Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 223 : Kota Tanpa Raja, Omelas


__ADS_3

Lugunica yang telah kembali ke wujudnya sedia kala hanya bisa meminta maaf pada Riel dan Karina yang telah muncul kembali.


Dia benar-benar menghancurkan Sanctuary.


"Yah, tak masalah... paling tidak kita masih hidup lagipula semua peti mati tidak rusak," balas Riel dan Karina juga berfikir demikian.


Peti ini dilindungi oleh sihir dari Sanctuary karena itulah mereka tidak rusak, meski begitu area Sanctuary benar-benar telah berubah total.


Mereka mulai memperbaikinya khususnya Lugunica dan mulai mengisinya kembali dengan peti-peti tersebut, Lugunica sedikit penasaran karenanya dia membuka satu peti dan melihat bahwa di dalamnya ada jasad seorang wanita yang tertidur dengan damai.


Jantungnya tidak berdetak dan tubuhnya sangat dingin, jelas sekali bahwa dia sudah mati meskipun terlihat seperti itu.


"Lugunica?" tegur Riel.


"Maafkan aku, aku hanya ingin melihat."


"Yah tak masalah untukmu... bukannya dia cantik."


"Iya, aku bahkan menyayangkan dia mati di usia muda."

__ADS_1


"Kami juga berfikiran sama," perkataan Riel yang selalu ceria kini terdengar sedikit sedih.


Lugunica menutup kembali peti kemudian memasukannya ke dalam lubang lalu menguburnya kembali, jika dihitung mereka menghabiskan waktu tiga hari untuk melakukannya.


"Setelah perburuan selesai aku akan membangun makan untuk melindungi mereka dan menjaganya bersama Karina."


"Kalian memutuskan akan tinggal di sini."


"Begitulah, kurasa kami lebih baik tinggal di tempat dimana tidak ada orang-orang yang memperlakukan kami layaknya iblis."


Lugunica mengerti hal itu, mereka bercerita bahwa ketika lahir ada beberapa anggota tubuh mereka tidak memiliki daging dan kulit karenanya semua penyihir dalam artian penyihir asli selalu menerima perlakuan mengerikan.


Sejak itu Karina sedikit memiliki kepribadian yang berbeda dari Riel walaupun mereka kembar. Setelah memberikan penghormatan terakhir ketiganya memutuskan untuk keluar dari The Lost Sanctuary, mereka tidak berpindah dengan cara menghilang akan tetapi berjalan masuk ke dalam sebuah gua hingga mereka menemukan bahwa diri mereka keluar dari sebuah sumur tua.


Riel mengulurkan tangannya untuk membantu Lugunica keluar dari sana dan melihat seberapa menakjubkan kota yang dikunjunginya.


Ini adalah kota tanpa raja bernama Omelas, kota di mana semua penduduknya bisa bahagia dan makmur tanpa seorang pemimpin.


Lugunica bisa melihat bagaimana banyak orang yang terlihat berlalu lalang bersama, ada suami istri yang sedang berpergian dengan kereta bayi, anak-anak yang dengan senang berlarian di sekitar trotoar serta para penjual yang ramah yang dengan senang menyapa setiap pembeli dan tak ragu memberikan sedikit dagangan mereka untuk dicicipi.

__ADS_1


Bagaimana Lugunica melihat ini, semua bagaikan sebuah kota dongeng, perlu beberapa waktu untuknya menyadari hal paling penting saat ini, dibandingkan dirinya entah Riel atau Karina sama sekali tidak tersenyum mereka tidak berkata apapun maupun berkata sedikipun, itu ekpresi yang sulit dijelaskan namun memiliki simpati di wajah mereka.


"Kalian berdua, kenapa kalian diam...? Bukannya kalian bilang jika pergi ke sini kita bisa pergi ke kota penyihir lebih cepat."


Mereka bertujuan untuk bergabung dengan penyihir lain untuk menghentikan perburuan penyihir.


"Itu memang benar, tapi sebenarnya Lugunica kami membenci kota ini."


"Apa kalian tidak suka dengan kotanya?"


Karina memilih memalingkan wajahnya dan hanya Riel yang menjawab.


"Kota ini terlihat indah dan makmur, namun semua ini tidak diraih begitu saja selalu ada pengorbanan yang harus dibayar."


"Apa maksudnya?"


Riel menunjuk ke arah sebuah menara di tengah kota, dan saat matanya mengikuti hal itu. Lugunica terdiam.


Di menara itu atau lebih tepatnya di bagian luarnya tampak sebuah tengkorak yang terpajang di sana dengan pakaian compang-camping, itu bukan sebuah hiasan melainkan tengkorak yang benar-benar asli dari tubuh seorang anak kecil. Kedua kaki dan tangannya dipaku sementara jantungnya menancap sebuah belati yang tak pernah berkarat.

__ADS_1


Aura yang ditunjukkan di sana adalah sebuah kesunyian, keheningan, kesepian dan juga sebuah kekejian.


__ADS_2