
Sebuah pukulan mengenai perut Souma saat dia masuk ke dalam kafe, alih-alih bersikap kuat dia akan senang berpura-pura di depan seorang yang melakukannya.
Dia adalah seorang gadis cantik dengan pakaian pelayan serta rambut putih panjang dimana dia memandang Souma dengan senyuman puas akan reaksinya.
"Ini hukuman untukmu Souma, kau baru datang kemari karena itu aku marah."
Noreen namanya, kepribadiannya cukup ceria sehingga bisa berbaur dengan siapapun termasuk Souma yang selalu menunjukkan wajah suram.
"Apa begini kau melayani pelangganmu?"
"Ini layanan khusus Souma," katanya jahil selagi berlutut di depan Souma.
"Pakaian dalammu kelihatan."
"Aku tidak keberatan, lebih dari itu... Apa yang menyenangkan dari bertarung terus menerus?"
"Arti kehidupan bagiku adalah bertambah kuat dan kuat."
"Souma ini masih muda, arti kehidupan bukan hanya itu, suatu hari kau pasti akan tahu bahwa arti kehidupan itu lebih menyenangkan dan indah dan saat kau menemukannya dengan jalanmu sendiri kau akan sangat bahagia," Noreen mengatakan itu selagi mengelus rambut Souma.
Dia berdiri selagi meregangkan tangannya.
"Mari bekerja lagi, aku harus mengumpulkan banyak uang setelah itu aku akan berhenti dari sini dan membuat toko obat milikku."
"Apa boleh aku membantumu?"
"Tentu saja boleh tapi upahnya sedikit."
"Dasar orang pelit."
Souma memegangi kepalanya dengan perasaan aneh menyelimuti dirinya, karena hatinya yang telah kembali ia sesekali mengingat masa lalunya seperti sebuah kilas balik yang cepat.
Dia mengalihkan ke arah dimana tiga orang penyihir masih bertarung satu sama lain, dua orang pengguna sabit dan satu lagi pengguna senjata api.
__ADS_1
Keduanya jelas bertarung seimbang atau sejujurnya Fram memilih untuk membuat kemampuannya sejajar.
Setelah beberapa lama dua penjaga makam tak bisa bergerak kembali dan jatuh selagi terduduk memunggungi.
Fram berkata pada Souma.
"Aku hanya mengantarkanmu kemari, jadi sisanya terserah kau, jika kau ingin tahu semuanya tanyakan saja pada dua wanita ini."
"Kau suka seenaknya," balas Souma lemas.
"Itu kelebihanku, mungkin saat kita bertemu lagi kita akan bertarung satu sama lain."
Fram menghilang dalam sekejap mata, Souma masih tidak tahu alasan sebenarnya yang Fram inginkan hingga membawanya kemari namun begitu, dia yakin selalu ada alasan dari setiap perbuatannya.
Souma mengulurkan tangan ke arah keduanya.
"Kalian tak apa?"
"Karina, ada seorang pria yang mengulurkan tangannya padaku apa itu artinya aku akan menikah."
Souma tidak tahu harus mengatakan apa.
"Jadi apa hubunganmu dengan penyihir Fram?" tanya Karina.
"Kami musuh kurasa."
"Musuh bisa bersama seperti itu, ini hal pertama yang kutahu," ucap Riel kemudian menyelimuti dirinya dengan daging dan tulang meninggalkan kesan tengkorak padanya dan menyisakan wajah cantik dengan rambut pirang serta mata biru.
"Kamu memakai wujudmu."
"Kau harus terlihat menarik di depan pria tampan."
"Bisakah kau tidak menyebutku seperti itu," kata Souma datar sementara Karina juga melakukan hal sama dan ia terlihat seperti Riel yang menandakan mereka kembar.
__ADS_1
"Kamu juga melakukannya."
"Berisik."
"Tak bisa jujur."
"Kalau boleh tahu apa tujuanmu datang kemari, kalau malam ini aku luang koq."
Karina mencekik saudara kembarnya dari belakang.
"Aku benci sikapmu yang genit."
"Tapi biarkan, aku juga wanita."
"Kau?"
Souma masih memiliki keperluan di kekaisaran, dia jelas tidak memiliki banyak waktu untuk terus tetap tinggal di sini.
Dia mencoba memilah-milah pertanyaan yang paling penting.
Sampai akhirnya.
"Anu, apa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa, hanya saja apa yang sebenarnya kalian lindungi di sini?"
"Soal itu di bagian tengah ini ada tubuh asli Lugunica kami di sini untuk menjaganya."
"Riel bodoh, kenapa kau mengatakannya?"
"Ugh salahku."
"Tolong ceritakan semuanya lebih lanjut."
__ADS_1
"Baik," Riel membalasnya dengan senyuman riang sementara di sebelahnya tampak frustasi.