
Kepada Souma yang hanya menatap datar, Law bertanya ke arahnya.
"Kau tidak takut mati?"
"Entahlah."
Itu adalah jawaban ambigu.
Souma sudah tidak tahu bagaimana perasaannya soal kematian, ia telah mengalami banyak kematian saat memulai kehidupan di berbagai dunia berbeda, jika dia berniat menghitungnya mungkin sudah mencapai ratusan ribu atau lebih dan di saat yang sama ia akan dibangkitkan oleh sang dewi dan dikembalikan ke dunia sebelumnya, seperti dalam sebuah game saat kau kalah kau akan berakhir di titik save poin terakhir dan dituntut untuk mengulangnya dari awal hingga stage berikutnya. Hanya saja, di kasus Souma memiliki sebuah perbedaan yang signifikan.
Dirinya memang bisa kembali namun orang yang dia lindungi jelas tidak bisa, waktu tidak pernah berputar kembali seperti yang dia inginkan semuanya akan terus berjalan apa adanya.
Beberapa kali ia merasa putus asa namun di waktu bersamaan dia juga ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bertarung tanpa kehilangan apapun sebagai bayaran.
Walau Souma menjadi orang terkuat yang eksistensinya menyamai sang dewi dia bukan pria yang tiba-tiba muncul lalu diberi cheat secara tidak masuk akal yang mana mengalahkan musuh hanya dengan sekali serangan, semuanya memiliki proses di dalamnya.
"Bagaimana denganmu sendiri?"
"Jelas aku takut, bujangan sepertiku banyak memiliki kekhawatiran. Aku belum bayar tagihan ngopi di kedai dan juga belum menemukan cinta sejatiku untuk tidur bersamanya."
Orang ini busuk.
Sebuah bayangan samurai muncul di belakang Souma dengan empat tangan memegang pedang sementara wajahnya tertutup topeng iblis.
Law merasakan sebuah tekanan yang mengerikan dari sana begitu juga Pandora, dia sudah hidup cukup lama dan mengenal penyihir lainnya namun dibandingkan keabnormalan mereka ini pertama kalinya Pandora merasakan sesuatu yang aneh telah mengikisnya dari dalam.
Keringat membasahi wajahnya dan setelah berfikir sekian lama dia akhirnya tahu apa yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
Sensasi yang pernah dia lupakan sejak lama.
Benar.
Itu adalah sebuah ketakutan.
Pandora tertawa dan bergumam.
"Bukan hal aneh jika orang ini membantai penyihir."
Sementara mereka diam para pasukan monster mulai berjalan dengan gerakan sama, mereka bergerak seperti pasukan tentara yang berbaris dan berjalan tanpa kenal rasa takut.
"Ada sekitar 500 ribu monster dan di belakangnya seorang mengendalikannya, bahkan jika kita mengalahkannya monster ini akan menyebar dan merusak beberapa kota dan desa."
"Dengan kata lain kita harus mengalahkan mereka semua Souma."
Souma mengambil sebuah potion yang dia lempar pada Law.
"Itu bisa memulihkan keadaanmu dengan cepat."
"Kalau begitu aku menerimanya, bagaimana denganmu Pandora?"
"Aku akan ikut, untuk sementara pedang ini aku yang akan menggunakannya lagipula kau belum bisa menggunakannya."
"Jika begitu apa yang harus kugunakan aku kesatria pedang loh... Souma berikan pedangmu."
Jelas dia akan menolaknya jika gegabah seluruh benua bisa terbelah jika salah mengayunkannya saja, Souma tahu akan hal itu lagipula pedang yang dipakainya dibuat oleh api dewi Amaterasu.
__ADS_1
"Ugh kau ternyata pelit."
Souma mendesah pelan jika itu perkataan yang dikatakan gadis imut itu terdengar bagus namun kenyataannya tidaklah demikian.
Sebenarnya apa gunanya orang ini di sini jika ini sebuah novel dia tidak memiliki posisi plot khusus, tokoh utama bukan, pembantu bukan figuran juga.
Bahkan tokoh protagonis rom-con brengsek yang dengan senang selalu bilang "Eh? Apa kau mengatakan sesuatu? Saat tokoh utama wanita menyatakan perasaannya juga, bukan.
Yang jelas dia abu-abu, pikir Souma di dalam hati.
"Ngomong-ngomong di mana pasukan pembantu aku tidak melihat mereka datang?"
"Aku mengurung kota dengan sihirku agar hanya kita saja yang bertarung meskipun sebenarnya tadinya aku saja yang sendiri bertarung."
"Kau sudah gila," atas pernyataan Law Souma tersenyum masam.
"Fufu Souma sangat serakah setidaknya biarkan aku juga bermain."
Sementara Souma dan Pandora berlari ke depan, Law masih berdiri kebingungan.
"Bagaimana denganku, aku butuh pedang."
"Kau bisa mengambil pedang musuh," balas Souma kesal.
"Ah benar juga, kenapa aku tidak kepikiran ya? Berangkat."
Ketiganya menerjang ke depan.
__ADS_1