Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 167 : Uskup Agung Vanitas


__ADS_3

Selesai mengumpulkan herbal, Historia melemparkan sedikit uang ke dalam kolam kemudian berdoa selagi tersenyum kecil.


Souma yang berada di sampingnya hanya mengikuti.


"Aku ingin terus bersama Souma meski kami berpisah aku ingin bisa sesekali menemuinya."


"Kukira kau ingin meminta hal aneh."


"Berisik, aku tiba-tiba saja berubah pikiran."


"Begitu."


"Pokoknya aku ingin segera kembali."


Souma hanya mendesah pelan sambil mengikutinya kembali ke kota, setelah memasukinya tiba-tiba saja Historia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.


"Historia."


Souma buru-buru melihatnya dan hal yang sama terjadi pada semua orang di sekelilingnya.


"Semua orang tertidur," bersamaan itu sebuah pukulan menghantam wajahnya yang mana membuatnya terlempar menabrak beberapa rumah sebelum keluar dari kota dan lalu meledakan permukaan tanah.


"Heh, meski aku memukulmu seperti itu kau masih hidup."


Keluar dari kebingungan Souma bisa melihat seorang pria berdiri di depannya, dia mengenakan jubah putih selagi tersenyum lebar.


"Uskup Agung Vanitas."


"Kau mengetahuiku, aku sedikit terhormat. Kudengar bisnis anak-anakku terganggu oleh seseorang dan kulihat ternyata itu memang benar."


Souma tertawa sebelum bangkit kembali.

__ADS_1


"Seorang yang penting menemuiku secara langsung singkatnya keberadaanku benar-benar sebuah ancaman."


"Benar sekali, aku sudah meningkatkan gereja Harmonia jadi sebesar sekarang aku tidak akan membiarkannya jatuh kembali."


Vanitas mengulurkan tangannya dan sekitar sepuluh tangan bayangan keluar darinya lalu meluncur ke arah Souma.


"Hellfire."


Ledakan besar terjadi dan dari asap yang mengepul seratus bayangan kembali dimunculkan.


Tak perlu bergerak dari tempatnya berdiri Souma menebasnya melalui katana yang secara tiba-tiba muncul di tangannya. Sosok Vanitas tertawa terbahak-bahak.


"Haha sudah kuduga kau bukan sosok yang bisa dengan mudah dikalahkan, kalau begitu."


Dua tangan raksasa tiba-tiba muncul di samping Souma yang masing-masing dari mereka mencoba menyergapnya.


Keduanya memberikan pukulan yang mampu ditahan Souma dengan pedang dan juga tangan kosongnya. Tangan raksasa itu terbakar dengan api hitam setelahnya.


"Apa aku dipuji?"


"Menyedihkan sekali, penyihir pura-pura jadi uskup agung kemudian memburu penyihir lain itu terlalu ironis."


Vanitas tersenyum dingin dan sebelah wajahnya berubah menjadi tengkorak.


"Kau salah paham akan sesuatu, yang kubunuh adalah penyihir palsu."


"Penyihir palsu?"


"Lebih tepatnya orang-orang yang menggunakan sihir karena sebelumnya dipelajari, penyihir sesungguhnya lahir dengan kekuatan bahkan saat mereka bayi dan mereka semua dikutuk dengan tubuh seperti ini."


Seluruh tubuh Vanitas berubah menjadi tengkorak seutuhnya.

__ADS_1


Souma akhirnya menyadari sesuatu, konsep penyihir yang dia terima di dunia ini dan dunia yang sebelumnya dia temui adalah berbeda.


Lalu apa itu penyihir? Dan kenapa mereka dilahirkan?


Vanitas menjelaskan secara samar-samar.


"Semua ini terjadi karena Lugunica, dia adalah salah satu penyihir yang lahir dari kalangan ras naga karena kebodohannya yang bilang sihir bisa diberikan pada banyak orang dia mulai membuat banyak-banyak buku dan menyebarkannya ke segala dunia serta memberikan pengetahuannya ke berbagai manusia dan akhirnya penyihir-penyihir palsu bermunculan sebanyak ini, aku hanya ingin melenyapkan mereka dan membuat dunia ini pada seharusnya hingga menempatkan penyihir berada di kasta tertinggi."


"Jangan bilang bahwa perburuan penyihir berhenti karena orang bernama Lugunica."


"Dia menantangku bertarung tapi seperti yang kuduga dia tidak bisa berbuat banyak, setelah menerima seranganku aku yakin dia akan mati tak lama lagi dan perjanjiannya bersama tujuh penyihir Sage akan terhapus seutuhnya."


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan? Namun sebaiknya aku membunuhmu."


Souma melesat dengan cepat, puluhan tangan bayangan menangkapnya dan dengan sekali tebasan itu terpotong-potong jadi ratusan bagian.


Sebelum katananya terayun memenggal kepala Vanitas dia berhenti untuk melihat bahwa Historia telah disandera oleh tangan bayangan.


"Jika kau sedikit bergerak nyawa gadis itu akan melayang, aku tidak ingin melakukan cara ini namun aku tidak punya pilihan karena aku perlu memulihkan diriku dari pertarungan sebelumnya melawan Lugunica."


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin kau berhenti menjual obat-obatan bahkan memberikannya, dengan begitu gereja Harmonia akan mempunyai kedudukan tinggi kembali."


"Berikan waktu seminggu maka setelah itu aku akan pergi dari wilayah ini, sampai saat itu aku akan masih menjual obat-obatanku."


"Sepakat."


Historia dijatuhkan sementara Vanitas berjalan melewati Souma dengan daging dan kulit yang menutupi dirinya kembali sebelum menghilang seutuhnya.


Souma hanya melirik ke arah Historia yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Sekarang aku harus membawanya kembali."


__ADS_2