Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 346 : Pertarungan Akhir Bagian Satu


__ADS_3

Pagi berikutnya setelah semalaman beristirahat Souma dan yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk menembus hutan, kabut sudah tidak ada dan mereka bisa keluar dari sana dengan aman.


Untuk kelompok Ariana mereka memilih untuk tetap tinggal agar tidak merepotkan.


"Aku sama sekali tidak melihat menara Babel di tempat ini, hanya tanah kosong tanpa apapun."


"Begitu juga aku."


"Menaranya sendiri memang sengaja disembunyikan."


Souma menarik pedangnya, menebaskan dengan pelan hingga sebuah retakan muncul di udara, retakan itu mulai menjalar semakin menjauh selanjutnya pecah menjadi serpihan kaca.


Di saat yang sama pemandangan lahan hijau berubah menjadi lahan tandus dengan bebatuan yang terlihat terkikis oleh api dan di antara itu sebuah menara yang terlihat seperti monster menjulang tinggi ke langit, setiap bagian luarnya membentuk semacam mulut raksasa yang terbuka lebar dengan gigi berjeruji.


Untuk tubuhnya sendiri terlihat seperti ular raksasa.


"Tempat yang mengerikan, mari bergerak."


Eris berjalan lebih dulu memimpin sementara Souma memilih untuk diam dan hanya mengikutinya dari belakang. Adapun Rosalin dan Lugina mereka dengan hati-hati mewaspadai sekeliling.


Tak lama kemudian gerbang menara tersebut terbuka seolah sengaja untuk memperbolehkan mereka berjalan lebih masuk.

__ADS_1


"Aku tidak suka ini, di atas pasti ada semacam jebakan," kata Rosalin.


"Pemilik menara ini bukan tipe orang yang berbelit, dia akan langsung menyerang dari depan," balas Eris yang sudah naik ke atas tangga.


Souma, Rosalin dan Lugina mengikuti.


Ada sebuah tangga spiral lebar yang menghubungkan bagian bawah dan atas, tidak ada monster apapun di dalamnya, jika pun kesulitan yang mereka dapat hanyalah hal seperti kelelahan sedikit.


Sesampai di puncak menara di lantai terlihat dua orang terbaring tak berdaya, yang satu Fram dan satu lagi pria bernama Jerald, tubuh mereka mengeluarkan darah di lantai walaupun kini hampir seluruh penampilannya hanyalah tengkorak.


Di sisi lain di sebuah singgasana seorang gadis kecil duduk selagi menopang dagunya. Souma terlihat kebingungan bagaimana sosok gadis tersebut memiliki wajah serta suara mirip sang dewi yang dia kenal, Persefone.


"Aku sudah menduganya bahwa dewi aneh telah mengunjungi tempatku."


"Dewi Eris, bisakah Anda menjelaskan semuanya padaku?" potong Souma.


"Kamu tidak ingin mencoba bertanya padanya."


"Dia terlihat seperti orang yang tidak akan menjawab pertanyaan dari seseorang dengan mudahnya."


"Kamu benar, dia adalah saudari kembar dewi yang kamu kenal namanya Hersefone.. saat Dewa-dewi jahat disegel, ia sudah lebih dulu keluar sebelum seseorang mengeluarkan semuanya."

__ADS_1


"Aku tidak terlalu suka dengan cerita lama," potong gadis tersebut.


"Itu aneh meski kamu keluar kamu malah membiarkannya yang lain tetap terkurung."


"Aku tidak terlalu peduli dengan siapapun kecuali hidupku."


"Jawabnya yang tak terduga."


Eris menepuk punggung Souma.


"Sebaiknya kita semua jangan membunuhnya, jika dia mati maka sang dewi juga mengalami hal sama, ataupun sebaliknya... aku datang untuk mencegah hal itu."


"Seperti kalian bisa mengalahkanku, dua orang di sana juga tidak bisa melakukan apapun."


Souma berusaha memasukan semua hal dalam kepalanya.


"Kau sebelumnya adalah orang yang membuat mereka menjadi penyihir, namun bukannya mereka seharusnya berada di pihakmu?"


"Aku rasa kau salah paham, mereka datang untuk membunuhku, itu cara tercepat agar mereka kembali ke wujud manusia mereka sendiri."


"Alasanmu melakukan ini semua?"

__ADS_1


"Aku suka saat manusia yang saling membunuh satu sama lain."


__ADS_2