
Souma memunculkan katana ke tangannya dan dalam sekejap tubuhnya terlempar dengan cepat.
Itu gerakan yang tak terduga dari Vanitas dimana ia menembakan cahaya dari tombaknya.
Souma keluar dari dinding yang roboh di belakangnya. Itu bukan sesuatu kekuatan yang kuat untuk bisa membunuhnya.
"Dasar curang, Souma belum siap dan kau menyerangnya," protes Lugunica.
"Dalam pertarungan itulah yang akan terjadi jika kau lengah, terlebih kenapa kau tidak menggunakan pedang di punggungmu itu?""
"Lugunica memiliki perannya sendiri."
"Kurasa memang seperti itu," balas Lugunica ragu, walaupun sebenarnya dia juga ingin digunakan oleh Souma setiap waktu.
Kekuatan Vanitas sebagai penyihir adalah menyerap kekuatan orang lain untuk dirinya ia bahkan bisa memberikannya pada orang lain, kebetulan saja bahwa dia menyerap kekuatan Dewi Harmonia.
Tidak seperti pemilik aslinya Souma pikir dia tidak akan bisa menggunakannya semaksimal mungkin.
Atau mungkin jawaban itu salah.
Sekarang Vanitas telah menciptakan bola lebih besar dari sebelumnya yang mana dilesatkan pada Souma.
Tempat ini terlalu sempit untuk digunakan bertarung karena itulah, Souma memilih mundur ke belakang dari lubang yang diciptakannya sebelumnya dan tepat saat itu ledakan besar terjadi.
__ADS_1
Souma berhasil keluar dari katedral sementara Vanitas memilih menghancurkan jendela dan terbang di atas langit sebelum mendarat di depan Souma yang telah mengirimkan bilah angin padanya.
Bilah itu ditahan dengan satu tangan.
"Benar-benar tak bergeming Souma, dia jelas lebih kuat dibandingkan saat aku melawannya."
"Jelas sekali," jawabnya singkat.
Souma muncul melalui sihir teleportasi, di depan Vanitas yang berdiri layaknya sebuah tebing tinggi kokoh, dia mengayunkan pedangnya dengan tebasan cepat.
Melalui tombak, Vanitas menahannya tanpa kesulitan bahkan kedua kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah.
"Untuk manusia kau memang cepat, sayangnya aku ini adalah dewa, serangan seperti ini benar-benar konyol."
Souma menerima serangan balasan, dia memblokirnya dan ujung tombaknya menyerempet bahunya membuatnya sedikit meneteskan darah.
Souma melompat mundur, bersamaan itu sayap-sayap milik Vanitas menancap di bawah kakinya selanjutnya menciptakan ledakan luar biasa, tubuhnya tertutupi dedu kendati demikian Souma masih berdiri di sana tanpa mengalami kerusakan sedikipun.
Bahunya juga telah disembuhkan.
Dia mengarahkan tangannya dan berkata.
"Inferno."
__ADS_1
Api merah menyembur ke arah Vanitas, ada sebuah dinding tak terlihat yang menahan api tersebut untuk menghentikannya.
"Percuma saja, sihir seperti itu tak akan bisa."
Alih-alih berhenti Souma terus menembakkan apinya, setelah tembakan ke 10 kali, dindingnya hancur berserakan.
"Apa? Ternyata bisa dihancurkan toh, apa itu benar-benar kekuatan dewi?" ejek Lugunica.
"Sudah kuduga... kau tidak tahu aturan dari para dewi, mereka bisa turun ke dunia ini namun dengan syarat bahwa setengah kekuatan mereka tersegel bahkan di situasi tertentu mereka hanya bisa menggunakan sepertiga kekuatan mereka."
"Itu tidak mungkin."
"Jadi begitu, kau tidak tahu. Hanya dewi utama saja yang bisa benar-benar menggunakan kemampuan mereka sesungguhnya."
"Tidak masalah, setengah juga sudah cukup mengalahkanmu bukan."
Vanitas yang sekarang memulai serangan, selagi terbang dia mengayunkan tombaknya, Souma menangkis ke samping. Saat dia lolos dari ujung tajamnya dia menendang Vanitas di perut hingga melesat naik ke atas.
Beberapa lingkaran sihir tercipta secara zig-zag di mana Souma gunakan sebagai pijakan untuk naik, dia mengarahkan pedangnya dengan gaya tusukan terarah pada Vanitas, sayangnya Vanitas menangkapnya dengan satu tangan selanjutnya membantingnya jatuh ke tanah dengan bunyi memekakkan telinga.
Tubuh Vanitas berlipat ganda dan masing-masing dari bayangannya menciptakan bola raksasa dari ujungnya.
Souma menembakkan bola api pada beberapa namun mereka hanya menghilang seperti udara sebelum tercipta kembali.
__ADS_1
"Rasakan kekuatan dewaku."
Bola-bola itu dijatuhkan secara bersamaan menciptakan puluhan bola cahaya yang menelan segalanya.