Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 43 : Aroma Dari Hal Merepotkan


__ADS_3

Paling tidak Souma bisa menarik nafas lega karena kedatangan Celestrial ke tokonya bukan dikarenakan masa lalu atau pun memaksanya menikahinya semuanya murni demi menyembuhkan ayahnya.


Anna berhasil melepaskan Tako dari kepala Souma dan ia berdiri selagi memeluknya mengikuti apa yang dilakukan Sebastian yaitu berdiri di belakang seorang yang dilayaninya, dalam obrolan ini putri dan Souma saja yang duduk saling berhadapan dengan secangkir teh yang menemani.


Aroma dari teh yang manis bercampur dengan suasana toko yang sepi menambah daya berbeda dari obrolan yang terkesan formal ini.


Putri Celestrial memainkan ujung rambutnya seolah memikirkan sesuatu yang lain, itu sedikit mengganggu pelayannya meski begitu jika dia terlibat untuk melarangnya, itu bukanlah sesuatu hal etis bagi seorang pelayan.


Celestrial memulai.


"Sebenarnya banyak hal yang ingin kutanyakan di istana akan lebih baik jika sekarang Souma ikut denganku sekaligus mengobati ayahku."


Souma bisa melihat tatapan membunuh dari Sebastian.


"Aku mengerti. Jika aku tidak melihat ke sana aku tidak bisa memutuskan penyakit apa yang diderita raja, tapi sejauh ini aku yakin penyebabnya."


Perkataan Souma memang terdengar malas akan tetapi jika soal menyangkut kemampuan dia adalah jajaran orang yang bisa diperlakukan setara dengan dewa.


Sebuah panah meluncur dengan kecepatan tinggi menghancurkan jendela dengan bunyi bola pecah, sebelum semua orang bereaksi Souma sudah lebih dulu menangkapnya di tangan.


Hanya berjarak satu inci saja dengan kepala putri Celestrial.


Sebastian yang telah mendapatkan kesadarannya kembali buru-buru melirik ke arah jendela, dan untuk kedua kalinya panah diluncurkan padanya.


Berbeda dari sebelumnya pedang Sebastian membelah panah tersebut menjadi dua bagian.

__ADS_1


Dia berkata dengan marah.


"Aku tidak bisa menemukan pelakunya?" teriaknya frustasi dan Souma membalas dengan nada khasnya.


"Percuma saja panah itu ditembakkan dari jarak 1 km."


"Kau?"


Sebastian tampak terkejut dengan perkataan tersebut namun dia memilih untuk menyarungkan pedangnya kembali agar suasana di ruangan kembali terjaga dan ia buru-buru memeriksa tuan putri.


"Apa anda baik-baik saja tuan putri?"


"Aku tak apa, berkat Souma aku selamat."


Sebastian membungkukan dirinya walaupun sedikit terpaksa, Souma hanya mengibaskan tangannya secara acuh tak acuh.


"Souma yang barusan?" Anna melangkah maju dengan pertanyaan.


"Ada yang mengincar anggota kerajaan... sudah jelas dia ingin membunuh putri barusan."


"Apa menurutmu ini ada hubungan dengan perjodohan."


Souma meletakan tangannya seolah memikirkannya dalam-dalam.


"Jika mengasumsikan hal itu mungkin perjodohan adalah cara halus untuk mendapatkan wilayah, misal jika salah satu pangeran melamar Celestrial maka dua negara akan bersatu.. namun karena Celestrial menolaknya maka mereka mengambil jalan kedua."

__ADS_1


"Jangan-jangan, salah satu dari keempat kerajaan berniat mengambil wilayah kita," balas Sebastian namun Souma menggelengkan kepalanya.


"Bukan satu melainkan keempatnya."


"Dari mana kau tahu?"


"Karena aku tahu seperti apa kerajaan itu."


Di masa lalu Souma telah berkeliling ke berbagai wilayah untuk menjajalkan obat yang dibuatnya, selama itu dia juga memiliki banyak informasi melebihi siapapun jadi dia sama sekali tidak berbohong.


Sebastian awalnya ingin menghina sosok Souma di depannya namun sekarang dia telah kehilangan minatnya bahkan lebih terasa ke arah perasaan kagum.


Untuk pertama kalinya dia berfikir rumor itu pastilah salah atau ada sesuatu di belakangnya.


Satu kilometer dari desa Huruhara seorang wanita dengan wajah penuh tindik tampak menggelantung di atas pohon dengan posisi terbalik membuat rambut merahnya turun ke bawah, sementara itu tangannya menarik busur dengan baik.


Mengetahui bahwa serangannya telah gagal dia menjatuhkan busurnya dengan perasaan lemas.


"Asssha.... ada orang hebat di sana yang mampu merasakan keberadaan kita, dia bahkan menahan panahku dengan santai."


Seorang yang dia ajak bicara hanya bersandar di pohon, dia seorang pria yang seutuhnya memakai pakaian pelayan dengan kedua mata tertutup kain hitam.


"Apa boleh buat, kita harus membunuh putri dengan tangan kita sendiri."


"Sepertinya begitu... waktu berburu segera dimulai," balas si wanita menyeringai lebar.

__ADS_1


__ADS_2