Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 204 : Arah Pertarungan


__ADS_3

Tubuh Nymph terombang-ambing di udara selagi beberapa kali membenturkan dirinya ke setiap bangunan, bahkan ketika dia sudah menggunakan 'Key' untuk bertarung, ia jauh dari kekuatan musuhnya bernama Big Mother.


Dia berputar dengan lutut menekuk lalu dengan sedikit dorongan dia meluncur dengan kuat.


Tangannya terjulur untuk memberikan pukulan sayangnya sebuah gada lebih cepat mengenai perutnya hingga dia memuntahkan darah sampai akhirnya punggungnya menghantam pilar lalu tertimpa puing-puing setelahnya.


"Percuma saja, Mata Rigen bisa melihat semua pergerakanmu, matilah di sini dengan tenang."


Dengan sikap layaknya sebagai pemenang Big Mother harus menelan pil pahit saat sebuah aura kegelapan tiba-tiba muncul dan menghempaskan seluruh puing-puing yang menimpa Nymph.


"Mustahil? Apa kau sudah bisa mengendalikan darah iblis di tubuhmu? Tidak, kau dikendalikan darahnya. Sebelum terjadi hal merepotkan aku akan menghabisimu."


Big Mother secara naluri melesat maju ke arah Nymph yang berdiri kehilangan kesadarannya, tubuhnya bergemeretak bersamaan kegelapan yang membungkusnya.


Tanduk muncul di atas kepalanya disusul taring yang mulai memanjang.


"Mati kau."


Sebelum Big Mother mengakhirinya sebuah tangan telah menghancurkan senjatanya kemudian menembus jantungnya.


"Guakh," darah menyembur dari mulutnya.


"Karena inilah Dark Elf harus diwaspadai."


Tubuh Big Mother meledak menjadi serpihan daging segar sementara Nymph meraung penuh kebencian, Lilith yang merasa keberadaan energi tersebut muncul dari atas tangannya mencengkram kepala Nymph dari belakang kemudian dia jatuhkan ke lantai batu hingga ledakan terjadi.


"Pantas saja aku merasa aura iblis dari kalian Dark Elf, lebih baik kau tenang."


Lilith menambahkan kekuatan di tangannya untuk menekan lebih kuat tubuh Nymph ke tanah, itu menciptakan kawah raksasa hingga Nymph tak sadarkan diri.


"Jika terus berlanjut kau akan membunuh rekanmu sendiri," ucap Lilith demikian mengalihkan pandangan ke depan di mana empat orang telah berdiri di hadapannya.


Lilith menyeringai.


"Sepertinya di pertempuran ini aku yang menjadi incaran bukan."


"Kau sangat berbahaya," ucap salah satunya


"Aku salah satu dari Tujuh Demon Lord Trinity insting kalian sangat kuat namun jika kalian memutuskan untuk bertarung maka aku tidak segan membunuh kalian."


Mereka adalah Opener, Lumpia, Kangkung dan juga Lobster. Namanya membuat Lilith menjadi lapar.


Masing-masing memiliki Rigen 3, 4, 5 dan 6.

__ADS_1


"Majulah."


Lilith melemparkan tubuh Nymph menjauh sementara dia menghadapi ke empatnya dengan tangan kosong.


Hanya perlu waktu 5 menit saja semuanya telah mati.


"Tunggu, jangan bunuh aku."


"Maaf saja, aku tidak sebaik tuan karena itulah mati sana."


Sebuah tebasan memenggal kepalanya merobeknya tanpa ampun seperti seekor mangsa buruan.


Nymph yang telah terbangun hanya bisa menelan ludah akan keterkejutannya, matanya terbelalak dengan rasa takut yang membanjiri seluruh tubuhnya.


"Kau sebenarnya apa?"


"Aku hanya seorang pelayan kau tahu."


Jika Nymph menentang perkataannya dia merasa bahwa dirinya akan dibunuh, yang jelas inilah wujud Lilith sebenarnya seorang raja iblis dengan kemampuan untuk menghancurkan satu dunia dengan tangannya.


"Souma sebenarnya pelayanmu itu apa?" gumam Nymph demikian.


Sementara itu di Yellow Wall, Historia bergerak sendiri, dia menolak melawan pria karena itu dia hanya menghadapi wanita lalu melecehkannya.


"Apa-apaan ini?"


"Jangan khawatir aku akan menikmati kalian secara perlahan."


Dia mengangkangi setiap wanita membuat mereka berteriak kesakitan sampai seorang gadis kecil muncul selagi mendesah pelan.


"Ya ampun, kau ini seekor karnivora kah, kau baru membuat banyak wanita menangis."


"Gadis kecil kah, aku tidak tertarik, pergi sana."


Dia adalah Beatrix.


"Akan kubunuh kau," tepat saat dia mengatakannya dengan mata Rigen garis tujuh seorang lebih dulu memukul Historia membuatnya pingsan.


"Si-siapa?" teriak Beatrix dan sepasang wajah dengan mata naga menatapnya balik, ia mengenakan pakaian pelayan bernama Lilith.


"Apa kau mau bertarung denganku?" katanya dengan mulut berjeruji merobek ke samping.


"Hiiiii..."

__ADS_1


Beatrix ketakutan hingga dia terduduk di lantai selagi mengompol.


"A-aku menyerah."


"Itu bagus, tuan bilang jika wanita ini berbuat aneh aku harus menggantungnya, kurasa di sana tempat yang bagus."


Setelah melilit tubuh Historia dengan tali, Lilith mengikatkannya pada pipa besi lalu melemparkannya ke Yellow Wall dan membiarkannya bergantung di sana.


"Begini lebih baik, meski seperti itu sepertinya dia mengalahkan seluruh pasukan di wilayah ini."


"Kau akan membunuhku?" tanya Beatrix menangis.


"Aku tidak akan melakukan hal itu tapi kurasa kau harus membayar dengan tubuhmu."


"Jangan bilang."


Lilith merubahnya menjadi seorang Maid.


Dalam waktu singkat tingkat kehaluannya menghilang.


"Itu cocok denganmu, mulai sekarang kau akan membantuku membereskan tempat ini."


"Aku dijadikan pegawai paksa."


"Mau mengeluh."


"Tidak."


"Sekarang bersihkan seluruh area ini, dan kumpulkan mayat secara berjajar aku ingin kota ini sedikit lebih bersih."


"Ba-baik."


Lilith kini memiliki asisten.


Lilith mengangkat tangannya dengan mata berbinar.


"Tuan pasti akan bangga padaku."


Nymph yang memperhatikan dari kejauhan memasang wajah rumit.


"Di sisi lain dia iblis mengerikan dan disisi lain dia orang aneh," gumamnya pelan dan bersyukur bahwa dia tidak menjadi korban Historia.


"Eh, di mana aku? Tolong seseorang turunkan aku."

__ADS_1


Dia akan seperti itu untuk sementara waktu.


__ADS_2