
Sebuah kematian akan datang pada siapapun dan saat itu terjadi tidak akan ada orang yang mencegahnya, Souma tahu betul apa yang dimaksud kalimat tersebut, namun sekarang dia memiliki sebuah harapan bahwa seorang yang dia ingin temui ternyata masih hidup.
Dibilang hidup juga tidak demikian, lebih tepatnya ia telah bereinkarnasi ke dunia berbeda. Fakta bahwa dia kemungkinan besar tidak mengingat Souma juga sesuatu yang tidak bisa diabaikan, walau pun begitu, Souma ingin menemuinya dan di kesempatan ini ia ingin menyelamatkannya.
Historia yang sejak tadi mengikutinya tampak bosan, keduanya telah meninggalkan pesta kemenangan yang seharusnya semua itu menjadi acara penting bagi keduanya.
"Kau benar-benar nekat Souma, terlebih soal rencana seranganmu."
"Apa maksudmu?"
"Biasanya seorang akan memikirkan cara lebih sederhana, dimana seluruh pasukan akan menyerang dari depan, kelompok pertama akan membawa perisai untuk menghalau pemanah dari atas dan kelompok kedua akan memanjat ke atas benteng dengan tali atau tangga untuk menjatuhkan kelompok pemanah tapi kau memilih meracuni makanan mereka kemudian menghancurkan bentengnya, bukannya itu terlalu aneh untuk dikatakan sebuah strategi brilian."
"Yang terpenting hasilnya bukan."
"Itu juga benar tapi caramu berbeda dari yang kebanyakan orang."
Souma tampak memandang jauh seperti seorang veteran perang sebelum menjawabnya.
"Dalam peperangan strategi hanya bagian kecil pendukung saja, kemenangan tetap akan ditentukan seberapa kuat pasukan yang berada di garis depan."
"Apa begitu?"
__ADS_1
Itu mungkin hanya berlaku pada Souma dimana dia sudah terbiasa bertarung satu lawan ribuan orang.
Langkah keduanya berhenti di depan Lilith dan Beatrix yang berdiri selagi membawa seekor kuda pegasus peliharaan Historia.
"Uwaah tungganganku, bukannya dia seharusnya berada di Ibukota."
"Aku meminta Lilith membawanya, dari sini aku akan bekerja sendirian."
"Sendirian? Apa ada yang terjadi?"
Souma telah mengetahui bahwa ibukota sedang diserang oleh gereja Harmonia, Vanitas jelas menggunakan kekacauan yang dilakukan kekaisaran sebagai bagian dari rencananya.
Karena menyangkut kultus Harmonia jelas Souma tidak bisa mengikut sertakan Historia yang berasal dari kultus Eria. Atau kedepannya mereka benar-benar akan saling bertempur hingga menciptakan kebencian di antar keduanya.
"Terima kasih sudah membantu Historia, ini bayaranmu."
Souma memberikan sekantong penuh koin emas padanya, bagaimanapun kau melihat itu bukan jumlah yang sedikit.
"Souma, jika kau bilang begitu aku hanya akan menurutinya."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Berbeda dari sebelumnya, kau terlihat berbeda."
"Aku hanya memiliki banyak orang yang ingin kulindungi," balas Souma santai lalu melanjutkan selagi menaikan bahunya lemas "Setelah ini juga masih banyak yang harus kulakukan, padahal aku hanya seorang penjual obat yang tidak suka bertarung."
"Setelah semua itu, aku ragu mengatakan bahwa kau tidak suka bertarung, pokoknya aku pergi.... lain kali suruh lagi aku jika kau perlu bantuan, aku pasti akan datang ke sana."
"Ah tentu."
Mereka melihat kepergian Historia dari kejauhan.
"Di ibukota pasti Law yang memimpin pertempuran karena itu untuk kalian berdua, tunggu saja di kota Huruhara dan lindungi semua orang dari bahaya."
"Baik tuan."
"Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi tapi aku akan berjuang," tambah Beatrix sebelum akhirnya keduanya menghilang dengan sihir teleportasi.
Souma kini merindukan masa santainya ketika mengelola toko sendirian saat itu ia bisa tidur selama yang dia inginkan dan bekerja jika diperlukan.
Mengenang hal itu juga percuma.
Dia menggunakan sihir teleportasinya dan telah muncul di sebuah kota yang disebut kota naga.
__ADS_1
Tempat tinggal empat naga Crimson yang merupakan keturunan Lugunica sendiri.