Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 230 : Seorang Pahlawan


__ADS_3

Sementara itu, Risela Lockhart dan Stella Evergarden berlari di jalanan sepi dengan cukup cepat.


Mereka telah membunuh banyak musuh dan meminta prajurit untuk mengevaluasi semua orang ke dekat bangunan milik Souma dimana di sana dipenuhi orang kuat seperti Anna, Scarlett dan juga Lilith.


Itu adalah tempat aman yang memiliki pertahanan tak bisa ditembus.


"Risela?" panggil Stella.


"Aah, aku benci harus terlibat pertarungan saudara meski demikian kita tidak boleh ragu membunuh mereka, hati-hati dengan Magic Creator, dan jika terpaksa aku juga akan menggunakannya."


"Dimengerti."


Sesampainya di persimpangan jalan keduanya mengambil jalan berbeda dengan gerakan yang meninggalkan hentakkan kaki dari keduanya.


Di sepanjang jalan Risela bisa melihat kumpulan mayat dari kedua belah pihak khususnya seorang pria yang berdiri di hadapannya, di mana ia mengenakan seragam merah muda dengan tubuh putih pucat serta topi di atas kepalanya.


Dia tidak sakit atau hal lainnya, semuanya murni karena dia sudah mati dan dipaksa untuk terus hidup.


"Ferdinand Lorenz, sudah lama tak bertemu."


"Risela Lockhart seorang pahlawan kerajaan dan juga kandidat 12 kesatria suci."

__ADS_1


"Itulah aku."


"Meski bisa menggunakan Magic Creator kami tidak membunuhmu karena kau masih berada dari bagian kerajaan, tapi sekarang aku tanpa ragu akan menghabisimu."


"Begitu juga aku, semenjak ada yang salah dengan Vanitas aku memilih untuk tidak berada di gereja Harmonia tak kusangka ketika aku diam hal inilah yang terjadi."


"Aku tidak peduli dengan alasanmu."


Ferdinand menghentakkan kaki, melesat maju ke arah Risela yang bersiaga dengan pedangnya, walau sudah sejak lama dia tidak bertarung karena memilih mengurusi toko Souma, pertarungan pedangnya masihlah sama.


Ujung tombak yang dilesatkan Ferdinand mengikis ujung tajam pedang Risela, sedikit menggores bahunya tapi tidak dalam. Sebelum bisa menusuk tubuhnya Risela menangkisnya ke samping kemudian mempersempit jarak satu langkah ke depan.


Tak hanya berada dalam posisi bertahan Risela kembali membenturkan senjatanya dengan musuh, menciptakan rentetan kilatan percikan api yang dibarengi suara memekikkan telinga.


Ferdinand dipukul mundur sebelum akhirnya Risela juga mengalami hal sama setelah beberapa saat berikutnya.


Pedang Risela mengikis goresan di wajah Ferdinand sebelum akhirnya memberikan dua tebasan beruntun memaksanya untuk mundur.


"Sesuai yang diharapkan dari pahlawan, kau sudah terbiasa bertarung bahkan refleksmu dalam menangkis seranganku memang yang terbaik.


"Meski begitu aku akan puas jika berhasil memenggal kepalamu."

__ADS_1


"Kau terlalu bersemangat."


Meski jantungnya ditusuk Ferdinand sudah lama mati karenanya itu hanya akan sia-sia saja, jalan satu-satunya untuk menghabisinya hanyalah memenggal kepalanya. Itu merupakan titik lemah sekaligus persyaratan untuk membunuhnya.


Walau dia musuh, Risela masih menaruh rasa kasihan padanya bahkan setelah mati dia masih diperalat sampai sejauh ini.


Setelah cukup lama bertarung Risela melompat ke udara untuk menebas dari atas ke bawah, memanfaatkan gravitasi dia memperkuat serangannya dua kali lipat yang mana membuat Ferdinand yang menahannya dengan tombak terbelah jadi dua bagian bersama darahnya yang menyembur ke udara.


Dengan sigap dia melompat mundur sementara pedang Risela menghancurkan tanah pijakannya.


"Hantu masa lalu sebaiknya menghilang saja dari dunia ini."


"Cih... Magic Creator, Lintas Dunia.. U."


Sebelum Ferdinand menyelesaikan perkataannya tebasan pedang Risela telah memenggal kepalanya.


"Mustahil, aku yakin jarak kau dan aku cukup jauh, bagaimana bisa?"


Kematian Ferdinand hanya menyisakan tanda tanya untuknya, tumbuhnya mengelupas ke udara menyisakan tulang sebelum menjadi debu.


"Kalian jelas tidak pantas mendapatkan berkah Dewi Harmonia," ucap Risela sebelum menyarungkan pedangnya kembali untuk berlari ke tempat berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2