Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 119 : Pertarungan Tiga Raja Bagian Tiga


__ADS_3

Cermin yang mengelilingi Law kini mengeluarkan tangan dan kaki sementara wajahnya terpantul di bidang datar tersebut, itu pemandangan yang mengerikan terlebih saat mereka menyerang ke arahnya dengan senjata di tangan mereka.


Law memutar gagang pedangnya, menghindar lalu menebas mereka satu persatu tak tersisa, permainan pedangnya memang terlihat begitu mahir bahkan selama pertempuran tersebut kaki Law tidak terlalu banyak bergerak seolah dia hanya memusatkan dirinya di satu tempat saja.


Sebagai seorang yang dilatih pedang sejak kecil Law begitu piawai dengan senjata tersebut. Salah satu cermin menyergapnya dari belakang sehingga pedang Law menembusnya tanpa dia harus menoleh untuk memastikannya.


Mereka semua pecah menjadi kepingan kaca seharusnya.


"Tanpa ampun, padahal mereka semua."


"Aku tahu, kau menjebak jiwa mereka di cermin lalu menggunakan mereka seperti sebuah boneka."


Pernyataan Law membuat Raider kehilangan perkataannya, dia ingin membuatnya sedikit menerima beban berat namun hal itu jelas tidak mungkin, alih-alih mencoba menyelematkan mereka Law memutuskan untuk membunuh mereka.


Tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka kematian adalah pertolongan bagi mereka, begitulah tatapan yang ditunjukan Law sekarang.


Dari semua cermin hanya satu yang tersisa yaitu cermin yang bisa bicara.


Law memegang pedang dengan kedua tangannya selagi menekuk lututnya dalam siaga, cermin itu mengambil dua kapak besar dari dalam tubuhnya lalu berjalan penuh gaya.


"Dia adalah mantan jenderalku, dia sangat kuat."


"Majulah."

__ADS_1


Dan pertarungan mereka dimulai, Law menangkis bilah kapak yang menyerangnya menyamping, sebelum dia bisa bergerak bilah lain sudah menghantam padanya, itu seperti serangan kombo yang terus bergulir untuk membunuh lawannya tanpa henti.


Menyadari bahwa pedang miliknya tidak akan bertahan ia memutuskan paling tidak beberapa serangan harus dihindarinya, Law ahli dalam sihir tanah sayangnya tidak ada media yang bisa digunakan sekarang, jika sihir yang lain dia sangatlah lemah atau mungkin tidak akan aktif di saat situasi genting.


Jika seseorang selalu menganggap dirinya sebagai pria berbakat, itu adalah sebuah kekeliruan.


Law tidak pandai ataupun dianugerahi kekuatan luar biasa, dia hanya seorang anak yang mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang kesatria, bahkan di hari-hari sulitnya ia terus berlatih dengan pedang, ia mengingat ketika hujan ia terus mengayunkan pedangnya untuk membelah sebuah pohon besar dengan pedang kayu saja.


Seperti itulah selama ini ia hidup, seorang yang hanya bisa berjalan dengan tekad dan keringat di sekujur tubuhnya tanpa menyerah.


Tubuh Law dikirim menjauh, dia bersalto ke belakang, menyadari bahwa musuhnya telah muncul di depannya dia menyilangkan pedang tepat waktu membuatnya terlempar kembali tanpa memberikan luka fatal.


Senyuman Raider terlukis di wajahnya.


"Apanya yang raja, kau hanya orang pengecut."


"Apa--?"


"Kau sejak tadi hanya menggerakkan boneka cerminmu.. kau bahkan tidak bisa bertarung dengan satu lawan satu."


Raider mengerenyitkan alisnya, potongan cermin yang pecah mulai berterbangan ke udara menjadikannya seperti sebuah tembakan peluru.


Law menangkis mereka dengan gerakan cepat sebelum menerjang ke depan, dia melompat ke udara kemudian berlari saat Raider memasang wajah panik.

__ADS_1


"Tahan dia."


Satu cermin yang tersisa mengikuti perintah tuannya, sebelum dia bereaksi dua kapak di tangannya hancur bersamaan tubuhnya yang jatuh berkeping-keping ke lantai.


Jarak Law dan Raider semakin menyempit, saat pedangnya meluncur untuk menebas kepalanya, tubuh Law dihempaskan membuatnya memuntahkan darah menyakitkan sebelum berguling-guling sejajar dengan lantai.


"Apa yang terjadi?"


Jelas dia kebingungan terlebih pukulan yang menghantamnya lebih seperti pukulan monster, ia menengadah untuk melihat tangan Raider yang telah menyerupai tangan seekor naga.


"Haha kau bilang aku pengecut sayang sekali tapi aku ini jauh lebih kuat dari raja yang lain, aku bahkan sebenarnya tidak memerlukan senjata dari para Dwarf itu untuk bertarung."


Akhirnya Law menyadarinya sejak tadi dia memang tidak membawa senjata apapun kecuali cermin yang selalu dibawanya untuk berkaca.


Raider untuk pertama kalinya membuang cermin di tangannya dan menggantikannya dengan sebuah suntikan.


"Kau pasti bertanya-tanya apa ini, di dalam suntikan ini terdapat darah naga Red Crimson yang kami ambil, dengan sedikit penelitian dari negaraku aku bisa menyatukannya dengan darahku."


Tanpa mendengarkan balasan Law, dia menyuntikkannya tepat di lehernya. Dalam waktu singkat tubuhnya bertambah besar dua kali lipat, lengannya dilapisi sisik serta cakar yang tajam dari ujung tangannya.


Meski bentuknya masih mempertahankan wujud manusia namun wajahnya lebih ke arah seekor kadal dengan mulut berjeruji.


"Begini lebih baik, mari masuk ke babak ke dua komandan kesatria Diamond."

__ADS_1


__ADS_2