
Itu adalah sebuah hutan yang telah kehilangan kehidupannya, di tengahnya seorang wanita yang nyaris telanjang berbaring selagi menatap langit biru.
Ia mengulurkan tangannya untuk mencapai sesuatu namun tentu saja tidak ada apapun di sana kecuali kehampaan.
"Anu, apa kau baik-baik saja?" seorang gadis kecil berkerudung merah muncul di dekatnya selagi membawa keranjang di tangannya.
"Sudah kukatakan kau tidak boleh mendekatiku, aku ini penyihir."
"Tidak masalah bukan, lagipula sihirmu tidak berpengaruh untukku."
Gadis itu mengangkat roknya dan menunjukkan bahwa seluruh tubuhnya terbuat dari boneka.
"Tidak baik menunjukan bagian pentingmu pada orang lain."
"Aku hanya sebuah boneka jadi tak masalah."
Penyihir yang memiliki pandangan sedih tersebut hanya menutup matanya, dia adalah sebuah kematian sesuai julukannya.
"Aku membuat roti lapis apa kau mau memakannya?"
Penyihir kematian tidak bisa berbuat banyak dan memutuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan gadis tersebut, ia menggigit roti tersebut dengan pandangan kosong.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini enak."
"Syukurlah, makan yang banyak."
Penyihir kematian tersenyum kecil, gadis dengan kerudung merah ini bernama Asila.
Asila awalnya hanya sebuah roh penasaran yang berada di hutan ini, terjebak dalam keputusasaan dan kesepian.
Dia dibunuh, dia dilecehkan oleh beberapa pria dan ditinggalkan begitu saja di sini.
Itu adalah kehidupan yang menyedihkan yang tidak pantas diterima siapapun, karena itulah penyihir kematian memasukan rohnya ke dalam boneka seperti sekarang.
Asila membaringkan wajahnya dengan senang.
"Kau tidak ingin membunuh mereka?"
"Tidak, aku pikir mereka memiliki kehidupan yang baik sekarang."
"Meskipun telah merenggut kehidupanmu."
"Soal itu."
__ADS_1
Penyihir kematian memandang dengan tatapan dingin, bahkan jika dia membunuh satu negara itu bukanlah sesuatu yang sulit baginya namun tidak ada alasan untuk melakukannya kecuali jika gadis di depannya memintanya.
Itulah prinsip dari penyihir kematian dimana ia hanya akan membunuh jika ia memiliki alasan.
"Jadi bagaimana soal pesta teh para penyihir?"
"Berjalan lancar kurasa, ada seorang pria yang cukup menakutkan di sana."
"Menakutkan?"
"Aku bahkan tak ingin menjadi musuhnya."
"Begitu, penyihir juga punya sesuatu yang ditakutkan."
Pagi berikutnya Asila datang kembali ke hutan tersebut dan kembali menawarkan bekalnya, seperti biasanya penyihir kematian hanya berbaring di sana menatap langit.
"Apa kau suka langit?"
"Bisa dibilang begitu, ah benar apa kau mengenal mereka?"
Penyihir kematian menunjuk ke arah tumpukan mayat yang dia seret ke tepian danau.
"Salah satunya orang yang pernah membunuhku."
"Mustahil, akan kuperingatkan semua orang agar tidak datang kemari."
"Lakukan saja semaumu."
Asila meletakkan keranjang yang dibawanya kemudian berlari ke arah dimana desa itu berada, di tengah jalan dia berhenti bergerak dan bergumam.
"A-apa yang kulakukan? Mereka telah merebut hidupku, karena aku yatim piatu apa mereka berhak memperlakukanku seperti itu, setiap hari aku hanya tinggal di hutan ini namun mereka semua datang dan lalu, lalu."
Dalam sekejap air mata menetes dari wajahnya, normalnya boneka tidak bisa menangis jika pun bisa mereka hanya akan mengeluarkan air mata sayangnya yang Asila keluarkan adalah air mata darah.
"Tidak."
Penyihir Kematian muncul dari belakang lalu mengelus rambut gadis tersebut.
"Kau akhirnya menyadarinya, alasan kau belum pergi dari dunia ini karena kau tidak diperlakukan dengan adil, kehidupanmu telah direbut akan tetapi orang yang melakukannya hidup baik di sini, bahkan semua penduduk memilih menutup matanya karena tak ingin terlibat hal merepotkan bagaimanapun salah satunya anak penduduk desa, jangan khawatir... biar aku saja yang melakukannya."
Penyihir kematian berjalan ke arah desa, sosoknya yang ramping dan elegan tampak di depan para penjaga desa yang mayoritas pria.
Dia menekan kematiannya agar tidak membunuh mereka secara langsung.
"Heh, ada wanita cantik apa kau mau tinggal di sini?"
__ADS_1
Salah satunya menyentuh wajah penyihir kematian hingga dalam waktu singkat tangannya mencair menyisakan tulang berulang.
"Eh?"
"Salah satu dari kalian yang mencoba merayuku juga mati secara sama."
"Kau, kau penyihir."
Mereka segera berlarian sayangnya sebuah bayangan gelap menyapu mereka merubah mereka jadi tengkorak dan jatuh dalam kematian.
Tanpa memperdulikan hal itu, penyihir kematian berjalan seperti biasanya dan orang-orang yang dilewatinya mulai berjatuhan karena kutukan miliknya, pria, wanita, anak-anak, orang tua, wanita yang menggendong bayinya mereka semua jatuh dalam kematian abadi.
"Sekarang hanya kau yang tersisa."
"Kenapa kau melakukan ini? Aku yakin aku tidak pernah melakukan hal salah padamu."
"Apa kau ingat gadis yang kau sentuh dan bunuh?"
"Mustahil?"
"Aah, aku hanya ingin berterima kasih padanya untuk makanannya jadi aku ingin membunuh kalian semua."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan, gadis itu sudah mati jadi semua masalah sudah selesai."
"Sungguh konyol, dibanding kami kau lebih buruk. Kau beruntung bahwa bukan penyihir rembulan yang membunuhmu. Kekuatanku hanya memberikan kematian instan."
"Hentikan, hentikan."
"Kesalahanmu telah membawa pendudukmu, bahkan semua orang yang tidak bersalah ke dalam kematiannya."
Penyihir kematian menyentuh wajahnya hingga dia berubah menjadi tulang berulang kemudian menjadi debu seutuhnya.
Asila yang memperhatikan dari belakang tiba-tiba ambruk dan rohnya keluar dari tubuh boneka.
"Eh, kenapa aku? Aku ingin bersama denganmu."
"Tidak, seharusnya ada tempat yang lebih baik untukmu Asila."
"Nona Altina, untuk semuanya terima kasih banyak."
"Sama-sama, makananmu sangat enak Asila."
"Hehe."
Penyihir kematian hanya melambaikan tangan ke Asila yang menghilang seutuhnya.
__ADS_1