
Meninggalkan kota Omelas, ketiganya sampai di sebuah pelabuhan bernama Link Express. Di sini hanya diisi oleh berbagai penginapan, bar dan juga toko-toko klotong, itu bukan sebuah kota hanya sebuah tempat persinggahan bagi semua orang yang berniat berpegian jauh.
Pelabuhan ini tidak seperti pelabuhan yang menjalankan kapal-kapal besar yang berlayar di samudera melainkan tempat ini menjalankan kereta api yang berjalan di atas laut, setiap kereta itu berjalan dia menciptakan relnya sendiri melalui sihir es.
Melihat bagaimana itu beroperasi mata Lugunica tidak pernah berhenti berbinar layaknya seekor kucing.
"Apa itu, itu menganggumkan? Jadi begini manusia berpegian jauh bahkan melewati laut dan benua."
"Seperti itulah, mungkin kau akan lebih terkejut dengan kepala stasiunnya."
Saat mereka bertiga menemuinya, Lugunica segera merangkulnya kemudian mengelus-elus kepala station tersebut yang seluruh bentuknya adalah seekor kucing gemuk dengan seragam berserta topi di atas kepalanya.
"Imutnya."
"Nona tenanglah."
"Bulumu sangat lembut, apa kau suka ikan."
"Ikan?"
"Lugunica itu tidak sopan memeluk pria tua," kata Riel.
"Siapa yang tua aku masih muda."
"Aku dan Karina pernah datang kemari jadi aku sudah mengenalmu sejak lama."
"Ah, aku baru mengingatnya kalian dulu ingin pergi ke kota penyihir namun aku larang karena kalian masih kecil."
"Begitulah, saat itu kami memutuskan tinggal di gereja Harmonia."
"Begitu."
__ADS_1
Karina memotong setelah Lugunica menurunkan kucing tersebut.
"Kami perlu ke kota penyihir sekarang, berikan tiketnya."
"Kalian mencoba memalakku kan."
"Biayanya terlalu mahal sebaiknya turunkan lain kali."
Kucing tua itu menghela nafas panjang.
"Naiklah, akan kuberikan gratis tapi kalian hanya akan ada di gerbong terakhir dan lain kali kalian harus bayar."
"Terima kasih."
Kucing itu hanya melihat kepergian ketiganya dari tempatnya berdiri.
"Yah, sesekali beramal juga tidak buruk."
Riel terlihat bahagia ketika dia menyendok beberapa krim ke mulutnya.
"Lihatlah Riel, kau belepotan."
Karina mengambil sapu tangan untuk membersihkan mulutnya.
"Aku ingin makan lagi."
Lugunica menatap keduanya dengan pandangan hangat.
Kebanyakan orang pasti tidak akan percaya bahwa mereka penyihir yang dianggap menakutkan, bagi orang-orang yang tinggal dekat dari kota penyihir hal itu akan langsung mereka bantah, beda halnya dengan orang-orang yang hidup di desa terpencil yang cenderung menerima perkataan gereja seperti sebuah kebenaran.
Vanitas berusaha menanamkan ketakutan seperti itu pada orang-orang dan mencoba memecah belah semuanya.
__ADS_1
Lugunica menyeruput tehnya kembali sebelum dia melihat orang-orang bertubuh besar yang mengenakan topi tanduk di kepalanya muncul untuk mengambil tempat kosong.
Jumlahnya sekitar 8 orang dengan pakaian terbuat dari kulit yang terdiri dari celana panjang longgar serta rompi yang tidak dikaitkan berwarna coklat.
"Pesan bir," kata salah satunya selagi tertawa. Mereka sekilas terlihat seperti Dwarf namun dengan ukuran lebih besar.
Tak hanya makanan manis, kafe ini juga memang menyediakan bir dengan kadar alkoholnya rendah, suatu tempat yang bisa didatangi mereka yang hendak berpegian jauh tanpa perlu khawatir mabuk.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Walau penampilannya kasar dan berotot diluar dugaan mereka cukup sopan. Melihat Lugunica yang penasaran Riel memberikan penjelasannya.
"Mereka bangsa Viking, kudengar mereka hidup jauh dari benua tengah dan sesekali berpergian jauh dengan kereta, tapi kebanyakan melakukan perjalanan dengan berlayar."
"Kupikir mereka petualang dari guild karena membawa senjata di punggung mereka."
"Lebih baik kita tidak terlibat dengan mereka," kata Karina menyela lalu melanjutkan.
"Ras mereka sangat kuat, kudengar mereka mampu mengalahkan monster laut dengan mudah."
Riel menunjuk ke arah Lugunica yang lebih dulu berjalan ke arah mereka untuk mengingatkan bahwa perkataan Karina sudah terlambat.
"Yo, kalian minum-minum kah."
"Gadis kecil kau mau bergabung."
"Dia itu selalu penasaran dan suka membangkang perkataan orang lain."
"Begitulah Lugunica," perkataan itu berakhir begitu saja.
__ADS_1