
Meski Fram meminta keduanya memilih, buku itu tidak memiliki sampul bergambar atau petunjuk yang membedakannya, semuanya murni hanya buku hitam tanpa apapun.
Pandora memilih satu lalu disusul Altina sampai suara lain terdengar dari pintu yang tertutup.
"Kalian sedang melakukan hal menyenangkan, kalau begitu aku juga ikut loh."
Suara itu mulai membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Yang menunjukkan ketertarikan hanyalah Fram yang duduk di kursinya.
"Ara, apa kau ingin memilih juga, Mia?"
Mia mengenakan gaun terusan dan senang memakai sarung tangan, rambutnya yang berwarna hitam ia biarkan terurai begitu saja.
"Tentu saja, jika aku memiliki kekuatan dari buku itu aku bisa melakukan hobi yang menyenangkan bukan."
"Dan apa hobimu?"
"Tentu saja melihat orang lain saling membunuh."
Mia berjalan dengan santai selagi menjelaskan.
"Dulu aku hidup di rumah yang menyenangkan, kedua orang tuaku sangat hidup rukun namun semua itu hanya topeng saja, ayahku selalu berselingkuh dan ibuku menjalani bisnis penjualan orang, suatu hari aku menemukan ayahku berselingkuh jadi saat itu aku mengatakannya pada ibuku dan di suatu malam ibuku menusuk ayahku, ayahku yang masih hidup membalas dan mereka saling membunuh bukannya itu sangat menyenangkan.. orang yang tadinya saling mencintai saling membunuh pada akhirnya," Mia berkata dengan bersemangat seolah darahnya mendidih.
Pandora dan Altina jelas tidak ingin mengatakan sesuatu dengannya lagipula entah siapapun di ruangan ini memang sudah rusak.
"Jika begitu pilihlah yang kau suka?"
"Dengan senang hati, kurasa yang ini."
"Saat mengambil ini kalian harus membuang nama kalian, dari sini kalian akan menjadi seorang penyihir sage."
Pandora lebih dulu berkata.
"Aku menyukai bulan, aku akan mengambil nama penyihir rembulan."
__ADS_1
"Aku penyihir kematian," tambah Altina disusul dengan Mia.
"Kalian memilih hal yang bagus kalau begitu aku penyihir senja saja.. warna senja selalu terlihat mengerikan."
Ketiganya meninggalkan ruangan dan selama sebulan hanya mempelajari buku yang mereka pilih sampai akhirnya suatu malam Altina menggali makam adiknya sendiri lalu meletakkannya di atas lingkaran sihir yang dia buat.
Disaksikan Pandora dan Mia, dia mulai membuat persiapan dan lingkaran sihir itu bersinar terang.
"Apa dia akan berhasil penyihir rembulan?"
"Entahlah, kemungkinan besar gagal."
"Heh, begitukah."
Tubuh adiknya tidaklah kembali melainkan melebur menjadi debu lalu lenyap, sementara itu tubuh Mia tiba-tiba mengeluarkan bayangan hitam.
Salah satu ibu asuh yang memergoki ketiganya berteriak ke arah ketiganya.
Tepat saat bayangan dari Altina menyentuh tubuhnya ia langsung mati, pohon-pohon di sekelilingnya mengering termasuk rumput yang berada di sekelilingnya.
"Jadi begitu, kau dikutuk haha tapi bagus dengan ini kau benar-benar penyihir kematian."
Sementara itu Altina hanya terduduk selagi memegangi kepalanya.
"Kenapa jadi begini, aku gagal."
"Kau tidak gagal, bagaimana kalau kau membunuh seluruh penduduk juga itu akan menyenangkan."
"Bagaimana jika kau membunuh dirimu sendiri."
Seperti yang dikatakan Pandora, Mia membunuh dirinya sendiri dengan mengambil jantungnya, beberapa saat dia bangkit kembali.
"Ya ampun, kau mengerikan penyihir rembulan, tapi aku suka."
__ADS_1
"Lebih baik Altina mengurung diri mulai sekarang."
Keduanya berjalan pergi, Mia pun memutuskan hal demikian tanpa peduli dengan ibu asuh yang telah kehilangan nyawanya.
Tak lama kemudian ibu asuh itu mulai berdiri lalu berjalan sebagai mestinya, tentu yang berada di dalamnya bukan dia sesungguhnya.
Ia membuka salah satu ruangan dan melihat Fram yang terlihat tersenyum ke arahnya.
Alasan kenapa ibu asuh itu memergoki ketiganya karena Fram sendiri yang memberitahukannya bahwa mereka sedang melakukan sihir kegelapan.
"Apa kau sudah mencegah ketiganya, hmm sepertinya kau terlambat."
Ibu asuh itu tersenyum senang.
"Kau benar-benar bagus berakting tapi aku menyukainya, hey apa kita bisa bercinta malam ini."
"Aku tidak suka melakukan itu dengan wanita lain."
"Heh, begitukah... tidak menyenangkan."
"Jadi Marinna Testarosa, apa kau ingin memilih bukumu sendiri?"
"Tentu saja, kakakku mendapatkan kutukan karena membangkitkanku aku tidak boleh menyiakannya bukan, jangan beritahu dia sampai aku sendiri yang melakukannya... mulai sekarang aku adalah penyihir kasih sayang."
"Aku mengerti, apa kau mau pergi?"
"Aku perlu wujud yang sesuai dengan umurku paling tidak aku harus membunuh seseorang untuk melakukannya, setelah puas bercinta dengan banyak orang tentunya."
"Ya ampun kau sangat liar."
Pembicaraan berhenti setelah kepergian Marinna.
Law yang mendengar keseluruhan cerita tersebut hanya menghela nafas panjang.
__ADS_1