
Law yang menghadapi Lian di luar kota tampak berhenti untuk memperhatikan sebuah gerbang raksasa yang jatuh dari langit.
Gerbang itu terbuka yang mana menampilkan naga-naga yang bermunculan dari dalam sana.
"Gerbang Geonova," pernyataan kecilnya menarik senyuman di wajah Lian yang tak pernah menurunkan suling di depan wajahnya.
"Hebat bukan, dengan itu tidak akan ada yang bisa menghentikan kehancuran kota."
"Kalian benar-benar membuatku muak."
Law melompat sembari mengayunkan pedangnya jatuh ke bawah, tanah di mana Lian sebelumnya berdiri kini hancur berkeping-keping.
"Aku mendengar bahwa Sebastian sudah mati, bukannya berarti kerajaan ini tidak akan bertahan, tanpanya wilayah ini hanya bagian kosong dari sebuah pemerintahan."
"Konyol, negara tidak ditopang oleh satu orang kami semua menopang secara bersama-sama termasuk para penduduk di dalamnya, entah ayahku atau aku mati, kami hanya akan mewariskan jiwa kesatria kami kepada penerus selanjutnya, sementara kau dan kesatria suci lainnya hanya bertarung sebagai budak."
"Kurasa itu memang benar, aku sudah cukup lama hidup di dunia ini.. kalau bisa aku ingin seseorang membunuhku."
"Kalau begitu biarkan aku menebasmu."
"Hal itu tidak mungkin, mana bisa aku mati oleh orang yang lebih lemah dariku."
Pedang Law terayun pada Lian dan sekali lagi dia menahannya dengan suling tersebut dan berkata.
"Magic Creator, Lintas Dunia, Auman Suara Iblis."
Tubuh Lian menghilang dan dalam sekejap Law menyadari bahwa dirinya telah berada di sebuah tempat gelap gulita, tidak ada sedikitpun cahaya bahkan dia tidak bisa melihat dirinya sendiri.
"Kau menggunakan cara kotor."
__ADS_1
"Ini bukan cara kotor, ini adalah bagian dari kekuatanku sendiri."
Sebuah tendangan menerjang pada Law dia terbatuk-batuk sebelum mengayunkan pedangnya secara sembarangan, suara suling terdengar dan di saat yang sama tubuhnya tercabik-cabik oleh tebasan angin.
"Jadi begitu, aku dengar kau tidak pandai menggunakan sihir tapi tak kusangka kau menahan diri untuk tidak menggunakannya."
"Aku tidak perlu menggunakan sesuatu yang aku yakin tidak bisa mengalahkanmu."
"Kau memang benar, sulingku bisa menghisap sihir apapun yang dikeluarkan musuhku... di masa lalu aku telah banyak membunuh orang dengan cara memperkuat diriku melalui sihir musuh."
"Kalian tidak pantas disebut kesatria suci."
"Kesatria suci hanya mengabdikan diri pada Vanitas, saat dia mengambil alih gereja kami berada di sana hal itu tidak ada kaitannya dengan menjadi petugas yang melayani dewi atau sebagainya... kurasa sudah cukup berbicaranya, sekarang sudah waktunya mengakhiri pertarungan ini, auman raja hutan."
Secara tak terduga Law berhasil menghindarinya.
"Ini aneh, apa barusan kebetulan, kalau begitu selanjutnya."
"A-apa yang terjadi padamu?" ucap Lian selagi terbatuk darah.
Ada semacam perubahan di tubuh Law sekarang, mata kirinya berwarna hitam gelap sementara setengah wajahnya telah tertutupi tato api hitam.
"Ini adalah teknik yang sama yang dimiliki Dark Elf, dengan darah iblis mereka," katanya menjelaskan.
"Mustahil? Kau menggunakan hal seperti ini."
Law menarik pedangnya lalu memenggal kepala Lian sebagai serangan akhir, kepalanya jatuh dari sisi tubuhnya.
Beberapa Minggu sebelumnya saat Law berlatih di atas gunung, penyihir rembulan yang mengawasinya dari atas batu sedikit merasa bahwa peningkatan Law terlalu lama.
__ADS_1
Melihat reaksi itu Law bertanya ke arahnya.
"Jika ada sesuatu yang mengganggumu katakan saja."
"Kekuatanmu masih belum cukup kuat, aku bisa membantumu untuk semakin kuat hanya saja mungkin kau tidak akan menjadi manusia lagi."
"Maksudmu?"
"Apa kau tahu tentang sejarah Dark Elf?"
"Di dalam tubuh mereka ada darah iblis."
"Kau punya pengetahuan luas Law, aku pernah bereksperimen tentang iblis jadi saat iblis itu dibunuh oleh ratu peri Symponia aku mengambil darah iblis itu dan mencoba menggunakannya."
"Kau melakukannya?"
"Aah, tapi kupikir iblis itu terlalu lemah jadi aku membuangnya dan pergi ke tempat disebut dunia bawah dimana para iblis berada di dalamnya, aku menantang salah satu raja iblis Asferow dari empat pilar neraka dan mengambil darahnya."
Penyihir rembulan menunjukkan sebuah botol kecil berisi darah hitam yang begitu kental.
"Aku bisa memasukkan darah ini dan membuatmu semakin kuat, tentu saja jika kau setuju, menggunakan kekuatan iblis untuk membunuh iblis lainnya bukannya itu menarik," perkataan penyihir rembulan dibarengi seringai jahat.
Dia yang sebenarnya iblis sesungguhnya.
Sementara penyihir rembulan tersenyum bahagia, Law tampak masam. Dan ketika kematian ayahnya di depan makamnya dia kembali berbicara pada penyihir rembulan.
Tentu makam itu hanya dibuat sebagai peringatan saja, pada dasarnya tubuh Sebastian sudah lenyap bersama seluruh ibukota.
"Nah Pandora, aku akan mengambil kekuatan yang kau tawarkan waktu itu."
__ADS_1
Keheningan terasa diantara keduanya.