Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 138 : Perubahan Dari Desa Ke Kota


__ADS_3

Di kediaman pemilik tanah, Souma dan Madam hanya saling berciuman sepanjang waktu, Madam mendorong tubuhnya melewati sofa dan Souma hanya bisa menjadi penerima dalam gairah tersebut.


Ini bukan keinginan Souma atau lebih tepatnya ini ke arah sebuah serangan yang mengatasnamakan ucapan terima kasih.


Tentu Souma tidak berharap akan melewati batasan karena itu dia hanya memeluk tubuh Madam tanpa melakukan lebih dari seharusnya. Saat dia diberitahu bahwa Souma akan merubah desa ini Madam hanya mengatakan tidak memiliki hal untuk membalasnya karena itulah hal ini terjadi.


Dari awal Souma hanya memikirkan bagaimana cara menyalurkan harta yang diberikan pak tua Jean dan dia sama sekali tidak berniat mengambil alih kekuasaan tertentu.


Setelah banyak momen memalukan terjadi, Madam hanya menenggelamkan kepalanya ke dalam sofa selagi berteriak.


Pakaiannya terlihat tidak pada tempatnya dan rambutnya jelas berantakan.


"Aaah, kau pasti akan mulai mengejekku sebagai janda mesum."


Souma hanya mendesah pelan, jika kau semalu itu dari awal jangan pernah lakukan.


Itu nasihat yang bijak.


Souma perlu perencanaan matang untuk membuat desa ini menjadi kota karena itu dia juga membutuhkan bantuan Madam.


Kembali ke perkerjaan, Madam mulai membawa berkas-berkas yang cukup banyak, itu meliputi wilayah, izin perusahaan serta formulir yang akan diserahkan pada raja.

__ADS_1


Mengubah desa tidakkah semudah mengembalikan telapak tangan itu memiliki tahapan tertentu.


Selagi menunjukan hal itu Madam duduk dipangkuan Souma, itu bukanlah pemandangan yang bisa dilihat oleh banyak orang namun saat Laura muncul keduanya memucat.


"Ugh, putriku sudah pulang... jangan salah paham, aku dan Souma tidak melewati batas apapun."


Souma jelas yang paling memucat, Laura adalah putri Madam dan sepertinya ia telah menyelesaikan sekolahnya di akademi.


"Sungguh, apanya yang tidak melewati batas... pakaian ibu tidak melindungi dadamu, rambutmu acak-acakan juga, dan jelas kalian sudah melakukannya sangat lama, ibu tolong menyingkir."


Madam hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Aku tidak ingat itu."


"Uwaaah."


Souma hanya bisa menerima dirinya telah babak belur selagi ia mengarahkan jarinya untuk menulis pesan terakhir di lantai dengan darahnya.


"Aku dibunuh oleh temanku."


Laura menendang tubuhnya.

__ADS_1


"Bangunlah jangan pura-pura mati, kau tidak akan mati semudah itu."


"Ketahuan kah."


Ketiganya duduk di kursi dengan canggung meski begitu Souma menjelaskan semuanya dengan lancar.


"Lupakan soal kemesuman ibuku, lalu soal desa ini apa kau yakin?"


"Ah iya... desa ini sudah cukup berkembang, semua penduduknya akan terbantu dan kerajaan memiliki pemasukan lebih sebagai pajak kita."


"Jika kau berkata itu apa boleh buat, lagipula kerajaan Diamond sudah semakin luas, desa kita juga harus bisa dipandang oleh kerajaan."


Madam mengangguk mengiyakan walaupun alasannya hanyalah karena Souma memintanya jadi dia tidak akan menolaknya.


Beberapa hari berikutnya setelah izin diberikan pembangunan kota telah dilaksanakan, untuk tembok tinggi diserahkan pada Madam dan putrinya, untuk Naysia bertanggung jawab untuk pembangunan kedua guild petualang dan sisanya dilakukan oleh Souma.


Setiap harinya dia menggunakan sihir khusus untuk membuat menara dungeon, areanya sendiri berada di dekat guild dan setiap harinya dia hanya bisa membuat lima lantai dengan monster di tempatkan di setiap lantai.


Monster ini dibuat dari batu sihir dan ketika dikalahkan itu berubah ke bentuk sedia kala, struktur dungeon sendiri dibuat untuk menyerap energi sihir dari luar, mengubahnya jadi batu sihir kemudian menjadikannya monster kembali hingga jumlah monster tak akan berkurang dan kembali setelah beberapa menit saja.


Ini adalah pekerjaan yang luar biasa yang jelas sangat melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2