
"Maaf tentang itu Souma, adikku Jin ini tidak tahu tentangmu, karena serangan kadal bersayap ia harus menjaga kota sendirian."
"Sepertinya aku datang bukan di waktu yang tepat."
"Tidak, ini malah waktu yang tepat Souma seolah tahu bahwa kami dalam kesulitan, akan lebih baik jika Dewa Alchemist bisa menyelesaikan permasalahan kami juga, Jin cepat tundukan kepalamu."
"Maaf soal barusan."
"Tak masalah."
Souma memiliki sebuah masalah yang dibawanya untuk para dark elf di sini tapi dia tidak keberatan untuk membantu juga sebagai timbal balik.
Mereka berempat memasuki kota dan Historia terus melekat pada Nymph dengan memeluknya dari belakang.
"Benar, di tikungan jalan depan ada rumah bordil, bagaimana jika Historia pergi ke sana, di sana gadisnya cukup banyak."
"Kenapa kamu baru mengatakannya, Souma aku akan menyusul besok pagi sampai jumpa."
Historia berlari secepat yang dia bisa lakukan.
"Kau?"
"Aku harus melindungi kesucianku juga."
"Aku sedikit khawatir untuk pekerja di rumah tersebut, mereka pasti akan tutup besok hari karena kelelahan."
"Itu berarti mereka akan punya banyak pemasukan."
Terkadang wanita di sebelahnya bisa berbicara seperti ini, dulu saat Souma menjajalkan obatnya sebelum bertemu Historia, Nymph mengunjunginya untuk membeli beberapa ramuan obat karena itulah dia mengenal tempat ini serta dark elf itu sendiri.
"Mari ke sebelah sini."
Souma dibawa ke sebuah rumah yang jauh dari rumah lainnya, memiliki arsitektur sederhana dengan tanaman Ivy yang menyelubunginya, sama seperti para elf tempat tinggal mereka seutuhnya dibuat dari kayu.
Ketiganya duduk bergaya seiza dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang duduk bersantai di sebuah bantal duduk, dia memiliki mata hitam dengan tahi lalat berada di bawah bibirnya.
Alih-alih memiliki kulit gelap ia memiliki kulit putih yang menyilaukan sebagaimana elf pada umumnya.
Ia mengenakan gaun hijau dengan pola daun serta membawa kipas di tangannya.
"Nymph dan Jin, apa ada yang bisa aku bantu?"
__ADS_1
"Sebenarnya beliau adalah tuan Souma, dewa Alchemist yang dulu pernah membantu kita. Beliau ingin menemui Anda secara langsung."
"Begitu, aku mencium aroma Symponia dari tubuhmu apa kau cukup dekat dengannya."
"Bagaimana mengatakannya ia bilang ingin menikah denganku."
Nymph dan Jin memiliki ekpresi terkejut sama seperti yang ditunjukkan oleh wanita di depan Souma.
"Aku baru mendengarnya, pantas saja Symponia menempelkan aroma yang intim padamu."
"Aku sama sekali tidak tahu soal itu."
Symponia cenderung membenci manusia karenanya cukup aneh ia melakukan itu pada Souma.
"Hanya para peri sepertiku yang bisa tahu, itu seperti untuk menandai miliknya."
Souma merasa hal berbahaya di sana.
Karena masih harus melindungi kota, Nymph dan Jin pamit dan meninggalkan keduanya untuk berbicara empat mata.
Wanita di depan Souma memperkenalkan diri sebagai elf yang bertanggung jawab akan ras dark elf bernama Viyane.
"Aku pikir Nymph pasti sudah memberi tahu kondisi tentang kota ini, jika kamu memiliki sesuatu untuk diminta pada kami kurasa itu akan sulit untuk dilakukan."
"Sepertinya begitu tapi tak masalah untuk berbicara dulu, aku juga akan sedikit membantu memulihkan keadaan."
"Mari kita dengarkan, apa kau menyukai teh."
Dalam waktu singkat Souma telah masuk ke kamar seorang wanita, ia duduk di tempat yang sudah disediakan di mana ada meja kecil tanpa kursi yang diatasnya tersedia cangkir teh.
"Bukannya tempat seperti ini sama sekali tidak cocok untuk digunakan bicara."
"Bagiku cocok saja, tempat ini adalah tempat yang tidak mungkin diganggu siapapun karena itu tempat yang sempurna, ngomong-ngomong kau perlu kamar jadi gunakan tempat tidur itu juga bersamaku nanti."
Souma akhirnya menyadarinya.
Dia sudah dijebak.
"Sekarang Symponia bukannya kau sebaiknya datang kemari.. atau aku akan mencuri kekasihmu di tempat ini."
"Kau suka seenaknya Viyane."
__ADS_1
Melalui sihir teleportasi wanita yang dimaksud muncul begitu saja.
Souma sedikit heran dan Viyane menjelaskan.
"Jika seseorang ditandai oleh kami berdua maka kami bisa terhubung satu sama lain dengannya."
"Jadi selama ini Symponia."
"Maaf Souma, aku mematai-mataimu, aku cukup kesal mengetahui bahwa karyawanmu cukup gigih menggodamu tapi tak masalah poligami diizinkan dan aku mencintai Souma."
Ia melompat untuk memeluknya.
Souma terhantam kenyataan sulit, baru kali ini dia tidak menyadari sesuatu hal seperti itu. Sebelumnya dia menyadari soal kekaisaran yang memantaunya lewat bola sihir tapi sekarang dia kecolongan.
Sesuai yang diharapkan dari pemimpin para peri.
Tanpa sadar Symponia berteriak imut dan Souma baru menyadari bahwa kedua tangannya telah menyentuh dadanya.
"Eh?"
Keduanya saling menatap satu sama lain, bingung.
"Ada apa Souma? Kamu tidak biasanya menyentuhku."
"Tiba-tiba aku merasakan dorongan seksual, ah."
Souma menyadarinya juga, itu jelas bahwa sesuatu yang dia buang telah kembali.
Symponia meneteskan air mata.
"Souma akhirnya sudah dewasa... Ahn, Souma pelan-pelan."
Souma buru-buru menjauh saat dia mulai menikmati kelembutan tersebut lalu duduk dipojokan dengan wajah muram, gemetaran.
"Kenapa dia seperti itu?" tanya Viyane.
"Souma mungkin sudah puber sekarang."
"Itu artinya dia sangat terlambat."
Masalahnya tidak sederhana itu.
__ADS_1