh tak bisa mendapatkan celah untuk menghindar ataupun menyerang balik.
Dengan sekejap mata, tubuh yang utuh telah ternoda dengan darah segar membuatnya mati seketika, di sisi lain komandan sedang bertarung dengan seorang jenderal. Pak tua ini tidak berharap beliau akan kesulitan.
Meski tingkah lakunya terkadang kekanak-kanakan, pak tua ini selalu yakin dia sebenarnya kuat, dia juga dermawan betapa banyak uang yang bisa kuterima darinya dengan peperangan ini.
Pak tua ini bisa menjamin kehidupan keluarga tanpa harus khawatir lagi.
Sebelumnya pak tua ini hanya prajurit biasa yang tidak banyak ahli dalam apapun, dan sekarang pak tua ini menjadi wakil komandan dimana pak tua ini bertugas untuk mengawasi pergerakan semua orang termasuk informasi dari pasukan yang bertarung di tempat lain.
Seekor elang yang sejak tadi terbang kini mendarat di bahu pak tua ini, di dalamnya terdapat surat dari pasukan nona Stella Evergarden yang mengatakan bahwa ia berhasil mengalahkan musuh dan mulai bergerak ke tempat pertemuan.
Pak tua ini tidak pernah meragukan kekuatan dari Evergarden, dia benar-benar dewi perang selanjutnya elang kedua muncul dan pak tua ini membaca surat yang dikirimkan.
Sungguh pak tua ini terkejut, seorang pemimpin yang masih berada di akademi bisa menyelesaikan perangnya juga.
__ADS_1
Jika tidak salah namanya Laura von Arslam seorang putri dari keluarga Arslam yang berada di desa Huruhara, mulai sekarang pak tua ini juga memandang hormat padanya.
Setelah beberapa menit berlalu kami berhasil mengalahkan seluruh pasukan musuh, dan pak tua ini bisa melihat tebasan komandan mengakhirinya.
Pak tua ini jelas harus menyampaikan pesan dari regu yang lainnya.
"Ada apa Kasman?"
"Pak tua ini dapat informasi bahwa kedua regu pasukan yang lain telah berhasil dan bergerak ke arah lokasi pertemuan."
"Itu bagus, kalau begitu kita juga akan pergi."
Pak tua ini jelas tidak setuju.
"Kita harus menjarah harta peperangan mereka dulu, pak tua ini sarankan untuk melakukannya."
"Kau ini benar-benar mata duitan."
"Pak tua ini tidak bisa menyangkalnya."
__ADS_1
"Baiklah aku beri waktu 10 menit lakukan cepat dengan beberapa pasukan."
Pak tua ini membungkuk rendah.