Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 26 : Mansion Mewah Di Desa


__ADS_3

"Rumahnya sangat besar ya, Souma."


"Tentu."


"Lantainya sangat bagus."


"Tentu."


"Lukisannya juga terlihat mahal."


"Tentu."


"Bisakah kau mengatakan hal lain selain tentu?"


"Tentu."


"Kau membuatku kesal Oi."


"Harusnya ini menjadi momen menegangkan, aku berusaha untuk tidak melawak saat ini."


"Menegangkan pala lu, ini bukan rumah hantu... ini mansion loh, mansion," balas Undine.


"Fufu apa kau tidak tahu tentang mansion besar, 100 persen lebih sering dikunjungi hantu."


"Han-tu? Tiba-tiba saja aku merinding...kenapa begitu?"


"Yah, hantu juga kupikir lebih senang berada di rumah mewah dibanding rumah kecil."


"Dengan kata lain di dunia ini tidak ada hantu miskin."


"Yah dari awal memang tidak ada, yang ada hantu numpang... mereka numpang tidur di kuburan, di rumah orang, bahkan lebih buruk mereka tidak bayar pajak."


"Apa?"


Pelayan yang berjalan di depan keduanya hanya memasang wajah bermasalah.


"Kalau di sini ada hantu aku ingin pulang, hey Souma pulang yuk."


"Meskipun kita baru datang, setidaknya kita harus minum dulu sebelum pulang."

__ADS_1


"Kalau minumannya tidak enak gue bakal ngamuk."


"Kalian berdua tolong berhenti bercanda, tuanku mungkin akan sedih jika mendengarnya."


"Apa aku telah menghinanya?" tanya Souma.


"Sudah jelas kau bilang rumah besar berhantu," teriak Undine.


"Itu bukan maksudku."


Sang pelayan menghela nafas lalu membuka pintu ruangan utama untuk membiarkan keduanya masuk.


Saat mereka melangkahkan kaki mereka, keduanya melihat pak tua Jean yang sedang berdiri selagi menengok ke arah jendela.


"Tuan Souma sudah datang, terima kasih sudah mau repot-repot menemuiku di jam sibuk."


"Tak masalah, dari tadi pagi aku telah sibuk membuat obat... jadi ada yang bisa kubantu?"


Undine di sebelah Souma mengernyitkan alisnya, dia sangat yakin Souma hanya bermalas-malasan sepanjang waktu.


Pak tuan Jean terdiam sejenak lalu melanjutkan.


"Mana mungkin, bukannya Anda terlihat sehat-sehat saja... lagipula anda panjang umur."


"Tidak, aku mempunyai penyakit yang tidak bisa disembuhkan... aku pikir aku ingin menyerahkan seluruh harta serta 100 pelayan di rumah ini padamu."


Souma terbelalak terkejut begitu juga Undine yang hanya diam membeku.


"Tunggu, tunggu sebentar... aku tidak bisa menerima hal seperti itu, aku hanya penjual obat sederhana di desa ini hanya itu."


"Anggap saja ini balasan karena telah membantu banyak orang terutama pak tua ini."


Souma membuka mulutnya.


"Memangnya penyakit apa yang pak tua Jean miliki, aku yakin semua penyakit selalu ada obatnya."


"Dibilang penyakit mungkin ini lebih mirip kutukan... saat muda dulu aku bertemu dengan penyihir, dia mengirimkan sihir hitam yang membuat tubuhku kesakitan dan sekarang kurasa ini akhirnya."


Pak tua Jean terhuyung ke depan yang mana ditangkap baik oleh Souma.

__ADS_1


"Apa dia mati?" tanya Undine sementara Souma mengecek pernapasannya.


"Dia masih hidup namun detak jantungnya lemah, bisakah kau memanggil para pelayannya.


"Tentu."


"Apa kau bisa membantuku dulu membaringkannya di tempat tidur."


"Tentu."


"Bisakah kau berbicara selain tentu?"


"Harusnya ini menjadi momen menegangkan, aku berusaha untuk tidak melawak saat ini."


"Jangan meniruku," teriak Souma.


"Akan kupanggil sekarang, tapi setelah aku pergi ke toilet."


"Kau?"


Souma hanya melihat kepergian Undine dari pintu yang tertutup. Setelah beberapa menit berlalu para pelayan masuk sementara Souma terduduk di kursi dengan wajah pucat.


"Tidak mungkin."


Para pelayan menangis hingga Undine berjalan ke dekat Souma.


"Sudah terlambat yah... kuatkan dirimu Souma."


"Aku tidak kuat, dari tadi aku juga ingin ke toilet."


"Kau? Lalu bagaimana dengan pak tua Jean?"


"Yah dia masih hidup."


Para pelayan tampak memegangi lengan mereka penuh amarah.


"Kenapa kalian? Aku harus ke toilet."


"Toiletnya ada di bawah tangga," kata Undine datar.

__ADS_1


__ADS_2