Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 165 : Masa Lalu


__ADS_3

Itu adalah waktu di mana ratu iblis Anna menantang seluruh umat manusia melalui invasi besar-besaran. Di saat seluruh harga obat-obatan ataupun ramuan menjadi mahal seorang pria muncul selagi membawa keretanya dan tanpa ragu menjual obat-obatannya secara murah.


Sejak saat itu dia dikenal sebagai dewa Alchemist yang keberadaannya sangat ditunggu di setiap kota yang akan dikunjunginya.


"Semuanya jadi 100.000 Jewel."


"Tunggu sebentar, kenapa harganya jadi mahal, bukannya kau menjual pada orang lain hanya 100 Jewel."


"Biar aku tanya. Apa kau bangsawan?"


"Benar."


"Apa kau punya uang?"


"Tentu saja."


"Karena itulah harganya segitu, aku memasang harga bangsawan untuk obat yang kujual."


"Sial, meski begitu obatmu lebih bagus dari gereja Harmonia, aku akan bayar."


"Terima kasih atas pembeliannya."


Kenyataan sesungguhnya bahwa dewa Alchemist tersebut bukan orang baik seutuhnya, dia merampok uang dari orang-orang kaya untuk menutupi pembelian untuk orang kurang mampu.


Begitu caranya berbisnis untuknya.


Salah satu pria miskin datang beberapa menit saat dewa Alchemist sedang mempersiapkan kembali barang bawaannya.


"Hey Souma...kau sudah mau pergi lagi."


"Para bangsawan menaruh kebencian padaku jadi aku tidak bisa tinggal lama. Apa kau butuh sesuatu?"


"Tidak, aku hanya ingin membayar pembelian kemarin."


"Sudah kubilang tak usah dipikirkan, itu gratis untukmu."


"Meski kau bilang begitu aku."


"Jangan khawatir aku cukup banyak mendapatkan uang dari orang-orang kaya."

__ADS_1


"Kalau begitu aku berterima kasih namun sebagai gantinya aku akan memberikan informasi penting untuk kota yang akan kau kunjungi berikutnya. Sebelum sampai ke sana tolong berhati-hatilah, kudengar ada orang yang selalu menghajar orang-orang yang melintas di jalanan hutan Arpel, para pasukan elit pun dikalahkan dengan mudah."


"Apa jumlah mereka sangat banyak?"


"Tidak, hanya satu orang terlebih dia seorang gadis."


"Heh, begitukah... aku ingin melihatnya sendiri."


Souma naik ke atas kursi pengemudi, berpamitan sebelum memecut tali pengekang kuda untuk kembali bergerak.


Ia telah memasuki kawasan hutan yang dikatakan sebelumnya dan seperti dugaan yang menghalanginya memang seorang gadis dengan pakaian lusuh, dia berdiri tanpa alas kaki.


Ia juga memiliki rambut pirang panjang dengan pakaian lusuh.


"Ini keberuntunganku, ada seorang pedang bodoh melewati wilayah ini, terlebih dia sendirian."


"Jadi kau gadis yang dirumorkan."


Souma turun dari kereta dengan santai lalu berjalan mendekat padanya.


"Aku ini kuat loh, kuperingatkan jangan coba berbuat sesuatu yang ceroboh."


"Kau sangat rendah hati sayangnya aku menolak."


"Kalau begitu terima akibatnya."


Gadis itu menekuk lututnya sebelum melesat dengan kecepatan sonic. Pergerakannya bahkan tidak bisa terlihat dengan mata telanjang seolah dia benar-benar menghilang dari dunia ini.


"Kau sangat berbakat."


Dia muncul di depan wajah Souma yang mengantuk, mengirimkan pukulan yang mampu diblokir baik oleh Souma.


"Sayang sekali aku bisa menahannya."


"Sial."


Gadis tersebut merubah pola serangannya melalui tendangan dan lagi-lagi Souma bisa mengantisipasinya, dia menangkap pergelangannya lalu melemparkannya jauh ke depan hingga gadis tersebut mendarat di permukaan tanah dan sekali lagi melesat maju.


"Kau memiliki potensi bagus, kenapa tidak bergabung sebagai petualang atau pasukan kerajaan?"

__ADS_1


"Aku tidak perlu masuk ke dalam sana, lagipula aku tidak ingin mengabdikan diriku untuk siapapun."


"Begitu."


Souma menangkis setiap serangan tersebut dengan dua tangan kosongnya.


"Selama ini aku hanya hidup sendirian di hutan ini, aku jelas tidak butuh siapapun."


"Kau keras pada dirimu sendiri."


Souma membalas pukulan namun gadis tersebut bisa melompat menghindarinya.


"Gerakan bagus, tapi apa kau bisa menahan kekuatan seperti ini."


Sebelah mata Souma berubah menjadi merah hingga sebuah tekanan mengerikan mendorongnya jatuh ke bawah.


"Ugh, apa-apaan ini?"


Dia ambruk ke bawah sementara Souma duduk selagi mengusap rambut gadis tersebut.


"Aku menyukaimu, sementara waktu ikutlah denganku sampai kau memiliki rumahmu sendiri."


"Jangan bercanda."


"Dibanding tinggal di sini, kau bisa memiliki kehidupan yang lebih baik di tempat lain loh."


"Bagaimana jika aku menolak."


"Aku akan melakukan ini."


"Uwahh... jangan menggelitiku, aku mengerti aku akan ikut."


"Keputusan yang bijak, jadi siapa namamu gadis manis?"


"Apa kau seorang pedofil? Ngomong-ngomong aku suka gadis dibanding pria."


"Tentu saja tidak dan kau baru mengatakan hal mengejutkan, penampilanmu sedikit berantakan mari urus itu juga di kota nanti, ngomong-ngomong siapa namamu?"


"Namaku Historia Hasel."

__ADS_1


"Nama yang bagus, mulai sekarang panggil saja aku Souma."


__ADS_2