Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 196 : Penonton


__ADS_3

Di atas tembok yang disebut Red Wall seorang wanita berpenampilan pendeta duduk dengan senyuman di wajahnya, rambutnya yang berwarna pirang tertiup angin sementara mata melankolisnya tertuju pada kerusakan yang ada di sekitar wilayah Green Wall.


"Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seindah ini, siapa yang akan menang?" Sementara wanita itu dibutakan oleh keadaan seorang pria muncul dari belakangnya memperingatinya.


"Aku mencium bau menjijikan ternyata datangnya dari seorang penyihir, Fram."


"Ternyata Raifudus, Bonjour... kau sudah jadi setua ini bukan."


"Apa maumu penyihir?"


"Aku hanya ingin menonton kehancuran tempat ini."


"Wilayahku tidak akan hancur begitu saja."


"Eh benarkah, lihat bagian tembok Green Wall sudah hancur seutuhnya.


"Jika kau tidak ada keperluan lagi pergilah, aku tidak ada waktu untuk mengurus penyihir sepertimu."


"Sungguh kasar sekali, selama ini aku terkurung loh... sepi sekali."


"Karena perburuan penyihir kau sudah gila, sebagai temanmu di masa kecil seharusnya kau pergi ke sana dan hancurkan Vanitas."

__ADS_1


Fram berdiri selagi meregangkan tangannya untuk merasakan hembusan angin menerpanya.


"Apa kau tahu istilah semakin tinggi maka kau akan jatuh semakin sakit pula, aku hanya ingin membuat mereka berada di atas agar bisa aku jatuhkan dengan bebas."


"Kau benar-benar mengerikan."


"Karena aku penyihir, sepertinya dua anakku memiliki urusan yang sama di wilayah ortodoks suci dibanding turun sendiri aku ingin melihat apa yang coba mereka lakukan."


Fram menatap dengan sudut matanya sementara Raifudus mendecapkan lidahnya sebelum melangkah pergi.


"Terserah kau saja, padahal dulu kau gadis yang manis."


"Kau juga dulu orang yang bersikap baik loh."


Di sisi lain pertarungan Scarlett berjalan dengan baik, dia menerobos bagian tembok yang berbeda dengan yang lainnya dan sekarang dia harus dihadapkan dengan seorang yang menjadi lawannya bernama Miscute.


Kuku di tangannya bisa mengeras sekeras baja dan juga memanjang tanpa batas. Tepat saat ujungnya hendak menembus kepala Scarlett dia menarik ke bawah untuk menghindarinya, di saat yang sama dua bongkahan besi muncul di kiri kanan Miscute yang mana keduanya menghimpitnya dengan keras dengan sebuah hantaman namun tangan yang lain memotongnya seperti sebuah dadu.


Tak hanya menusuk kuku yang menyerupai cakar tersebut bisa digunakan untuk menebas layaknya pedang.


"Sebuah kehormatan bisa melawan seorang yang disebut Vampir pertama, kudengar darahmu sangat berharga untuk menambah populasimu."

__ADS_1


"Kau sudah tahu sejauh itu, sayangnya aku sudah tak berniat untuk memberikan darahku lagi."


"Sungguh disayangkan, kalau begitu biar aku memerasnya sampai kering dari tubuhmu."


Pilar-pilar besi berbentuk persegi panjang mulai bermunculan layaknya menara, teknik ini pernah sekali digunakan pada Souma dan ia mampu mengimbanginya dan sekarang ada satu lagi yang bisa melakukannya bahkan jauh lebih ekstrim.


Dengan santai Miscute memotong mereka tanpa ampun, Scarlett mengirimkan serangan kembali dan secara bersamaan itu dihancurkan menjadi serpihan.


"Sungguh mengecewakan, leluhur vampir tidak sekuat yang kubayangkan."


"Kau terlalu meremehkanku, biar aku tunjukan seperti apa kekuatanku sesungguhnya."


Scarlett melukai tangannya dan darah mengalir ke bawah dan dari sana kemudian membentuk dirinya menjadi pedang yang mengeluarkan aura membunuh.


Dua taring mengintip dari ujung bibirnya.


"Sekarang aku mulai serius loh, entah itu apapun akan kupotong dengan ini."


"Aku tidak yakin pedang seperti itu bisa memotong kukuku."


"Darahku special kau tahu, jadi rasakan ini."

__ADS_1


Scarlett mengangkat pedangnya tinggi lalu menjatuhkannya ke bawah dengan bunyi deburan angin yang memekakkan telinga.


__ADS_2