
Heart sedang berdiri di kios pinggir jalan untuk memakan sate yang dibuat dari olahan daging kelinci, sementara Souma di belakangnya hanya mendesah pelan.
"Tolong pesan lagi."
"'Ba-baik."
Dia merasa kasihan kepada pemiliknya, sampai suara Lugunica mencapainya.
"Memangnya tak apa jika kalian santai seperti itu?"
"Iya, lagipula kita sudah mendapatkan banyak informasi dan kemungkinan besar bahwa kota ini juga akan diserang lagi."
"Kau bisa seyakin itu?"
"Karena mereka mengincar kesatria kavaleri, setiap ada mereka para iblis kuat akan muncul di sana."
"Jadi begitu, tidak aneh jika aku bilang bahwa kalian berdua yang masih tersisa."
"Aah."
Souma telah membaca berkasnya dan tidak salah lagi bahwa kota-kota tersebut telah dihancurkan. Setelah Heart merasa kenyang dia bermain dengan anak-anak seperti lompat tali dan juga bermain engklek.
Souma duduk selagi mengawasinya dengan seksama bagaimana dia terlihat bahagia dan tersenyum bersama yang lainnya sebelum akhirnya mereka berpisah pada sore hari dan duduk bersebelahan.
Souma memberikan air minum padanya.
"Kau benar-benar menyukai anak kecil."
"Hehe iya, aku senang berada di sekitar mereka... dulu aku juga ingin bisa hidup seperti mereka sangat nostalgia."
__ADS_1
"Hidup seperti mereka?"
"Iya, aku dulu hanya gadis yang kurang beruntung yang hidup di jalanan seorang diri.. kalau bukan karena Pandora, aku mungkin sudah tidak ada di sini."
"Pasti sulit."
"Um... yang terpenting bukanlah masa lalu, sekarang aku menyukai hidupku dan akan terus melangkah maju."
Souma tersenyum ke arahnya kemudian mereka pergi untuk menyewa penginapan.
"Tolong satu kamar."
"Sebaiknya kita memesan dua."
"Tidak akan, kita harus selalu bersama. Aku ingin tahu rasanya tidur dengan pria."
"Kau tidak perlu mengatakannya di depan umum, kau membuat pelayannya takut."
Souma jelas tidak menyukainya, walaupun sekarang Heart telah mencoba menyentuhnya.
"Jadi begini bentuk tubuh pria itu."
"Jangan menyentuhnya."
"Ayolah sedikit saja."
"Dia seorang kriminal," ucap Lugunica lelah.
Pagi berikutnya Souma dan Heart berdiri di atas tembok untuk mengamati sekitar luar kota, untuk sesaat dia melihat tatapan Pandora tapi sebelum berubah kembali.
__ADS_1
Apa dia marah? Tentu saja marah, Heart tidak bisa berhenti memeluk Souma sepanjang malam, dan Souma bersyukur mereka berdua tidak kehilangan pakaian sedikit pun.
Merasa jenuh Heart membaringkan tubuhnya ke belakang.
"Kenapa mereka belum muncul, cepatlah datang."
Dia bisa mengeluh sebanyak yang dia inginkan. Souma membuka plastik bakpao kemudian menggigitnya selagi hangat dimana di dalamnya terdapat lelehan keju yang terisi dengan potongan daging yang lembut.
"Apa rasanya sangat enak Souma?" tanya Lugunica.
"Iya, mereka sangat baik membuatnya."
"Aku juga mau?"
"Kau bisa memakannya setelah mendapatkan tubuhmu kembali."
"Kalau itu terjadi maka kita tidak berada di dunia ini lagi."
"Di dunia kita juga pasti ada yang berjualan makanan seperti ini... jika tidak ada kita bisa membuatnya sendiri."
"Owh, benar juga... aku lupa Souma juga ahli dalam memasak."
Heart diam-diam mengambil bakpao yang ada di dekat Souma sayangnya itu tidak berhasil.
"Jatahmu sudah habis, sana turun dan beli lagi."
"Dasar pelit."
Heart memutuskan untuk turun sedangkan Souma terus mengawasi di atas tembok, beberapa waktu kemudian ledakan terjadi di kota.
__ADS_1
Souma buru-buru bangkit namun sebelum dia melakukannya sebuah lidah panjang melilit dirinya kemudian dijatuhkan ke bawah dengan bunyi memekakkan telinga.
Tinggi tembok sekitar 70 meter, itu jelas sudah cukup untuk membunuh seseorang.