
Keduanya dipandu ke sebuah ruangan khusus VIP, seperti namanya ruangan itu berada di tingkat lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ruangan lainnya beberapa karangan bunga dalam pot ditempatkan di sudut ruangan, ada sofa empuk yang megah dan di antaranya tampak meja yang dipenuhi buah-buahan.
"Wah, ini sangat nyaman... duduklah di pangkuanku Souma."
"Pangkuanmu keras."
"Itu jawaban yang membuat semua wanita terluka."
"Tapi dadamu lembut."
"Aku kembali terpulihkan."
Setiap pelayan menunjukkan senyuman masam seolah berkata bagaimana ratu mereka bisa hidup dikelilingi orang seperti ini. Namun bagi Misela hal seperti barusan bukan hal yang harus dipermasalahkan.
Semua orang memiliki gaya hidup berbeda-beda itulah yang disebut keaneka ragaman.
"Kalau begitu kami akan memeriksa keadaan ratu, kalian berdua bisa sesantai mungkin berada di ruangan ini."
"Terima kasih."
Seluruh pelayan meninggalkan ruangannya.
"Nona Misela apa anda yakin memberikan mereka privasi? Apa sebaiknya kita mengawasinya."
"Aku pikir tidak usah, yang mulia ratu sangat mempercayai mereka maka kita juga harus begitu."
"Saya mengerti."
Saat pintu tertutup Scarlett melepaskan topengnya selagi tersenyum nakal.
"Mereka memberikan izin untuk kita berbuat nakal, bukannya itu bagus Souma...mari pelukan denganku."
Souma menahan kepala Scarlett agar di tertahan di belakang namun, itu sisa-sisa hingga Souma akhirnya dipeluk dengan erat.
"Sepertinya belakangan ini aku sering dilecehkan."
"Bukannya kau juga senang."
__ADS_1
"Jadi alasanmu menutup wajahmu karena ada sedikit masalah di tempat ini bukan."
"Kau menyadarinya?"
"Aku juga tahu bahwa kita terus diawasi oleh banyak orang sejak masuk ke sini, bahkan fakta bahwa seluruh pelayan menaruh kecurigaan pada kita juga tidak bisa dihilangkan."
"Yap, mereka tidak ada niat buruk hanya saja mereka sangat khawatir tidak bisa membedakan mana teman dan musuh."
Scarlett melepas pelukannya lalu duduk menjauh.
"Aku hanya berfikir jika aku disuruh olehmu untuk bergerak maka aku akan langsung melakukannya atau sejujurnya boleh aku membunuh mereka. Kau bilang tidak ingin terlibat hal merepotkan, bukannya kau menjadikanku sebagai pelayan bersama Asetasius karena hal itu juga."
Souma mendesah pelan, itu adalah kebenaran Souma perlu tangan kanan agar dia tidak perlu bergerak sendiri.
Risela memiliki kemampuan itu hanya saja dia tidak akan mau mengambil cara licik atau berbelit-belit.
Jika Souma bilang dia harus mengalahkan bandit dia akan menyerbu tanpa pikir panjang.
"Mari awasi saja dulu, kita baru datang bukan.. kita tidak harus membuat keributan secepat ini, atau sejujurnya aku ingin Anna sendiri yang menyelesaikannya."
"Baiklah, kau ingin memperkuat posisinya rupanya."
"Kau sangat cantik hanya saja aku merindukan dadanya yang besar."
"Ugh, ini pakaianku ketika kecil."
"Manisnya."
Atas godaan Scarlett, Anna berdeham sekali.
"Maaf menunggu lama, entah kenapa rasanya jadi agak canggung."
"Kau melakukan hal benar, kau harus menjaga wibawa seorang ratu agar semua orang tidak akan kecewa."
"Iya."
Meskipun sebenarnya di toko Souma, Anna juga tidak ragu membersihkan kamar mandi dan juga mencuci, jika ada seseorang yang tahu dia mungkin akan terkena masalah.
__ADS_1
Syukurlah hanya ada Misela saja yang menemaninya di belakang Anna.
"Pertama aku sangat berterima kasih pada Souma tapi seperti yang kukatakan aku akan tetap bekerja di toko Souma bahkan saat aku menjadi ratu lagi."
"Heh, Souma kau sangat dicintai di sini? Kupikir aku akan merasa lega karena saingan ranjangku berkurang satu."
"Aku sudah menduganya kamu juga seperti itu?"
Souma tidak tahu harus bilang apa terlebih Anna juga kini mulai terang-terangan, dia sudah tahu seluruh karyawannya sedang mengincarnya tak terkecuali Undine jadi ia mengubah topik ke jalan yang lebih baik.
"Lalu apa Anna bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini?"
"Aku sudah tidak terkejut jika Souma langsung menyadarinya, sayangnya di ras iblis kini telah terjadi perpecahan dan sebagian ras iblis menganggapku tidak kompeten menjadi ratu iblis."
"Itu memang tidak bisa dihindari."
Terlepas dari perjuangan Anna sampai sekarang, kebenaran dia telah dikalahkan oleh pahlawan manusia tidak bisa dibantah lagi dan beberapa ras iblis memanfaatkannya untuk mengambil alih kekuasaannya.
"Karena itulah dengan kekuatan Souma, aku yakin bahwa kami bisa bersatu kembali, aku ingin."
Souma mengangkat tangannya.
"Tidak secepat itu Anna, aku memang berjanji untuk membantumu tapi melihat ini aku harus mengatakannya, sebelum konflik selesai aku tidak akan melakukannya."
"Tapi..."
"Tidak ada artinya kita merubah tanahmu jadi subur jika ada perpecahan di wilayahmu, misal jika tanah ini kembali apa mereka akan tetap mendukungmu atau sebaliknya kemungkinan mereka akan jauh lebih ambisi."
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Ikuti aturan perang, pengkhianatan harus dihukum mati dengan begitu akar masalah akan dicabut selamanya."
"Aku juga ingin mengatakan itu, Souma... sederhananya jika bukan Anna yang memimpin ada kemungkinan iblis akan menyerang kembali ke dunia manusia," potong Scarlett demikian.
"Kami jelas tidak mungkin melakukannya?" protes Misela tapi Scarlett membalasnya dengan mudah.
"Kebencian, hanya dengan emosi itu sudah cukup menggerakkan orang lain... sebelumnya kalian bertarung dan banyak nyawa terbunuh, lalu apa keluarga mereka bisa memaafkannya? Tentu tidak, mereka jelas akan balas dendam, dengan cara ini Souma ingin kalian bisa mengetahui mana kawan dan lawan dan melihat apa mereka bisa memikirkan hal penting untuk mereka dapatkan di masa depan."
__ADS_1
"Apa hal penting itu?"
"Sebuah kedamaian," balas Scarlett tersenyum dari balik topengnya.