
Selagi menunggu pihak guild mengumpulkan informasi, mereka bertiga duduk di bar selagi memesan beberapa makanan untuk dinikmati.
"Aku pesan ikan, ikan ini dan ikan ini."
"Iya."
"Bukannya dia terlalu banyak memesan ikan"
"Makanan kesukaannya memang ikan bahkan ketika tidur ia selalu mengigau soal ikan."
Ikan di sini sangat langka, terasa aneh bahwa mereka memilikinya dan disajikan untuk pelanggan pikir Souma saat Eris menatapnya dengan mata biru langitnya.
"Dibanding mengomentari pesananku kalian cepatlah memesan sesuatu."
"Aku pesan daging panggang."
"Aku pesan sup saja."
"Saya akan menyiapkannya segera."
Kepergian pelayan digantikan oleh resepsionis guild bernama Ira. Ira adalah staf guild yang sangat berpengalaman, ketika guild master tidak ada di tempat hampir seluruh pekerjaan ia tangani sendirian.
"Ada informasi bahwa makhluk yang kalian cari berada di danau barat, letaknya cukup jauh dari sini."
"Paling tidak kita tahu tempatnya, terima kasih Ira. Bagaimana kau duduk dan memesan sesuatu aku yang bayar."
"Kalau begitu aku menerimanya Souma."
Eris tersenyum lebar.
"Apa aku merasakan benih-benih cinta di antara kalian berdua."
"Eris tidak baik menggoda mereka," Shiji memperingati sementara Ira mengibaskan tangannya.
"Aku tidak suka dengan pria di sampingku ini, dia sangat malas dan juga tidak bisa diandalkan."
"Oi, jangan mengatakannya terlalu jujur," balas Souma tapi Ira tidak terlihat akan menarik perkataannya melainkan menegaskannya dengan ekpresi wajahnya yang yakin.
Eris menopang pipi selagi tersenyum lembut.
"Begitukah."
Shiji yang memasang wajah bermasalah hanya mendesah pelan lalu berkata.
__ADS_1
"Sepertinya kau pria yang unik Souma, Eris cukup sulit ditangani oleh kebanyakan orang, bukan karena dadanya besar aku tidak yakin kelebihannya seperti apa."
Souma menatap dua tonjolan itu selagi mendesah pelan. Bagaimana mereka terbentuk sempurna tidak membuatnya heran.
"Itu memang senjata mematikan."
"Tidak seru... Kau pria yang tidak memiliki nafsu, aku bersimpati denganmu.. dewi itu pasti melakukan sesuatu padamu bukan."
"Yah bukannya bagus jika pria tidak terangsang dengan istri orang," balasnya demikian.
Jika Shiji tidak memberitahunya bahwa Eris adalah dewi dia pasti akan sedikit terkejut, di sisi lain Ira tampak kebingungan dia menekan kan soal dewi dan hal apa yang mereka bicarakan sampai pesanan mereka dihidangkan di atas meja tanpa ada jawaban.
Ira memesan sebuah bubur untuk dirinya.
"Apa kau sedang sakit Ira?"
"Bubur tidak dinikmati hanya orang sakit tapi sesekali aku juga ingin memakannya."
"Benar juga, hampir jarang orang memesan bubur saat mereka sehat soalnya."
Setelah menikmati pesanan mereka, ketiganya berterima kasih pada Ira lalu melanjutkan untuk pergi ke danau yang dimaksud, Shinji menciptakan sebuah gerbang perpindahan di mana ia hanya menyebutkan tempatnya dan mereka telah sampai dalam waktu sekejap.
Itu adalah danau yang luas di mana tidak ada siapapun berada di sekitarnya, beberapa orang diserang oleh makhluk aneh namun tidak ada siapapun yang mencoba mengalahkannya begitulah informasi yang lain yang dikatakan Ira.
"Berjuanglah kalian berdua, aku akan menunggu di sini selagi melihat kalian dengan roti di tanganku."
"Aku kagum Eris bisa santai seperti itu."
"Saat kami melawan monster sangat banyak Eris hanya duduk selagi meminum tehnya."
"Itu keterlaluan, hidupmu pasti kesusahan?"
"Begitulah, dan juga berhentilah mengatakan itu terus menerus," protes Shiji hanya dibalas dengan wajah mengantuk Souma yang sedang menguap.
Keduanya berjalan di atas air tanpa kesulitan.
Shinji mengarahkan tangannya dan itu menciptakan lingkaran sihir cukup besar.
"Hell of the Abyss," bersamaan perkataannya sebuah api besar di tembakan ke dalam permukaan air hingga menciptakan ledakan.
Souma di sebelahnya melakukan hal sama.
"Hellfire."
__ADS_1
Ledakan itu menguapkan air secara perlahan dan seketika makhluk yang di cari mereka muncul ke permukaan, seperti sebelumnya bentuknya menyerupai bola mata dengan kaki tentakel sedangkan bagian atas terpajang dua tanduk.
Monster itu mengirimkan kakinya yang memanjang ke arah keduanya, Shiji berlari ke samping sementara Souma berlari ke arah berbeda, mereka melompat di udara seolah menari-nari sebelum berlari ke depan.
Shiji mengeluarkan pedang dan begitu juga Souma. Mereka menggunakan pedang katana yang sama untuk menebas seluruh tentakel tersebut.
"Hell of the Abyss."
Bam.
Monster itu tak bergeming dengan serangan tersebut, Souma melompat di udara untuk mengayunkan pedangnya dari atas, tubuh yang elastis menahan serangan Souma membuatnya terpental sebelum tentakel itu melilit pinggangnya lalu melemparkannya sejauh mungkin, tubuhnya berguling-guling di permukaan air sebelum menabrak pohon di sisi Eris yang sedang bersantai.
"Kau baik-baik saja."
"Hal seperti ini bukan apa-apa."
Shiji menerima hal sama namun ia lebih dulu mendapatkan serangan listrik di bawah kakinya hingga dia terlempar ke samping keduanya.
"Berada di air cukup menyusahkan, mari buat sedikit ekstrim," ucap Souma kemudian menyentuhkan tangannya membekukan seluruh danau tersebut hingga monster itu terjebak, ia memberikan serangan akhir untuk Shiji.
"Baiklah," balasnya selagi meminum potion yang dia simpan di dalam sihir penyimpanannya, Shiji cukup kelelahan karena harus banyak melewati pertarungan namun berkat potion tersebut dia bisa mengembalikan tenaganya.
Dari awal monster ini satu dari 100 monster yang dikalahkannya.
Dia membuat beberapa bola sihir lalu menyatukannya menjadi satu lalu memadatkannya menjadi bola kecil kemudian menembaknya ke arah monster tersebut dan akhirnya itu menghasilkan ledakan yang menghancurkan seluruh danau dan menciptakan danau yang lebih luas menyerupai sebuah kawah kosong.
Tugas mereka sudah selesai
Eris dan Shiji berpamitan dengan Souma.
"Terima kasih untuk bantuannya."
"Tentu, ini bukan apa-apa."
"Kalau ada kesempatan kami ingin bisa berkunjung ke dunia ini lagi."
"Aku juga merasakan sama, lain kali cobalah tiduri wanita mungkin nafsumu akan kembali."
"Dari awal aku selalu memikirkan ini, apa kau ini benar-benar dewi?"
Eris hanya tertawa kecil dan keduanya menghilang seutuhnya.
Kurang pas jika dibiarkan kawah tersebut kosong jadi Souma mengisinya dengan air sebelum kembali ke rumah.
__ADS_1