
"Yah... ada alasannya kenapa aku abadi, tapi aku akan mengatakannya saat waktunya tepat."
"Jika Souma mengatakan itu aku akan menunggu, benarkan Risela?"
"Um... semua orang selalu memiliki hal yang tidak bisa mereka katakan."
"Kalian berdua."
Erina tersenyum tipis sementara Souma hanya tersenyum masam. Saat festival dimulai Souma duduk di antara para wanita elf yang sesungguhnya sama sekali tidak menjaga jarak darinya. Mereka dengan senang menuangkan minuman untuknya ataupun menyuapinya sebisa yang mereka dapat lakukan.
Kepala desa berkata.
"Tidak ada larangan elf tidak boleh menikahi ras lainnya, jadi tuan Souma tak perlu khawatir poligami juga diizinkan."
"Bukan itu yang kukhawatirkan."
Souma melirik ke arah kedua karyawannya yang sedang menaruh boneka jerami di atas meja untuk mereka tancapkan dengan paku. Aura di sana benar-benar gelap.
Festival dilanjutkan dengan tarian elf dimana para wanita mengenakan baju tipis serta menggerakkan pinggul mereka, semua pria berteriak semangat sementara Souma hanya membeku dengan tatapan ikan mati.
Dia bahkan tidak bisa menunjukkan keterkejutannya.
"Aku baru tahu bahwa elf ternyata seperti ini," dia berfikir bahwa desa elf dan tempat hiburan malam tidak jauh berbeda satu sama lain.
Hari melelahkan memang cepat berlalu.
Di sofa di kediamannya, Souma membaringkan tubuh di sofa sementara Anna dan Risela pergi untuk mandi.
__ADS_1
Souma menarik nafas panjang lalu menutup matanya, ada beberapa tempat yang tidak ingin Souma kunjungi dan sekarang dia memasukan tempat baru dalam kepalanya.
Pagi yang damai di mana udara dingin berganti dengan udara hangat dan sinar matahari tidak terlalu menyilaukan, seorang gadis loli menggebrak meja saat Souma sedang mencoba tidur.
"Souma mana tehku? Aku belum mendapatkannya," yang berteriak itu adalah penyihir yang cukup ditakuti oleh seluruh penduduk desa, seorang yang memiliki sihir ledakan maha dahsyat yang tidak pilih-pilih targetnya bahkan dia akan meledakan sebuah toko jika mereka menolak memberikan diskon padanya.
Orang itu adalah si peminta gratis sekaligus orang bernama Undine.
"Pergi ambil sendiri, masa aku harus menyeduhkanmu tiap hari?"
"Padahal kau senang bisa melihatku setiap hari, apa kau terangsang."
"Aku akan menendangmu keluar."
"Dasar tidak jujur... kalau begitu aku akan menyeduh sendiri mulai sekarang."
"Lakukan saja sepuasmu lagipula sejak awal kau menganggap ini rumahmu juga."
Undine kembali dengan sebuah teh di gelasnya, rasanya sedikit pahit jadi dia mengambil sebotol gula yang berada di dekat Souma.
Atau setidaknya Itulah pikirannya.
Dengan elegan dia meminumnya hingga sensasi manis bisa dirasakan lidahnya.
"Gula ini sangat enak, tak kusangka bisa merubah rasa teh begitu kuat."
"Apa maksudmu dengan gula? Kami kehabisan gula sejak kemarin dan aku malas membelinya lagi."
__ADS_1
Souma bangkit dan menunjukkan ekspresi terkejut saat tahu botol kecil di dekatnya telah lenyap.
"Jangan bilang kau menuangkan botol ini ke dalam tehmu?"
"Apa itu bukan gula?"
"Sudah jelas, itu sebuah ramuan."
"Tubuhku merasa aneh, apa aku akan mati? Tidak... tolong bayarkan hutangku, ini adalah pesan terakhirku."
"Ogah."
"Aku akan mati, kau kejam sekali menolak wasiatku."
Ekpresi sakit Undine terlihat dibuat-buat.
"Biasanya wasiat itu memberikan sesuatu untuk yang hidup ini malah merepotkan."
"Itu namanya warisan bukan wasiat oi."
Souma mendesah pelan lalu menjelaskan.
"Yang kau minum tidak akan membuatmu mati, itu hanya ramuan untuk pertumbuhan pohon, jika manusia meminumnya mungkin kau akan tumbuh jadi wanita dewasa."
"Itu artinya aku bukan loli lagi nanti," tepat saat itu Risela dan Anna muncul dari pintu.
"Kebetulan kalian datang tolong bawa Undine ke kamar salah satu kalian beri pakaian untuknya juga."
__ADS_1
"Pakaian?"
"Aku akan menjelaskannya nanti," kata Souma datar.