Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 171 : Kota Di Bawah Jembatan Harnas


__ADS_3

"Souma barusan?"


"Aku menghancurkan alat mereka, sekarang kita bisa bertarung serius."


Mendapatkan balasan tersebut wajah Historia memucat.


"Kau yakin barusan kau tidak serius."


Tepat di depan Souma sepuluh jalur jurang tercipta melalui tebasan sebelumnya, para prajurit ketakutan hingga mereka hanya terdiam di tempat mereka karena gemetaran.


"A-apa yang terjadi? Kita berjumlah 10.000 orang, apa ada yang salah?"


Brak.


Sebuah terjangan besar membuat mereka berhamburan ke udara.


"Tidak baik terus memukuli mereka seperti ini, Souma biarkan mereka melukaimu untuk meningkatkan semangat musuh."


"Kenapa aku, kau saja yang melakukannya."


"Wajahku aset berharga bagaimana aku menggoda para wanita nanti."


"Jangan bercanda, kami datang kemari untuk sebuah kemenangan mana mungkin kami."


Pedang Souma menembus tubuh orang yang berteriak tersebut, dari rasa dingin yang dirasakannya perlahan berubah menjadi tetesan darah yang menyakitkan.


"Aku tidak peduli dengan kalian rasakan, saat kalian memutuskan untuk berperang maka inilah kosekuensinya."


"Gaak."


Pria itu tumbang dengan darah di mulutnya.


"Yare, yare, kau begitu dingin."


"Dasar gadis bertipe yare-yare."


"Kenapa rasanya itu julukan yang pas untukku."


"Masih banyak musuh, bicara santailah nanti."


"Baiklah."


Keduanya saling berbalik kemudian melawan musuh yang tersisa, perlahan jumlah mereka ditekan semakin jauh, berkurang setengahnya hingga pada akhirnya mereka mundur dengan cepat saat mendekati 1000 orang."

__ADS_1


"Kedua orang itu pasti monster, lari."


"Aku tidak ingin bertarung lagi."


"Ugh... mereka lari, apa kita kejar."


"Kurasa tak apa membiarkannya."


Souma dan Historia mengumpulkan setiap mayat, menyusunnya menjadi satu sebelum berdoa dan membakar mereka, Lilith yang berdiri di belakang Souma mengikuti apa adanya.


"Jika kau seperti itu, kau mirip seorang pendeta."


"Aku memang seorang pendeta."


"Bagiku kau tetap gadis mesum."


"Tidak sopan, karena tugasku selesai maka aku bisa kembali ke kota kan sekarang."


Souma buru-buru memegangi kerah pakaian Historia agar dia tak bisa melarikan diri.


"Kau mau kemana? Urusan kita masih jauh dari kata selesai."


"Mungkinkah?"


"Kita akan langsung pergi kekaisaran sekarang."


"Tak masalah aku bisa melakukannya dengan mudah."


Souma melepaskan topeng tersebut kemudian memberikannya pada Lilith.


"Selama kami pergi tolong Lilith jaga ibukota dan katakan kami telah pergi ke wilayah kekaisaran ke yang lainnya jika mereka telah selesai."


"Aku mengerti tuan, aku juga akan merawat peliharaan nona Historia dan selalu memastikan bahwa putri Celestrial aman."


"Tolong yah."


"Padahal aku ingin bersantai lebih lama di ibukota, apa boleh buat."


Souma menggunakan teleportasinya dan keduanya telah muncul di sebuah jembatan raksasa yang menghubungkan wilayah Diamond yang baru serta wilayah kekaisaran, jembatan ini terselubung banyak kabut putih tebal dan tidak ada siapapun di sana.


"Jembatan Harnas, tak kusangka bisa sesepi ini."


"Jadi pihak kekaisaran benar-benar serius untuk melakukan ini, mereka lebih dulu menutup akses."

__ADS_1


"Apa kita akan pulang?"


"Tentu saja tidak, kita memiliki banyak jalan loh."


"Aku merasakan firasat buruk darimu."


"Tunggu siapa di sana, kalian."


Beberapa penjaga menemukan mereka sehingga Souma menarik tangan Historia ke pinggir jembatan sebelum dia bisa memantapkan dirinya, keduanya telah melompat menembus awan.


"Souma, kau terlalu berlebihan."


"Mereka sudah gila."


"Apa mereka tak sayang nyawa."


Souma menggelantung di tiang besi dengan satu tangan sementara tangan lain memegang tangan Historia.


"Aku sudah lama tidak melakukan hal seperti ini."


"Sudah kuduga terkadang kau benar-benar liar, harusnya lebih baik aku membawa kuda terbangku."


"Hal itu sangat mencolok kau tahu."


Souma menaikkan tubuh Historia di tempat yang aman begitu juga darinya. Souma juga berfikir akan mengganti pakaiannya juga untuk menyesuaikan diri lagipula sebelumnya dia hanya mencobanya untuk menutupi identitasnya dari bola sihir.


"Historia lepas pakaianmu juga dan sisakan pedangnya saja."


"Aku tidak bawa baju ganti."


"Aku membawanya."


Souma mengganti pakaiannya seperti di toko biasanya tanpa terganggu dengan keberadaan Historia begitu sebaliknya.


Historia mengenakan gaun terusan dan hanya menyisakan ornamen pedang di pinggangnya.


"Jadi kenapa kita malah melompat ke bawah?"


"Mungkin tidak banyak yang memperhatikan tapi cobalah lihat apa yang ada di bawah sana."


Historia memperhatikan dengan seksama, tidak ada yang cukup gila untuk memastikan sesuatu di bawah sana namun saat dia memfokuskan diri untuk melakukannya ia akhirnya menyadarinya.


"Mustahil ada sebuah kota di bawah jembatan."

__ADS_1


"Benar sekali, itu bukan kota baru atau sebagainya melainkan kota Dark Elf sesungguhnya."


Ada tiga lapisan dalam hal ini, pertama permukaan jembatan, awan putih yang menyelimutinya di bawah kemudian kota pada umumnya. Petualangan mereka akan dimulai dari sana.


__ADS_2