
Seiring waktu jumlah Pandora yang dibunuh semakin banyak, selain Mikela yang berubah menjadi semakin agresif tubuhnya juga kian lama kian berubah, itu tidak mencerminkan sosok manusia lagi melainkan monster yang haus darah.
Kepala Pandora baru saja dipenggal kemudian dia makan dengan lahap.
"Bagaimana sekarang?" tanya Souma.
"Akan kucoba... duduk!"
Dengan perintah mutlak, tubuh Mikela tertarik ke bawah, itu tidak sepenuhnya dalam posisi duduk sesungguhnya.
"Masih kurang, aku pikir aku akan membuat kloning lagi."
"Kita benar-benar menyaksikan pembantai di tempat ini."
Tujuan Pandora sendiri adalah segera menghilang kemanusiaan dari Mikela, jika dia berubah menjadi monster itu akan lebih mudah untuk kutukan Pandora bekerja dengan baik.
Setelah beberapa menit berikutnya Pandora kini telah yakin sepenuhnya, ia meminta kloningnya yang masih hidup untuk mundur sehingga Mikela yang sepenuhnya hanya hewan buas menerjang padanya.
Jika Pandora tidak berhasil Souma akan menebasnya, walaupun dia tidak tahu apa dia bisa membunuhnya atau tidak.
Mikela memiliki kemampuan khusus yang membuat hanya dirinya saja yang bisa membunuhnya, karena itulah kekuatan Pandora dibutuhkan untuk ini.
Saat dia bekerja dengan Vanitas ialah yang berhasil menyergap dewi Harmonia dan mengikatnya di katedral.
"Berhenti!" dengan satu kata itu tubuh Mikela berhenti tepat saat kuku jarinya hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher Pandora.
"Grrrrrrrr."
"Kau sudah berjuang selama ini Mikela, bunuhlah dirimu sendiri."
Mikela menarik jantungnya sendiri kemudian menjatuhkannya tepat di bawah kakinya, ekpresi Mikela merupakan sebuah senyuman kecil namun di dalamnya penuh dengan rasa kesepian.
"Terima kasih Pandora, kini aku bebas."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Mikela telah roboh ke depan Pandora yang menangkapnya dengan erat. Penyihir tidak hanya memiliki hati dingin seperti yang dikatakan orang-orang, walau mereka kejam dan sadis, jauh dari lubuk hati mereka, mereka juga manusia.
Yang membuat mereka seperti ini hanyalah sebuah tidak keberuntungan dari kehidupan dunia ini.
Souma menyarungkan pedangnya lalu berbalik untuk membiarkan Pandora menangis, dia hanya melihat bagaimana matahari baru saja menyelinap keluar dari balik pegunungan sementara di waktu yang sama penduduk desa telah bekerumun untuk memastikan hal yang terjadi.
"Mari bangunan Marinna dan pergi dari sini," gumamnya demikian.
Itu adalah sebuah panti asuhan yang sudah lama tidak dioperasikan semestinya, beberapa kaca tampak pecah serta taman-taman yang jelas sudah terbengkalai.
Di depan sebuah makam yang baru saja selesai dibuat di sana bertuliskan nama Mikela.
Ini adalah bekas panti asuhan yang pernah dijalankan Fram di masa lalu, dan tempat pertama kali seluruh para penyihir diciptakan.
"Mari pergi."
Atas pernyataan Pandora Marinna dan Souma hanya berjalan di belakangnya, mereka telah menemukan informasi keberadaan penyihir kecantikan Sina yaitu sebuah gua yang berada di tengah hutan. Dibandingkan dengan penyihir lain dia tidak menunjukkan ketertarikan akan permusuhan.
"Jadi kalian datang kemari juga," kata seorang yang duduk di atas singgasana yang ditemani seekor ular raksasa di sampingnya.
"Apa dia penyihir mesum lainnya sesudah Marinna?" tanya Souma.
"Yah begitulah, kegilaan penyihir kecantikan hanya menghambur-hamburkan uang, aku yakin segala harta yang dimilikinya sudah digadaikan dan hasilnya ia tinggal di gua."
"Jadi begitu."
"Aku bisa mendengar kalian berdua."
Marinna menjatuhkan bahunya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan padanya? Aku sarankan untuk menghabisinya. Dia terlalu cantik dibandingkan wanita di dunia ini, bahkan aku terkejut bahwa dia masih perawan dengan wajah seperti itu."
"Itu karena dia hanya bergaul dengan ular."
__ADS_1
"Sudah kubilang aku mendengar kalian berdua, berhentilah mengatakan hal buruk tentangku, terutama Marinna."
"Aku?"
"Kecantikan itu adalah kesucian, semua tubuhmu itu sudah kotor."
"Aku merasa kasihan padamu, Pandora juga sudah bukan perawan."
"Seharusnya kau tidak mengatakannya."
Penyihir kecantikan berjongkok dengan wajah muram.
"Pandora yang imut dan polos, ternyata melakukan itu."
Bagi Souma ini pertama kalinya dia tahu ada penyihir seperti ini juga.
Ketika ia mengingat soal pesta teh para penyihir, penyihir kecantikan sedikit lebih elegan dan berwibawa dari yang sekarang ditunjukkan walau begitu Souma tidak melepaskan kewaspadaannya.
Dia memberikan surat kontrak yang ditangani sama dengan dua penyihir lainnya.
"Kalau begitu kita bisa mencari keberadaan penyihir kematian."
"Sebelum itu, apa kau tidak merasa malu bepergian telanjang?"
"Aku tidak apa."
"Aku tidak ingin banyak menarik perhatian, mari pergi dulu ke kota untuk merubah penampilanmu," kata Souma
Mereka menunggangi ular raksasa untuk pergi ke sana, secara perlahan ular itu mulai mengecil kemudian melingkar di leher Sina.
"Mari berbelanja."
Ada pepatah kecantikan sama dengan pemborosan dan Souma merasa hal itu memang benar adanya.
__ADS_1
"Untuk cantik seseorang menghabiskan uang sangat banyak."
"Selamat Souma.. kau akhirnya sudah mengetahui salah satu rahasia dari wanita," ucap Pandora mengejek dan jelas dia tidak merasa senang mendengarnya.