Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 104 : Sebuah Pemintaan Kecil


__ADS_3

Itu adalah sebuah pemandangan memilukan saat badai salju, seorang ayah sedang menggendong putrinya di punggungnya sementara sang ibu menemani di sebelahnya.


Hampir seluruh jalan tertutup salju dan mereka hanya terus berjalan tanpa henti, sebelum sesuatu melompat di depan mereka, itu menyerupai seekor singa raksasa dengan tubuh berbulu emas, berekor ular serta bersayap kelelawar.


Tanpa menanyakan hal lebih jauh semua orang tahu bahwa dihadapan mereka hanyalah kematian. Sang ayah menurunkan putrinya untuk diberikan pada istrinya dan meminta mereka pergi.


"Ayah."


"Pergilah, ayah menyayangi kalian berdua."


Tepat di depan mata keduanya yang telah berlari menjauh, tubuh pria itu tercabik-cabik dengan kasar, daging segar menyembur sedemikian rupa ke udara yang mana membasahi warna salju putih menjadi warna darah merah.


Makhluk itu melahapnya tanpa sisa sebelum berlari untuk mengejar keduanya, menyadari hal itu sang ibu melemparkan anaknya ke samping dan hanya dirinya yang dilahap dari belakang, menyisakan tubuh bagian bawah yang masih berdiri tanpa daya.


Anak gadis yang memiliki rambut keperakan itu berteriak histeris namun, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membuatnya tetap hidup, makhluk yang dikenal sebagai Chimera berdiri di depannya dengan rahang terbuka lebar.


Ia sudah bersiap melahap tubuh gadis kecil itu namun beberapa orang muncul dan membuat Chimera tersebut melarikan diri, mereka adalah penduduk desa yang tinggal di bawah kaki gunung.


Mereka memukulkan berbagai alat yang menghasilkan bunyi nyaring dan itu terbukti berhasil menjauhkannya.


"Ada orang yang mati, cepat tolong gadis itu."

__ADS_1


"Baik."


Mengabaikan ingatan tersebut, penyihir rembulan berjalan kembali ke kediamannya. Dia membuka pintu hingga melihat seorang gadis kecil duduk di atas meja selagi menyilangkan kakinya.


Rambutnya bergaya twintail, mengenakan kaos kaki yang panjang seolah itu memang sengaja untuk menyembunyikan kaki putihnya.


"Lama tak bertemu penyihir rembulan."


"Penyihir bencana kah, apa kau perlu sesuatu hingga menungguku di sini?"


"Aku hanya datang untuk mampir padahal kita semua selalu bersama waktu dulu."


"Aku tidak ingin mengingatnya," balasnya datar.


**


Menjelang sore hari semua orang telah berada di meja mereka untuk mencoba makanan yang akan disajikan Souma.


Risela telah pulih dari shock nya dan menjadi Risela biasanya. Dengan ketidak adaan penyihir rembulan maka jatah makanan setiap orang bertambah.


Undine yang terlihat paling merayakan hal itu.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa makan dengan puas mulai sekarang."


"Aku juga berfikir demikian."


"Anna juga."


Anna segera memalingkan wajahnya dari tatapan Souma, entah sejak kapan sepertinya semua orang terganggu dengan sosok penyihir rembulan. Tapi hal itu tak perlu dipikirkan lagi.


Celestrial mengambil beberapa sate yang ditaruh ke alasnya.


"Makanan Souma selalu lezat, kini aku tahu kenapa tuan Ferguso selalu meminta resep dari Souma."


"Mungkin sebenarnya Souma titisan seorang chef terkenal sebelumnya," tambah Risela selagi mengunyah makanan.


"Aku hanya sedikit belajar memasak, ngomong-ngomong soal Ferguso, ia meminta kita untuk mencari tanaman yang bisa dijadikan makanan... jadi siapa yang akan ikut ke hutan?"


Semua orang mengangkat tangannya termasuk seekor gurita yang berada di piring, jika salah paham seseorang bisa memakannya.


"Tako, tako."


"Kalian ingin pergi semuanya, lalu siapa yang menjaga toko?"

__ADS_1


"Aku pikir kita bisa pergi pagi sekali."


Atas usulan Anna, semua orang memiliki wajah setuju untuk itu. Akibat insiden pilar ketiga Denis, acara memasak guild harus diundur cukup lama... terlepas dari itu kini semua orang juga mendapatkan rasa takut untuk pergi ke hutan termasuk para petualang guild sendiri, jika menghitung orang hanya Souma dan pegawainya saja yang masih bisa menjalankan tugas ini.


__ADS_2