
"Nona Serena bilang bahwa ada dua orang yang akan menemuinya, kuharap kalian bisa menerima mereka sebagai tamu," atas pernyataannya semua orang kembali ke rutinitas mereka.
"Kami tertolong."
"Yang barusan aku minta maaf, kalau aku lebih cepat datang kemari hal barusan tidak terjadi."
"Anda memiliki sifat ceria."
"Benarkah."
Souma pikir jika dia tidak menutup matanya maka yang ada di baliknya adalah kecantikan sempurna. Keduanya saling memperkenalkan diri selagi dipandu oleh Salatiga.
"Souma Alchemist kah, apa kamu pernah mendengar kisah dua Alchemist kakak beradik yang mencoba menghidupkan kembali ibunya yang mati namun berakhir gagal dan sebagai balasannya sang kakak kehilangan kaki dan tangan sementara adiknya kehilangan tubuhnya dan harus hidup sementara waktu dalam bentu zirah besi."
"Sepertinya aku pernah mendengarnya."
"Itu kisah yang luar biasa."
Historia memotong.
"Apa kita akan menaiki tangga lagi, bagaimanapun itu cukup melelahkan."
"Haha tentu saja tidak, aku pinjamkan sayap untuk kalian berdua."
Salatiga menjentikkan jarinya masing-masing mereka dua memiliki sepasang sayap sekarang.
"Lihat Souma, aku jadi malaikat."
"Bisa rubah sayapnya jadi hitam saja."
"Aku jadi iblis dong kalau begitu, Souma lebih baik jadi putri duyung dibandingkan malaikat."
__ADS_1
"Yah, aku manusia tidak akan melupakan identitasku."
Salatiga tertawa kecil.
"Kalian sangat akrab, aku hanya bisa memberikan sayap sementara waktu soal lainnya aku tidak bisa melakukanya."
"Sungguh disayangkan."
"Malaikat ini sangat jujur."
"Kau saja yang pendosa di sini."
"Aku ini Arc Priest aku orang yang paling suci di dunia ini."
"Biasanya orang yang merasa seperti itu orang yang sebaliknya."
"Kalau begitu ikuti aku."
Entah Souma atau Historia mereka terbang mengikuti keberadaan dari Salatiga, mereka menuju pulau melayang paling atas yang merupakan pulau paling kecil di antara semuanya, fakta bahwa Salatiga bisa melihat meski ditutup matanya adalah hal yang luar biasa untuk dipikirkan.
Ketiganya mendaratkan kaki dengan selamat dan sepasang sayap pinjaman itu menghilang setelahnya.
"Mari."
Beberapa langkah mereka menemukan seorang wanita berambut pirang dengan gaun putih yang sama, di belakangnya ada enam sayap dan di atas kepalanya tampak mahkota yang dibuat seperti menyerupai daun.
"Kami memberi hormat pada Nona Serena."
"Kau tidak berlutut Souma?"
"Maaf tapi aku tidak melakukan hal itu pada sang dewi, jadi jika aku melakukannya itu sama dengan membuatnya lebih rendah darinya."
__ADS_1
"Perkataanmu sangat berat Souma."
Salatiga tersenyum sementara wanita yang duduk di singgasana menghela nafas panjang.
"Dibandingkan sang dewi jabatanku bukan apa-apa, tapi ia bilang jika aku membantu Souma aku akan dipromosikan jadi dewi reinkarnasi."
Semua orang terkejut.
"Jangan bilang?"
"Beliau yang memberitahukan keadaannya padaku, jadi Souma tak perlu menjelaskannya lagi kami ras malaikat jelas akan membantu."
"Itu bagus Souma."
"Jadi aku sia-sia memikirkan soal negosiasi," teriaknya.
"Tak masalah sekali-kali seperti ini, jalur belakang terasa nyaman juga," balas Historia mengacungkan jempolnya.
"Kau sudah terbiasa dengan ini."
"Yap, jika kau sulit mencari pekerjaan kau bisa mencoba menyogok orang dalam, aku selalu mengatakan itu pada orang yang datang berkosultasi soal pekerjaan."
"Seharusnya kau ditangkap sejak lama Oi."
"Aku tidak melakukan hal jahat."
"Orang jahat selalu mengatakan hal demikian."
Salatiga tertawa.
"Mereka berdua pelawak handal nona Serena."
__ADS_1
"Kupikir begitu."
Souma ingin membantahnya jika dia harus mencuri karakter Law tapi memilih untuk tidak mengatakan apapun lagi.