Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 336 : Penyihir Senja


__ADS_3

Berbeda dari saat itu, pembantaian di sini lebih kejam serta orang yang melakukannya hanyalah satu orang yaitu penyihir senja, Mia.


Mia memiliki rambut hitam sepinggul dengan gaun terusan ketat serta sarung tangan hitam untuk membungkus lengannya.


Menyadari kedatangan ketiganya dia membuang mayat di tangannya sebelum beralih menatap mereka.


"Souma dan dua penyihir kah, apa kalian berdua berpihak padanya."


Melihat Mia, Souma tahu bahwa dia harus menghilangkan kekuatannya apapun yang terjadi.


Pandora membalas dengan menaikkan bahunya.


"Banyak hal yang terjadi jadi sebaiknya kau menyerah."


"Menyerah, tidak ada dalam kamusku kau tahu."


"Kita harus memaksanya," potong Marinna.


"Marinna kau sepertinya sudah cukup berani padaku."


Marinna segera bersembunyi di belakang Pandora.

__ADS_1


"Kami bertiga kamu sendirian."


"Melawan tiga orang sekaligus bukan hal sulit untukku."


Souma menghela nafas panjang lalu melanjutkan.


"Jadi kenapa kau membunuh semua orang ini, bukannya orang-orang di sini menyukai kedamaian."


"Kedamaian kah, apa kau melihat sesuatu di atas menara itu?"


Souma memperhatikan bahwa ada jasad tengkorak anak kecil yang digantung di sana.


"Sebelum aku bertemu penyihir lainnya aku tinggal di sini bersama adikku, kami tidak memiliki orang tua dan hanya hidup dengan mengais-ngais sisa makanan, kota ini tidaklah seperti kota pada umumnya, apa menurut kalian kota ini bisa mendapatkan kedamaian bagai dongeng tanpa menyerahkan pengorbanan."


"Kedamaian di kota ini tidak diraih oleh apapun, di tempat ini tidak ada penguasa, raja ataupun pemimpin lalu kenapa sampai sekarang mereka masih bertahan, itu karena setiap tiga bulan mereka harus memberikan tumbal manusia, itulah yang disebut sebagai Omelas, lebih buruknya mereka menggunakan turis dan orang-orang dari luar kota saja sebagai persembahan."


"Dengan kata lain adikmu juga ditumbalkan."


"Aah, tadinya mereka juga ingin menumbalkanku tapi aku berhasil melarikan diri, aku dikurung di penjara bawah tanah dan hanya diberikan makan satu hari satu kali."


"Dari awal aku juga merasa aneh dengan kota ini," tambah Pandora sebelum Mia melanjutkan.

__ADS_1


"Orang-orang ini memuja sosok Leviathan, makhluk itu memberikan harta, perlindungan dan juga apapun yang dibutuhkan demi keberlangsungan kota ini, saat itu aku menemukan tubuh adikku lalu menggantungnya di sana sebagai bukti bahwa aku akan datang kemari lagi untuk membalas dendam."


Sebuah guncangan dirasakan mereka berempat, dari kejauhan sebuah ombak naik beberapa ratus meter ke udara layaknya sebuah gelombang tsunami.


Marinna dan Pandora melompat pada Souma untuk memeluknya kemudian Souma melompat menggunakan lingkaran sihir yang dibuatnya ke udara.


Untuk penyihir senja dia menyelimuti dirinya dengan kotak besi yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya, dari atas bisa terlihat jelas bagaimana ombak itu menyapu keseluruhan kota dengan warna biru dan dari sana seekor kepala buaya muncul ke atas lalu naik semakin tinggi.


Dia memiliki tubuh layaknya ular dengan puluhan tangan di tubuhnya.


"Jadi itu yang dinamakan Leviathan?"


"Tidak salah lagi," balas Pandora pada Souma.


Leviathan membuka mulutnya.


"Kalian membunuh semua pengikutku sayang sekali padahal mereka adalah orang-orang yang rajin memberikan persembahan, tapi biarlah aku bisa mencari kota lain dan membuat tempat yang baru seperti ini lagi."


"Kau terlalu percaya diri tentang itu."


Souma mendaratkan kakinya ke permukaan air dan membiarkan Pandora dan Marinna turun, penyihir senja juga turut muncul selagi menatap dengan wajah permusuhan.

__ADS_1


"Dari awal memang kaulah targetnya, terima kasih sudah muncul dan sekarang matilah."


__ADS_2