
Souma menerima cangkir teh dari pemilik rumah lalu menyeruputnya dengan tenang.
"Suka yang besar, jangan bercanda.. kau sama sekali tidak memiliki nafsu sedikitpun bukan... biasanya pria akan jatuh cinta padaku dan mereka mulai menjadi gila tapi kau, Souma. Bagaimana orang sepertimu bisa hidup... entah manusia ataupun elf sepertiku mereka selalu membawa tujuh dosa yang menjadi bawaan setiap makhluk hidup tapi kau sama sekali tidak memiliki satupun dari dosa itu, apa kau benar-benar hidup?"
Souma mendesah pelan.
"Itu menyakitkan saat kau mengatakannya seperti itu.. aku hanya pria biasa yang telah hidup cukup lama dan merangkak dari dasar neraka tidak lebih ataupun kurang, emosi yang kau sebutkan tadi telah kubuang sejak lama tapi tentu aku masih bisa samar-samar merasakannya."
"Kau orang yang menyedihkan."
Menyedihkan dalam arti bahwa Souma selama ini hanya hidup dalam kebohongan. Bertingkah sebagai pria jahat mesum bahkan memerankan peran pedagang serakah, semuanya hanya sandiwara.
"Aku tidak bisa menyangkalnya, tanpa melakukan dosa seseorang kehilangan kesenangannya tapi hidup bukan hanya harus terbawa hawa nafsu bukan, hidup menyenangkan sebagaimana orang itu rasakan."
"Perkataan yang membingungkan, tapi aku senang, mungkin hanya kau saja yang bisa kuajak bicara seperti ini," penyihir rembulan menyeruput tehnya lalu tersenyum kecil yang mana dibalas Souma dengan senyuman kecil juga.
Souma melanjutkan saat dia menjatuhkan dua gula kubus ke dalam minumannya.
"Kita terlihat muda tapi sejujurnya di dalamnya kita hanya kakek-kakek dan nenek-nenek, aku sedikit cemburu dengan orang-orang yang masih muda."
"Aku juga merasa demikian, masa muda memang terasa sangat singkat saat kita hanya fokus untuk menjalaninya dan ketika dewasa kita akan menyesal karena telah banyak melewatkan hal itu, mari sudahi basa-basinya jadi apa yang kau inginkan dariku?"
__ADS_1
"Aku ingin kau melindungi seluruh kerajaan ini dari keempat kerajaan lainnya."
"Kau memintaku untuk menghancurkan mereka semua?"
"Tidak-tidak, aku hanya ingin kau menghalau semua serangan dan membuat mereka putus asa. Sisanya biar putri Celestrial yang melakukannya."
"Ah jadi begitu, kau jatuh cinta padanya."
Souma menghela nafas panjang, dosa darinya memang menghilang namun sisi lain seperti kasih sayang, cinta, pertemanan masihlah berada di dalam tubuhnya. Karena itulah saat dia kehilangan rekan berharganya itu masih menghantuinya sampai sekarang.
"Aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya."
"Aku hanya tidak ingin kerepotan ke depannya lagipula ini juga ide pria itu."
Penyihir rembulan memicingkan matanya dengan senyuman kasar sebelum berhenti menatap Souma.
"Terserahlah jika kau mau menyangkalnya namun kuharap kalian bisa bersama jika itu yang ditakdirkan langit."
"Kau terlalu dramatisir."
Penyihir rembulan yang lain telah berdiri di samping Souma lalu menuangkan teh untuknya.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Ini bukan masalah."
Tidak hanya satu beberapa lagi bermunculan dan mereka mengurusi rumah tangga secara bersama-sama, kekuatan penyihir rembulan memiliki beraneka ragam selain dia bisa membagi jiwanya seribu orang, dia juga memiliki banyak pengetahuan yang dibutuhkan oleh banyak orang.
Souma berkata ke arah lawan bicaranya.
"Lalu apa yang kau inginkan sebagai balasan?"
"Aku ingin masuk ke dalam hutan peri, bisakah kau membawaku ke sana."
"Elf termasuk peri juga, itu aneh jika mereka melarangmu datang ke sana."
Penyihir rembulan menggelengkan kepalanya.
"Akan bagus jika aku memiliki darah murni, sayangnya aku hanya Half-elf darah campuran dari ayahku manusia dan ibuku elf... ibuku berada di sana aku mungkin hanya ingin melihatnya."
Kedua orang tuanya telah meninggal, elf tidaklah abadi seperti kebanyakan orang pikirkan, mereka juga bisa mati hanya saja mereka memiliki umur yang relatif lama.
"Aku mengerti," jawab Souma singkat.
__ADS_1