Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 48 : Komandan Kesatria


__ADS_3

Tapi lebih dari itu Souma bisa bersantai beberapa hari di istana, maunya seperti itu sebelum seseorang muncul untuk menghunuskan tantangan padanya.


"Souma, aku menantangmu untuk bertarung."


Seorang pria berambut pirang berkata demikian saat Souma sedang menikmati tehnya di perkarangan istana, Souma mengerenyitkan alisnya dan mencoba untuk tidak terpengaruh atau menciptakan hal yang membuat sebuah Flag.


"Lu denger gak."


" Hari ini cuaca cerah sekali."


"Bodo amat, emang lu berasal dari sekolah bangsawan yang suka berbicara hal sama setiap paginya."


Souma mendesah pelan dan mencoba untuk mengabaikannya, yang berdiri di depannya adalah komandan pasukan kesatria kerajaan bernama Lawyer van Hoster Ia memiliki nama keluarga sama dengan Sebastian dengan kata lain dialah putranya.


Ia cukup tampan dengan hidung mancung serta mata berwarna biru cerah, banyak orang yang mengaguminya namun bagi Souma dia hanya orang yang suka pamer pada orang lain dan menantang banyak orang untuk mendapatkan sedikit pujian.


Kemarin Souma telah menghabiskan malamnya dengan jamuan mewah dan sekarang ketika dia mendapatkan ketenangannya, pengganggu akan selalu muncul di manapun dia berada.


"Dengar Law, aku ini tidak ada waktu untuk melayanimu... kau lihat aku ini lemah, aku hanya penjual obat keliling yang menawarkan harga mahal untuk obat murah."


Itu adalah skema dari pedagang brengsek yang serakah.


"Tapi kudengar kau mengalahkan anggota sayap kebebasan seorang diri."


"Itu hanya rumor, pria sepertiku mana mungkin.. di istana ini aku hanya bisa menggoda tuan putri memang kau percaya hal begitu dengan mudahnya."


"Memang benar, jika dipikirkan pria yang hanya bisa mengintip rok wanita mana mungkin terlihat kuat."


Souma memiliki ekpresi sulit diwajahnya untuk mendapatkan citra buruk dia memang selalu melakukannya, dia ingat bagaimana seluruh pelayan mengoroyoknya sampai bonyok.

__ADS_1


Dan sekarang mereka masih menatapnya dengan pandangan curiga. Lawyer duduk di depan Souma lalu menuangkan teh untuknya sendiri.


"Kudengar keempat kerajaan dalang dari percobaan pembunuhan anggota kerajaan, berkat Seril yang kita tahan dia membocorkan banyak rahasia."


"Rahasia seperti apa itu?"


"Memangnya gue bakal bilang pada lu."


Souma mengerenyitkan alisnya di mana terlintas niat membunuh juga di dalam benaknya.


Tenang Souma, tenangkan dirimu, pria ini hanya sekelas lalat di atas kotoran tidak lebih, ucapnya dalam hati sebelum membalas dengan santai.


"Kau menyebalkan sekali, paling tidak aku pikir itu seperti kita yang memiliki tambang emas paling besar atau tanah subur yang diinginkan keempatnya."


"Aku terkejut dengan kesimpulanmu, itu memang benar... setiap kerajaan hanya berfikir untuk memperluas kerajaan mereka, dengan menikahkan penerus mereka itu adalah cara yang baik untuk mempersatukan satu atau dua negara, sayangnya seperti kita tahu bahwa putri Celestrial berniat untuk perawan seumur hidup."


"Oi, perkataanmu cukup tak bermoral di sana... itu terdengar seperti pelecehan verbal."


"Kau akan dihukum mati jika dia mendengarnya."


Lawyer melirik ke sana kemari lalu menghela nafas panjang, Lawyer memiliki kepribadian berbeda dengan ayahnya dia seperti kesatria gagah pada umumnya namun sejujurnya dia hanya orang yang biasa yang bisa kau temukan di manapun kau berada dan keahliannya adalah melawak.


Souma menyeruput tehnya lalu berkata.


"Apa peperangan akan dimulai?"


"Aah, aku tidak ingin merusak kedamaian yang kita sudah dapatkan setelah mengalahkan ratu iblis sayangnya hal itu tak bisa dipungkiri lagi. Mulai sekarang kita akan berperang secara terang-terangan, nona Laura von Arslem telah ditempatkan di luar ibukota untuk berjaga."


Laura adalah putri madam di desa huru hara yang Souma tinggali, setahunya dia hanya siswa akademi.

__ADS_1


Saat Souma menanyakannya Laura sebenarnya telah melebihi siswa di sekolahnya, dia adalah harapan kerajaan di masa depan.


"Begitu."


"Jujur jika empat kerajaan menyerang kota secara serempak, hanya menunggu waktu sampai semuanya kalah... aku berharap penyihir rembulan bisa membantu."


"Kau mencoba membujuknya?" Souma terkejut dengan itu.


"Banyak kejahatan yang telah diperbuat tapi itu semua murni hanya pertahanan dirinya saat beberapa orang mengganggunya dia akan membalas seperti memberikan kutukan atau hal lainnya, dengan kekuatannya dia mungkin bisa menyelamatkan kerajaan ini."


Souma tidak ingin ikut berperang tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keselamatan kerajaan ini, jika ada seseorang yang mampu menggantikannya untuk bertarung itu akan jauh lebih baik.


Maka dari itu pada siang hari Souma mengetuk kediaman penyihir rembulan dengan pelan yang berada di perbukitan tinggi.


"Siapa yah, mohon tunggu sebentar."


Ketika pintu dibuka seorang gadis kecil berdiri di depan Souma, ia memiliki rambut perak panjang dengan gaun putih berenda, ia memiliki telinga elf dan terkesan seperti anak kelas tiga sekolah dasar. Meski begitu jika seseorang mencari kecantikan sempurna maka dia adalah orangnya.


Karena keabadian yang dimilikinya ia tidak bisa tumbuh seperti gadis pada umumnya.


"Lama tak bertemu."


"Ayanokyojin Souma kah, kupikir kau tidak akan datang kemari lagi.. terakhir kali kau mengeluh soal pria tua Jean yang terkena kutukanku."


Souma ingat bagaimana dia hanya bisa berdiri di luar pintu.


"Sulit untuk bilang bahwa aku tidak mengenalmu, boleh aku masuk."


"Jika kau bukan Lolicon maka aku mengizinkanmu."

__ADS_1


"Jangan khawatir aku suka yang besar."


__ADS_2