
Bahkan ketika semua orang kebingungan, Souma hanya diam dengan wajah datar. Jenderal bernama Kalion akan turut membantu mereka untuk mengumpulkan pasukan dan sebagai gantinya mantan ratu dan putrinya harus memiliki pemerintahan di wilayah ini meskipun kerajaan ini berubah menjadi bagian dari Diamond.
Untuk Souma sendiri hal itu bukan hal membingungkan, saat kerajaan ini jatuh mereka juga akan membuat bangsawan sebelumnya akan berpihak ke Diamond meskipun tambah satu atau dua, itu tidak berpengaruh.
Di sisi lain jika mereka memilih untuk keluar atau memberontak kematian adalah hal yang pantas mereka dapatkan, ini untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi di masa depan.
Mengingat orang yang bergabung ratu dan putri sebelumnya pemberontakan berpeluang lebih besar.
"Souma apa yang harus kulakukan?'
"Kau sudah menyepakatinya jadi sudah seharusnya bertanggung jawab untuk semuanya, saat semuanya kembali normal kau harus terus mengawasi keduanya."
Di atas benteng besar Souma dan Law terlibat pembicaraan kecil.
Misal kerajaan ini dibiarkan tanpa direbut suatu hari, peperangan akan terjadi dan jika Diamond mengambil wilayahnya, perang juga akan terjadi.
Singkatnya cara agar peperangan tak terjadi adalah membunuh semua orang terlibat dengan kerajaan sebelumnya dan mengganti ulang semuanya dengan orang dari Diamond.
Itulah yang harus dilakukan dalam situasi ini, namun Law tidak mengambil jalan itu dan memilih untuk mengambil resiko dari semuanya.
Souma berkata padanya selagi menatap matahari yang tenggelam.
"Kau gagal jadi seorang komandan tapi kau tidak gagal menjadi seorang manusia, itulah yang kupikirkan."
"Souma?"
__ADS_1
"Aku ingin makan sesuatu, semoga beruntung."
"Hal ini juga terjadi karena kau, kemarilah kemari dan ikut berjaga."
"Nanti saja."
Souma melompat jatuh ke bawah saat jaraknya lima meter dari permukaan tanah dia melayang dan turun dengan baik. Ia berjalan sebentar saat langkah kakinya tepat berhenti di dekat jendela toko.
Ia menatap seorang wanita dengan rambut putih yang sedang menyajikan makanan, sementara dirinya duduk bersama beberapa orang yang dianggap sebagai anggota partynya.
Tentu itu hanya bayangan dari ingatan masa lalunya, karena semua orang di sana kecuali dirinya sudah mati. Dan seorang wanita yang berambut putih adalah orang yang disukainya.
"Noreen."
"Noreen, siapa itu?"
Dua pasang suara menyelinap dari punggung Souma, suara yang sering di dengarnya jadi tidak sulit untuk menebak siapa mereka.
Yang satu kesatria mesum Risela dan yang lain bangsawan tidak ada akhlak Stella.
Souma sesekali pernah berfikir, kepribadian yang sama membuat mereka semakin erat dalam hal hubungan pertemanan, pantas saja saat Anna berniat menguasai dunia manusia mereka mampu berkerja sama dengan baik.
"Berhentilah menggangguku apa kalian ini hantu yang terus menghantuiku kemanapun aku pergi."
"Sebelum memenuhi permintaan kami, kami tidak akan pergi."
__ADS_1
Itu perkataan yang berbahaya yang dilontarkan Stella.
"Tolong ikat aku, aku membawa tali juga."
Yang satunya sudah tidak tertolong lagi.
Pada akhirnya kedua orang itu diikat dan dibiarkan begitu saja di jalan dimana orang-orang berkerumun untuk mencoba melepaskannya.
"Ikatannya terlalu kuat."
"Coba lagi."
"Memangnya kau pikir ini undian berhadiah coba lagi."
Pejalan kaki malah bertengkar.
"Hebat sekali, aku baru kali ini menerima perlakuan ini... ini sangat hebat aah... ahh.. cough.. cough, aku akan pingsan karena kegirangan."
"Lepaskan aku Souma, aku tidak seperti dirinya... permintaanku berbeda."
Souma memilih mengabaikannya dan akhirnya mendapatkan malam tenang di sebuah bar kecil dengan sebuah makanan sederhana.
Paling tidak itu yang diinginkannya sampai Laura duduk di depannya selagi melotot padanya.
"Mari bicara soal ibuku dan sejauh mana tanganmu menyentuhnya."
__ADS_1
"Ugh... aku benar-benar terkena kutukan tidak bisa bersantai kemanapun aku pergi, boleh aku memanggil pengacara sekarang."
Laura menggebrak meja.