
Setelah mengalahkan Bertovo, Souma harus berhadapan dengan wanita bernama Milaina dengan mata Rigen 11.
Dia menarik kedua pedang ke tangannya selagi menjulurkan lidahnya dengan pose menjilat sebelum melangkah maju.
Souma melakukan hal sama sehingga keduanya beradu pedang, itu menciptakan percikan saat kedua logam saling bertubrukan. Dalam mode Rigen, setiap kesatria meja bundar bisa dengan tepat memprediksi setiap serangan bahkan tarikan pedang yang Souma lakukan bisa ditahan baik oleh musuhnya.
Dentrang.
Keduanya saling terlempar ke belakang.
Sesaat Souma merasakan hawa yang cukup mengerikan yang berasal dari Red Wall. Jika tidak salah itu sesuatu yang sama yang bisa dia rasakan saat berada di kota naga.
"Penyihir."
"Kemana kau melihat?"
Dua pedang terayun dari atas yang mana bisa dihindari dengan berguling ke samping, pijakan sebelumnya dimana Souma berada terbelah menjadi jurang cukup dalam.
Souma bisa merasakan aura penyihir bernama Fram semakin kuat meski begitu dia jelas tidak melakukan apapun kecuali duduk di sana memandang seluruh hal yang terjadi di wilayah ini.
Souma mengirimkan tebasan angin yang mampu diblokir kedua pedang Milaina dan dibalas dengan tebasan kilat.
Goresan muncul di pipi Souma bersama reruntuhan yang terpotong di belakangnya.
__ADS_1
"Ayolah kekuatanmu bukan hanya ini bukan, cepat gunakan pedangmu dengan serius."
"Aku sudah serius," balas Souma sebelum melesat maju.
Mata Rigen memblokir jenis sihir apapun maka dari itu bertarung secara langsung hanya pilihan utama.
Souma membungkuk saat dua pedang hampir menebasnya di depan, dia memposisikan diri menyamping lalu menggunakan tarikan pedang untuk menebas musuhnya.
Dua pedang musuh menahannya meski begitu dia harus terlempar jauh ke belakang.
"Gak."
Darah menyembur dari Milaina yang menghantam dinding bangunan sebelum dia bangkit dan menatap ke arah Souma yang berjalan dengan pedang tersarung.
"Itu jelas tidak akan mungkin, kaisar kami lebih kuat dari siapapun.. kau hanya akan kalah setelah menghadapinya."
"Kita lihat saja nanti."
Souma berbalik dan berjalan meninggalkan wanita tersebut di belakangnya.
"Kau tidak membunuhku?"
"Aku tidak menyerang orang yang sudah kehilangan motivasinya bertarung, pedangmu tidak memiliki hawa membunuh."
__ADS_1
Souma bisa tahu dengan hanya merasakan tebasannya, Milaina mencoba menyerang Souma dari belakang namun pedang Souma membuat dua pedangnya terlempar ke udara.
"Tadinya aku adalah seorang ahli pedang di sebuah desa kecil, suatu hari kaisar menawariku sebuah pernjanjian... jika kau bergabung dengan kesatria meja bundar maka seluruh penduduk desa ini akan selamat namun jika kau menolak mereka akan mati, aku memilih untuk bergabung dan menjadi alatnya untuk bertarung melawan kerajaan lain namun suatu hari seluruh penduduk desaku tetap saja mati dan orang yang telah melakukannya adalah orang-orang yang kerajaannya dihancurkan olehku, sejak itu aku kehilangan tujuan kenapa aku harus mengayunkan pedangku."
"Begitulah peperangan, kau merebut sesuatu yang penting dari seseorang dan kau akan kehilangan hal penting juga sebagai balasan."
Dibandingkan siapapun Souma bisa mengerti hal itu. Karena itulah dia mulai tidak suka bertarung.
"Tidak masalah untuk hidup santai dan menjauhi pertarungan, itu lebih baik untukmu dibandingkan hidup seperti ini, sejujurnya aku juga ingin melakukan hal sama," ucap Souma sebelum menggunakan sihir teleportasinya dan muncul di atas tembok Red Wall di mana Fram sedang duduk di depannya.
Dia menggunakan tangannya sebagai sandaran untuk menopang pipinya selagi tersenyum menatap ke arahnya.
"Kau datang juga? Itu, namamu?"
"Souma, tukang obat."
"Tukang obat kah, jika kau bisa sekuat itu maka ahli pedang akan menangis loh."
"Cukup basa-basinya, apa yang kau inginkan hingga datang kemari penyihir."
"Tak masalah jika kau ingin membunuhku, tusuk aku," dia mengatakannya dengan nada menggoda.
Kemampuan Fram adalah menghubungkan kematian dirinya dengan orang lain, jika Souma melakukannya seluruh orang di kota ini jelas akan mati.
__ADS_1