
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa sebaiknya kita pergi dari sini," atas pernyataan Sebastian, Souma menolaknya.
"Mereka akan jauh lebih mudah membunuh kalian berdua, aku pikir aku sendiri yang akan menghadapinya."
"Souma?"
Anna tampak terkejut dengan ucapan Souma, sejauh ini dia tahu bahwa Souma tidak ingin bertarung bahkan saat insiden para monster keluar dari dungeon, ada beberapa situasi yang memaksanya untuk bergerak tapi sekarang dia dengan senang hati mengajukan dirinya.
Mata Sebastian terbelalak sama halnya dengan putri Celestrial.
"Bukannya kau sangat lemah."
"Tentu aku sangat lemah tapi aku memiliki urusan dengan orang-orang ini, besar kemungkinan orang yang menyerang Celestrial adalah organisasi itu."
Mendengar itu sekilas ingatan Celestrial muncul ke permukaan, saat itu dia memanggil empat pahlawan dari dunia lain. Untuk Souma dan Risela mereka adalah pengecualian tapi untuk kedua orang lagi mereka adalah orang yang sangat bekerja keras dalam pertarungan.
Suatu hari kedua pria itu mendapatkan tugas untuk pergi ke desa demi melindungi salah satu orang terpenting di sana, sayangnya mereka dinyatakan tewas dan orang yang membunuhnya adalah organisasi yang disebut sebagai Sayap Kebebasan, berbeda dari Orleans mereka bekerja demi uang sebagai pembunuh bayaran.
Souma memunculkan sebuah katana ke tangannya sebelum melangkah pergi.
"Apa sebaiknya aku juga membantu?"
__ADS_1
Souma menggelengkan kepalanya, Anna mungkin perlu mengeluarkan kekuatan sesungguhnya dalam pertarungan ini jika ia menunjukannya itu sama halnya dengan membongkar begitu saja identitasnya ke publik.
Setelah kepergian Souma Anna mengepalkan tangannya bersemangat.
"Mari tutup toko ini sebentar, aku sejujurnya ingin melihat bagaimana Souma bertarung."
Sama seperti Anna yang penasaran, kedua lainnya jelas merasakan hal sama, bagaimana seorang yang dikenal lemah bisa berbicara seperti itu tanpa kenal rasa takut.
Itu memunculkan beberapa pertanyaan yang patut mendapat jawabannya.
Souma menyadari bahwa dia sedang diikuti tapi dia memutuskan untuk tak peduli dan berdiri di depan desa selagi menunggu kemunculan orang yang berbahaya.
Tak lama kemudian sosok dua orang berjalan maju, wanita dengan busur dan satu lagi pria dengan pakaian pelayan.
"Dialah orang yang menangkap panahku."
"Jadi dia, sepertinya dia kuat... mungkinkah dia seorang pahlawan."
"Kupikir begitu Alves, coba lihat pedang di tangannya.. itu sama seperti pedang yang digunakan dua pahlawan itu."
"Aku tidak mengingat orang-orang yang telah kubunuh Seril."
__ADS_1
"Sayang sekali, padahal saat itu keduanya berteriak dan meminta ampun... mereka bilang mereka hanya ingin hidup di dunia ini."
"Ketika kau mengatakan itu aku sedikit samar-samar mengingatnya.. bagaimana mereka menangis."
"Haha benar, mereka tidak seperti pahlawan sangat menyedihkan."
Ketika keduanya melihat Souma tubuh mereka terdiam, mata Souma yang beberapa saat terlihat biasa kini telah berubah menjadi gelap gulita dengan pupil berwarna merah terang.
Itu hanya sesaat sebelum dia kembali ke sedia kala.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menunjukkan hal barusan....apa aku menyela pembicaraan kalian," katanya santai.
Kaki keduanya tampak gemetaran, normalnya mereka akan melarikan diri tapi jika itu menyangkut Sayap Kebebasan mereka malah jauh lebih bersemangat.
"Alves."
"Aah."
"Akhirnya ada lawan yang kuat untuk dihadapi."
"Benar sekali Seril, kita bunuh dia."
__ADS_1
Alves melesat maju sementara Seril mendukung dari belakang selagi menarik busurnya.
Alves memiliki kekuatan dan kecepatan dibanding rata-rata manusia hanya dengan tangan kosong dia mampu menyerang seseorang dengan mudahnya.