Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 84 : Pertemuan Tertutup


__ADS_3

Di dalam tenda dimana hanya diisi sebuah meja bundar dengan tiga orang yang duduk di dalamnya Law memberikan penjelasan tentang perubahan rencananya.


Dari awalnya bertahan kini berubah menjadi penyerangan secara habis-habisan, mendengar itu Laura angkat bicara.


"Banyak orang yang mati di kubu kita dan sekarang kau berfikir untuk menyerang, itu tidak masuk akal."


Laura hanya diberitahukan bahwa mereka hanya harus bertahan sebisa mungkin sampai mereka menyerah sendiri, jika mereka melakukannya maka mereka bisa mengambil jalur damai dengan empat kerajaan namun sayangnya hal itu tidak akan mungkin terjadi.


Di sisi lain Stella hanya duduk memperhatikan saat Laura kembali memprotes.


"Jadi Souma yang memintanya dari kita, bagaimana orang sepertinya bisa melakukannya."


"Mau bagaimana lagi, bahkan jika kita bersama-sama mencoba melawannya kita bukan tandingannya."


"Bukannya sebelumnya komandan sudah mengalahkannya."


"Dia hanya mengalah. jika mau dia bisa memenggal kepalaku selagi tidur."


"Sampai segitunya."


"Bagaimana menurutmu Stella?"


"Kita bisa mengikuti perintahnya lagipula Souma yang akan berada di garis depan jadi bukan sesuatu yang ditakutkan, terlebih kita hanya menyelesaikan yang ada di belakangnya."

__ADS_1


"Benar."


"Ia memang memiliki potensi untuk menghancurkan satu negara jika membuatnya menjadi lawan itu benar-benar kerugian besar... walau begitu, ia pantas menjadi suamiku."


Laura dan Law jelas terkejut dengan pernyataan akhir tersebut.


"Nona Stella benar-benar yakin?"


"Kenapa tidak, kami bangsawan Duke adalah tangan kanan dari raja yang bertujuan untuk menopang kerajaan ini.. dibanding hanya dipengaruhi emosi sesaat kami diharuskan bisa melahirkan penerus-penerus kuat untuk masa depan kerajaan. Mengabaikan peraturan aneh di keluargaku Souma adalah kandidat yang pas untuk memberikanku benih terbaiknya."


Law mengerenyitkan alisnya.


"Karena inilah aku benci keluarga bangsawan."


"Bukannya komandan juga bangsawan."


"Rasanya komandan menginjak harga dirimu sendiri."


Tak lama kemudian seseorang masuk dengan terburu-buru, itu adalah Kasman yang telah menerima informasi dari mata-mata yang bersembunyi di empat kerajaan khususnya kerajaan Alman.


"Ada apa?"


"Seluruh benteng kerajaan Alman telah dihancurkan oleh satu orang, mereka semua bahkan menyebutnya sebagai 'Iblis Kematian' yang menghancurkan apapun di depannya."

__ADS_1


"Orang itu, benar-benar... apa informasi ini akurat?"


"Pak tua ini bisa menjaminnya."


"Kita akan beristirahat satu hari di sini dan kembali bergerak ke kerajaan Alman, tolong sampaikan pada yang lainnya juga."


"Laksanakan, pak tua ini permisi."


Law melanjutkan.


"Anggap saja ini bayaran untuk mereka .. mereka berani mencoba menjajah tanah kita maka ini yang mereka dapatkan, menyerang dan berakhir diserang adalah aturan dari berperang."


Tidak ada dari siapapun yang bisa membalas pernyataan tersebut.


"Lari, itu iblis kematian."


"Terlambat kita tidak bisa pergi kemanapun."


"Aaaargh."


Seratus lingkaran sihir telah memenuhi langit, Souma mengizinkan setiap penduduk untuk keluar dari kota sementara sihir api dengan berbagai warna berjatuhan layaknya hujan meteor hingga dalam waktu singkat ia telah menghancurkan satu kota tanpa harus membuang tenaganya.


Yang tersisa adalah kawah raksasa.

__ADS_1


Dengan mata berwarna merah terang Souma berjalan dengan pedang tersarung di tangannya, bagi kerajaannya ini adalah pukulan untuk membalikan kondisi yang mereka terima sebelumnya sementara bagi musuh, ini adalah neraka.


Souma hanya mengincar benteng-benteng pertahanan yang ada di negara ini, jika mereka memutuskan untuk menyerang balik hal itu sudahlah mustahil.


__ADS_2