Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 46 : Akhir Serangan


__ADS_3

Alves sekali lagi mengirim tendangan kuat itu membuat tubuh Souma tak bergeming sedikitpun.


"Kau memiliki pedang tapi tidak menariknya, apa kau sangat meremehkanku."


"Aku hanya malas saja berurusan dengan kalian, kalian begitu lemah tapi bisa membunuh pahlawan, mungkin kalian menang karena menggunakan cara licik."


"Tutup mulutmu sialan."


Souma menundukkan kepalanya saat sebuah tendangan melesat di atasnya.


"Aku sebenarnya pemalas, jika itu hal merepotkan aku selalu berusaha untuk tidak terlibat dengan hal itu... sayang sekali bahwa aku malah masuk dalam pertarungan."


"Sekarang Seril."


Seril yang sejak tadi selalu bersembunyi mengarahkan anak panah ke arah Souma, panah itu melesat dengan kecepatan cahaya bahkan saat seseorang melihatnya diluncurkan itu sudah terlambat menghindarinya namun bagi Souma dia hanya memicingkan matanya lelah, jika dia menghindarinya orang di belakangnya akan terkena maka tidak ada jalan lain selain menangkapnya dengan jarinya.


"Kau benar-benar monster."


"Aku tidak perlu mendengarnya darimu."


Souma mengirim serangan balasan, dia hanya menendang dengan kakinya meski begitu dampak yang musuhnya terima sepuluh kali lipat dari serangan yang dia lancarkan.


Alves secara sadar memuntahkan darah dari mulutnya sementara Seril tampak syok dengan keadaan ini, baru kali ini mereka melawan orang kuat seperti ini, mereka yang dianggap ahli dalam bidangnya hanya seperti mainan bagi Souma.


"Jangan mendekat, jangan mendekat."


"Kau sering membunuh orang bagaimana jika kau mencoba mati."

__ADS_1


"Aku tidak mau mati, aku."


Souma menarik sedikit pedangnya dan dalam sekejap busur serta pakaiannya hancur, Seril berteriak selagi terduduk dengan rasa malu.


Sementara Alves masih bisa bergerak untuk mengirim serangannya sayangnya sama seperti sebelumnya dia jatuh hingga terhempas beberapa meter menabrak di dinding salah satu bangunan di desa.


"Kurasa pertarungan ini susah selesai."


"Jangan bercanda, aku masih bisa melanjutkan ini semua."


Alves menarik tubuhnya yang babak belur lalu memasang kuda-kuda menyerang, tubuhnya mengeluarkan aura gelap dan seiring waktu mulai berubah menyerupai iblis, dua tanduk yang memanjang dari kepalanya, mata berwarna merah terang dan tubuh di perkuat ke batas tertentu.


"Itu?"


"Haha penyihir senja memberikan kami kekuatan untuk membunuh siapapun yang mengganggu."


"Bagaimana rasanya sekarang, kekuatan iblis ini benar-benar menjanjikan... banyak ekprerimen untuk mendapatkan tubuh ini, dan aku bahkan harus menjadikan mereka kelinci percobaanku."


"Sungguh hal konyol."


Souma berdiri selagi menepuk-nepuk dirinya yang penuh debu tanpa terluka sedikitpun.


"Bagaimana bisa, bagaimana? Apa sebenarnya kau ini?"


Dipukul dengan rasa keputusasaan, Alves hanya berteriak padanya sejauh ini tidak banyak orang melihat perwujudan darinya seperti ini bisa hidup setelah menerima pukulannya, tapi Souma, dia berdiri tanpa terluka sedikitpun.


"Kudengar seluruh warga kota di pegunungan itu telah ditemukan tewas keesokan paginya, tidak salah bahwa aku mengamsumsikan kau yang membunuh mereka."

__ADS_1


"Tentu saja, aku yang.."


Sebelum Alves menyelesaikan perkataannya dua tangannya terpotong rapih, darah menyembur dari sana seperti tumpahan dari sirup.


Sebelum dia menyadari tebasan berikutnya, kepalanya sudah terpenggal.


Souma berjalan ke arah satu wanita yang masih hidup, tubuhnya gemetar untuk menantikan bagaimana dia akan mati.


Membuatnya telanjang seperti itu memang mengerikan tapi Souma bukanlah orang yang menyerang musuh yang sudah tidak memiliki tekad untuk bertarung, ini bukanlah bentuk dari ego seorang pahlawan melainkan ideologi yang dia bawa sejak peperangan yang terjadi di jamannya.


Sebagai samurai ada dua hal yang dia gantung.


Pertama selalu mewaspadai belakangmu, jika kau tertusuk dari sana kau adalah aib bagi samurai dan kedua seberapa kuatnya dirimu jika kau berhadapan dengan musuh yang kehilangan semangatnya bertarung maka tidak ada alasan untuk membunuhnya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu tapi sebagai gantinya ceritakan semuanya."


"Ba-baik," balas Seril memekik takut.


"Jadi sampai kapan kalian akan bersembunyi?"


"Sudah ketahuan yah, serangan barusan sangat menakutkan, bagaimana Souma membuat seorang wanita telanjang seperti itu? Benar-benar tak bermoral."


"Itu jelas tidak bermoral," tambah Sebastian pada pernyataan Celestrial.


"Souma, apa kau masih mencoba melecehkan banyak wanita."


Tiga serangan itu tepat menusuk jantungnya seperti sebuah anak panah.

__ADS_1


__ADS_2