Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 145 : Hujan Darah


__ADS_3

Gereja pusat Harmonia, kota Eselon.


Di atas menara katedral seorang pria berdiri di dekat jendela selagi membentangkan tangannya atas pemandangan di depan matanya, ia mengenakan jubah putih serta rambut pirang yang dikenal sebagai uskup agung Vanitas.


"Pemandangan yang indah, semua hal di dunia ini adalah milikku. Benar begitu penyihir pendosa, Mikela."


Yang dia ajak bicara adalah seorang wanita yang hanya duduk di atas meja, ia mengenakan gaun one piece berwarna hijau dengan rambut panjang serupa serta mata bintang. Di tangannya dia dengan senang memakan anggur berwarna cerah tanpa memperdulikan pembicaraan orang di depannya.


"Kau mengabaikan perkataanku, aku terluka loh Mikela."


"Lebih baik kau tidak menyebut nama asliku."


"Dingin seperti biasanya, kudengar Penyihir rembulan, senja, bencana, kasih sayang dan kematian telah terlihat di beberapa kota, untuk penyihir satu lagi hmm aku tidak menemukan jejaknya... namanya penyihir."


"Kalau jadi kau aku tidak akan menyebut namanya."


Vanitas mendorong kacamatanya dengan tatapan kecewa.


"Padahal di antara penyihir namanya paling indah."


"Dia juga yang paling cantik tapi seperti yang kita tahu keindahan dunia terkadang bisa membunuh siapapun yang mengaguminya."


"Jadi apa dari sekarang kau akan berhenti membantuku lagi?"


"Aah, aku sudah tidak tertarik membantumu, dari awal aku memang hanya ingin bersenang-senang saja."


"Haha sulit sekali menebak sifat kalian penyihir, padahal akulah yang membuat perburuan penyihir itu terjadi."


Mikela melompat lalu berjalan pergi.


"Biar aku berikan satu ramalan sebelum aku pergi, kehancuranmu sudah dekat."


"Hal itu tidak akan terjadi, aku adalah orang yang bisa mengubah takdirku sendiri."


Mulut Mikela merobek ke arah telinga menampilkan gigi berjeruji layaknya iblis.

__ADS_1


"Menarik, aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya."


***


Krak.


Hantaman membuat bahu Scarlett bergeser, saat dia kehilangan fokusnya, tangan, kaki, dan tubuhnya telah terpotong-potong oleh Centarus dari jarak cukup jauh.


Pedang di tangannya menembakan panah yang membuat hal ini terjadi. Dalam waktu singkat tubuh Scarlett menyatu kembali.


"Yang barusan kejam sekali, Souma dia memotong-motongku."


"Aku bisa melihat itu, cepat selesaikan aku tidak cukup banyak waktu untuk ini."


"Dingin sekali."


"Aku tidak pernah menyangka tubuh vampir bisa seperti itu, apa kau leluhurnya."


"Bisa dibilang begitu."


"Serangan seperti ini tidak akan mengalahkanku."


"Menurutmu begitu."


Ketika pedang itu melewatinya, tubuh Scarlett berpindah tempat dengan senjatanya.


"Apa?"


"Sudah berakhir, hujan darah."


Scarlett meletakan tangannya dan selanjutnya tubuh Centarus meledak ke udara dan hanya menyisakan darah hitam yang mengental.


"Pakaianku jadi kotor, karena inilah aku benci mengunakannya."


"Kerja bagus Scarlett, sekarang ke tempat selanjutnya."

__ADS_1


"Muu.. biarkan aku istirahat sebentar, paling tidak biarkan aku mandi dulu."


"Kurasa begitu, jangan menempel padaku."


"Fufu."


Souma melebarkan peta di tanah selagi menandai pergerakan musuh yang harus dia hadapi, ia juga menandai penggerakan Anna untuk memastikan semua hal berjalan dengan cepat untuk Scarlett dia sedang membersihkan tubuhnya di sebuah danau yang hampir mengering.


"Apa menurutmu Anna akan terjebak dengan perangkap itu?"


"Entahlah, tapi paling tidak dia tidak akan membunuh orang-orang yang berada di dalam daftar meskipun dia menangkapnya, dari sini kita akan masuk ke dalam kawasan gurun pasir sayang sekali tidak ada apapun yang bisa kita bawa."


"Bukannya itu berbahaya, aku tidak ingin berlama-lama di tempat seperti itu."


"Aku akan memanggil sesuatu yang bisa membantu kita."


Souma melukai tangannya dan setetes darahnya yang jatuh di tanah menciptakan lingkaran sihir merah. Selanjutnya dari sana seorang wanita dengan pakaian pelayan serta tanduk di atas kepalanya muncul, ia memiliki rambut ungu sebahu dengan mata yang sama.


"Siapa dia?"


"Namanya Lilith, dia seorang High Demon."


"Saya siap melayani anda, tuanku."


"Aku merasakan hawa yang sangat berbahaya."


"Itu wajar karena dia raja iblis dari dunia lain."


Keheningan terasa diantara keduanya.


"Ra-raja iblis? Bukannya dia lebih kuat."


"Benarkah, aku tidak tahu tapi bagiku raja iblis di dunia ini yang terlalu lemah. Jika dibandingkan, kekuatan Lilith setara dengan 10 raja iblis."


"Souma kau benar-benar mengerikan."

__ADS_1


__ADS_2