Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 37 : Petualangan Para Gadis


__ADS_3

Lulu memerosotkan dirinya ke lantai sementara Anna tampak memiliki ekpresi sulit di wajahnya.


"Apa benar tidak ada apapun untuk mengatasinya Souma?"


"Bukan tidak ada, mereka bisa dianggap seperti monster akan lebih mudah untuk meminta petualang menghabisi semuanya."


Lulu menggelengkan kepalanya.


"Pembayaran untuk petualang pasti mahal, kami tidak memiliki uang cukup untuk menyewa mereka... jika panen berikutnya gagal penduduk desa akan kelaparan."


"Bagaimana kalau biarkan kakak ini membantu."


Souma memegangi bahu Anna untuk menunjukkan wajahnya yang kebingungan.


"Aku?"


"Bawa juga Risela dan Undine jika melawan para belalang itu kalian sudah lebih dari cukup untuk mengatasinya."


"Bagaimana soal tokonya?"


"Aku sudah biasa menjalankan bisnis sendirian jadi tidak masalah."


"Souma, apa Souma sengaja melakukannya agar bisa bersantai di toko."


Souma menggelengkan kepala.


"Aku tidak berfikir begitu, Lulu sudah jauh-jauh datang ke sini.. harus ada seseorang yang membantunya."


"Jika Souma bilang begitu."


"Tapi aku tidak bisa membayar kalian."

__ADS_1


"Jangan khawatir bayar saja dengan uang yang akan digunakan membeli obat."


"Terima kasih banyak."


"Jangan lupa membawa beberapa daging belalang juga kemungkinan kita bisa mendapatkan uang dari guild."


"Kami mengerti."


Souma hanya melihat kepergian mereka dari tempatnya berdiri. Hanya perlu setengah hari untuk sampai di desa dimana desa tersebut berada di kaki gunung dengan pemandangan indah serta sungai yang mengalir tanpa batas.


Biasanya akan ada hamparan ladang hijau sebelum sampai di desa namun seperti yang diduga tidak ada apapun kecuali tanah kosong yang ditumbuhi rumput panjang.


Lulu di gendong di bahu Risela.


Menurutnya sungguh kejam membiarkan gadis kecil pergi sendirian ke toko namun Lulu membantah hal itu. Para penduduk enggan menyuruhnya pergi namun dia memilih untuk pergi sendirian secara diam-diam.


Dengan kata lain uang yang diberikan oleh Lulu merupakan uang miliknya sendiri.


"Aku menyukai desaku, aku tidak ingin mereka pergi ke tempat lain."


"Maksudnya serangganya kan," potong Anna menegaskan.


Dari kejauhan mereka bisa melihat desa yang dimaksud yang hampir seluruhnya merupakan bangunan sederhana menyerupai gubuk-gubuk kecil. Tampak dua orang sedang berdiri gelisah seolah menunggu seseorang.


Ketika mereka melihat Lulu di bahu Risela, keduanya berlari tergesa-gesa.


"Lulu?"


"Ayah, ibu, kenapa ada di luar?"


"Dasar anak nakal kamu tiba-tiba pergi dari rumah dan hanya meninggalkan secarik kertas, ibu sangat khawatir."

__ADS_1


"Tapi aku ingin mencari Dewa Alchemist."


"Tapi mereka para gadis."


"Ceritanya panjang."


"Bukannya anda Risela Lockhart."


"Ah iya, kini aku berkerja di toko Dewa Alchemist... kami datang kemari untuk menangani wabah yang terjadi di desa ini."


Keduanya menundukkan kepalanya.


"Sungguh kehormatan bahwa pahlawan datang ke desa kami."


"Tolong jangan bersikap formal, aku sudah mendengar situasinya dari Lulu bisakah kalian mengantar kami ke kepala desa."


"Dengan senang hati.... Risela cepat turun."


"Jangan khawatir aku tidak keberatan menggendongnya."


Undine menjelaskan.


"Tubuh Risela hampir semuanya adat otot, dia bahkan bisa mengangkat 10 kali lipat dari beban dirinya."


"Siapa yang otot semuanya, aku masih seorang gadis."


"Hai, hai, kalian berdua jangan bertengkar."


Di setiap pertengkaran akan selalu ada Anna yang bisa melerai. Mereka sampai di sebuah rumah kecil di mana seorang pria tua muncul dengan sebuah tongkat di kakinya.


"Kepala desa... mereka datang untuk menyelesaikan masalah kita."

__ADS_1


"Benarkah itu... hueeehh."


Dia menangis tersedu-sedu.


__ADS_2