
Itu sudah sore hari saat Souma berjalan menembus hutan rimbun yang sejujurnya tidak ada apapun kecuali batang pohon yang telah mengering dan menghitam, di atas cabang yang rapuh tampak burung gagak bertengger yang dengan senang memperhatikan semua gerakan dengan tatapan merahnya.
"Gak... Gak."
"Ini menakutkan."
Souma mengerutkan alis terhadap perkataan yang sejujurnya tidak cocok dikatakan seorang komandan kesatria yang dikagumi banyak orang, karena dia merengek ingin ikut maka Souma tidak ada jalan lagi selain mengizinkannya.
Benar, dia adalah Lawyer van Hoster.
Berbeda dari sebelumnya kini dia membawa empat pedang sebagai persiapan bertarung, sungguh orang yang merepotkan.
"Sudah kubilang lebih baik kau tidak ikut."
"Hah? Stella adalah temanku apa kau pernah mendengar cerita di mana dua sahabat pergi untuk menyelamatkan teman wanitanya yang diculik."
"Sama sekali tidak, dan juga aku bukan sahabatmu," balasnya dengan jujur.
"Teman?"
"Bukan."
"Kenalan?"
"Tidak."
"Pelayan."
"Benar, aku majikannya."
"Sialan.. Aku komandan kesatria loh bahkan banyak orang menyapaku jika melihatku di kota.. seperti, "Bukannya kau tuan Law dan aku menjawab "Siapa kau?" dan mereka bilang, "Apa kau lupa kau meminjam uang dariku? Apa kau ingin kutahan?"
"Itu modus penipuan baru oi... kau sudah ditandai sebagai target utama kurasa."
__ADS_1
"Apa?"
"Berhentilah melawak di saat tegang seperti ini."
Souma menghentikan langkah Law kemudian dia mengambil sebuah krikil sebelum melemparkannya ke tanah dan seketika lingkaran sihir api tercipta di sana, apapun yang menginjaknya akan terbakar sampai hangus.
"Mari cari jalan lain."
"Bukannya kau bisa mengirim kita langsung ke dalam kastil mereka."
"Itu tindakan ceroboh jika kita ketahuan Stella akan dalam bahaya, kita juga belum tahu musuh seperti apa yang kita hadapi."
"Bukannya kau terlalu berhati-hati."
"Aku kagum kau tidak mati sampai sekarang."
Mereka mengambil jalan memutar dan berhasil melewati semua jebakan atau sejujurnya nyaris saat Law hampir jatuh ke dalam lubang dengan tombak tajam di dalamnya.
"Hampir saja."
"Law apa kau tahu kenapa penyihir jadi musuh kita sampai sekarang?"
"Tidak terlalu, mungkin ada kaitannya soal perburuan penyihir di masa lalu.. tunggu, kenapa kau diam seperti itu, apa jawabanku salah."
"Aku terkejut tebakanmu benar, aku sudah mencari banyak hal yang terjadi di dalam perpustakaan istana lalu menghubungkannya dengan semuanya. Dahulu kala penyihir dianggap orang jahat yang senang membunuh siapapun namun sejujurnya semua itu hanyalah konspirasi dari pihak gereja... karena orang-orang lebih tergantung dengan mereka, mereka membunuh para penyihir lalu mengklaim mereka sebagai makhluk jahat."
"Itu terdengar gelap bagiku."
"Seperti itulah, bahkan yang difitnah sebagai penyihir mereka dibunuh secara kejam lalu dibakar di tiang hidup-hidup hingga akhirnya penyihir dan pihak gereja terlibat perang cukup lama."
"Kau mau bilang bahwa semua ini kesalahan para dewi?"
"Tidak, yang salah bukan dewi tetapi orang-orang yang menyusup ke dalamnya, saat aku memutuskan menjual obat-obatan ke seluruh benua mereka juga berusaha untuk membunuhku namun, aku memilih jalan yang lebih halus untuk menyelesaikannya."
__ADS_1
"Ah.. aku pernah mendengar seorang yang telah menghancurkan banyak toko obat saat peperangan melawan ratu iblis Anna, jadi itu kau."
"Itu aku, jika tidak begitu banyak orang akan mati karena obat yang mahal."
Souma diam sejenak lalu melanjutkan ke arah pembicaraan penting.
"Saat masyarakat mulai meragukan soal gereja mereka akhirnya mendukung penyihir dan saat itulah penyihir mulai diterima baik di setiap kerajaan namun diantara semua penyihir yang dibunuh ada satu yang masih menaruh kebencian."
"Siapa dia?"
"Fram, dia adalah yang membuat tujuh penyihir Sage yang sekarang, dia berpura-pura membuat sebuah panti asuhan dan membesarkan penyihir dengan tangannya sendiri."
Mendengar itu Law tanpa sadar menelan air liurnya dengan perasaan tegang, bukan karena dia takut akan sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan ia tahu apa yang terjadi padanya, itu di tulis di naskah kuno.
"Kau serius?"
"Aah, aku tidak berniat bilang begini tapi semua bencana yang terjadi karena ulah manusia sendiri, seperti yang kita tahu saat itu Fram tinggal dengan suaminya dan putrinya dengan tenang, karena mereka tidak tinggal di kota melainkan di bukit para penduduk berkata bahwa mereka bisa saja penyihir dan Fram ketahuan bisa melakukannya, jadi penduduk kota membakar rumah mereka saat tertidur pada malam harinya, dan sepertinya orang yang selamat hanya Fram sendiri."
"Aku akan membuat perhitungan dengan gereja."
"Sebaiknya jangan dulu, masih banyak masalah yang harus kita urus."
Law mendecapkan lidahnya.
"Kenapa kau mengatakannya padaku?"
"Aku ingin kau mengetahui situasi dan juga, dibanding siapapun aku lebih percaya denganmu."
"Souma?"
"Aku benar-benar tidak ingin mengatakannya tapi jadilah komandan yang diharapkan banyak orang."
"Aku tahu."
__ADS_1
Keduanya saling menatap dengan tekad kuat.