Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 339 : Kebrutalan


__ADS_3

Di bawah sinar rembulan, Souma dan Pandora bisa menemukan diri mereka tengah berjalan melewati berbagai bangunan yang disekelilingnya telah sepi seutuhnya.


Ini belum sepenuhnya tengah malam namun kota terlihat benar-benar telah mati, orang-orang menutup rumah mereka rapat-rapat dan para pemilik bisnis seperti pemilik bar, klub dan industri hiburan malam yang seharusnya buka telah menutup diri mereka lebih awal.


Pada akhirnya berita menghilangnya banyak orang telah memberikan dampak besar yang tidak bisa diperkirakan siapapun.


Souma memegangi pedangnya saat merasakan hawa keberadaan yang mendekat padanya, walau dia telah bersedia sosok yang mendatanginya hanyalah seekor kucing saja.


Pandora berkata dari arah berlawanan.


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa, mari coba jalan ke sana."


"Baiklah."


Pandora yang berjalan tanpa mengenakan alas kaki menemukan sesuatu mengejutkan, di tumpukan sampah terdapat seseorang yang terbaring sekarat.


"Kau tak apa?"


Souma mengeluarkan potion lalu mengguyurnya tanpa ragu, hanya dalam hitungan detik lukanya telah disembuhkan.


"Aku masih hidup."


"Jadi bisakah kau memberitahu apa yang terjadi padamu?"


"Sebenarnya."


Setelah mendengarnya, Souma dan Pandora bergegas berlari, kota ini telah melakukan tindakan ceroboh dengan mengumpulkan banyak orang untuk melakukan investigasi terhadap orang-orang yang hilang.

__ADS_1


Pada akhirnya mereka hanya mendekati kematian saja.


Di depan Souma dan Pandora tumpukan mayat yang berubah menjadi seongok daging tampak berserakan, tubuh mereka tercabik-cabik dengan darah yang menggenang di bawahnya, cairan otak yang berceceran bercampur dengan organ perut mereka yang berserakan.


Aroma amis memenuhi seisi udara membawa perasaan tidak enak di hidung serta mulut keduanya, dan lebih dari itu.


Seorang gadis yang selesai mengunyah buruannya keluar selagi menyeringai dengan mata merahnya layaknya hewan buas.


"Aaah, apa itu Pandora?"


"Sudah mencapai batasnya kah, kau tidak bisa mengendalikan tubuhmu lagi Mikela."


"Sepertinya begitu."


"Aku benci mengakuinya tapi Marinna malah lebih baik dibandingkanmu."


Marinna hanya melakukan kegilaan tanpa membunuh siapapun, dalam kasusnya dia hanya akan tidur dengan 100 pria dalam satu waktu.


"Bukannya dia hanya memakan orang-orang berdosa saja?"


"Semua orang pada dasarnya tidak luput dari namanya dosa entah kecil atau besar, Mikela awalnya membunuh orang-orang yang memiliki dosa besar dan sekarang dia membunuh keduanya, dengan kata lain ia bisa dibilang hanya akan membunuh seluruh manusia tanpa pandang bulu."


Souma menarik pedangnya namun Mikela lebih dulu melewatinya.


Yang dia incar adalah keberadaan Pandora, jari kukunya yang tajam merobek wajah Pandora, mengelupasnya hingga tulangnya bisa terlihat jelas.


Pandora tidak tinggal diam, dia menendang perut Mikela, memukulnya di beberapa titik sebelum menendangnya ke samping menghantam bangunan.


"Kau benar-benar merusak wajahku."

__ADS_1


Mikela hendak bangkit dan Pandora menginjak wajahnya hingga ledakan debu menyembur beberapa meter ke udara.


Pandora bisa melihat bahwa kakinya sedang digigit mulut Mikela.


Trak.


Kaki Pandora patah dan termutilasi hingga dia terhuyung ke belakang yang ditahan Souma dengan baik.


"Aaah, kaki penyihir memang lebih enak, seharusnya aku memakan kalian lebih dulu, kalian dipenuhi dosa-dosa yang mengerikan, indah sekali."


"Orang ini pada akhirnya akan memakan dirinya sendiri."


"Membiarkan dia hidup sama dengan membuat dunia ini hancur," kata Pandora lelah.


Pandora segera mendorong Souma menjauh sementara dirinya telah tertembus tangan Mikela.


Ia menarik jantungnya kemudian memakannya. Itu pemandangan mengerikan yang tidak seharusnya dilihat siapapun.


"Apa itu cukup?" pertanyaan itu diarahkan Souma ke arah Pandora yang lain yang berdiri di atas bangunan. Rambut peraknya berkibar di bawah sinar rembulan.


"Tidak, kita harus memberikan makanan yang lebih banyak lagi."


Sekitar ratusan Pandora yang lain mulai melompat ke arah keberadaan Mikela.


Mikela berteriak kegirangan selagi membatai tanpa ampun, dua Pandora menyerangnya dari depan dan di saat yang sama keduanya menyemburkan darah ke udara dari leher yang terbebas.


Empat Pandora masing-masing membawa pipa besi tajam lalu menembuskannya dari segala arah meski demikian Mikela tidak mengalami dampak apapun, dia membunuh mereka lalu mencabut setiap pipa besi di tubuhnya sebelum menyerang kembali.


"Lapar, lapar, lapar... lebih, lebih lebih.... Bunuh, bunuh, bunuh.... makan, makan, makan!"

__ADS_1


Semua yang ditunjukannya sekarang adalah sebuah kegilaan dari penyihir yang disebut sebagai kebrutalan.


__ADS_2