Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 142 : Tanah Ras Iblis


__ADS_3

Anna dan Misela duduk di bagian depan kereta sementara Souma dan Scarlett mengawasi dari kereta barang, sepanjang mata hanya ada padang tandus dan di sana beberapa tulang hewan tampak memperburuk keadaannya.


"Aku tak mengira bisa separah ini, festival naga benar-benar mengerikan."


"Begitulah, bahkan kami sudah berusaha keras mencoba mengembalikan tanah kembali sayangnya itu tidak terjadi apapun," balas Anna pada pernyataan Scarlett.


Kini semua orang mengalihkan pandangan ke arah Souma yang tersenyum masam.


"Aku tahu kekhawatiran kalian, aku pasti bisa mengembalikan tanahnya, namaku jadi jaminannya."


Tidak biasanya Souma berbicara sejauh itu tanpa alasan hingga ketiganya menarik nafas lega, Souma telah berjanji pada Anna maka dari itu dia hanya ingin menepatinya sebaik mungkin.


Kereta mereka mulai memasuki kawasan kota yang terlihat kumuh yang semuanya diisi oleh para ras iblis, melihat ratu mereka kembali ada kesenangan terlukis di wajah mereka serta keterkejutan juga di mana Anna jelas berubah menjadi anak kecil.


Anna menangis sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Aku benar-benar kehilangan wibawaku."


"Kau akan kembali dalam waktu beberapa hari saja," ucap Souma lemas.


Scarlett mengeluarkan kepalanya keluar kereta dan berkata.

__ADS_1


"Jika tanah ini tandus apa yang membuat kalian bisa bertahan selama ini?" Misela yang menjawabnya.


"Kami memakan buah Ripera, buah ini bisa tumbuh dengan baik di tanah tandus hanya saja."


Perkataannya berhenti di sana, Misela membeli dua buah yang dia temukan di sepanjang jalan yang mana diberikannya pada Souma dan Scarlett. Buah itu menyerupai buah pir dengan warna putih mengkilap.


Souma pikir buah-buahan di sini akan identik dengan warna gelap namun ornamen putih juga ada di dalamnya.


Ketika keduanya memakannya ekpresi mereka berubah menjadi sulit. Scarlett bahkan tidak ingin mencobanya dua kali dan kembali mengenakan topengnya kembali.


"Ini jelas bukan makanan."


Souma sepakat dengan apa yang dikatakannya, buah ini tidak memiliki aroma dan bau hampir mirip seseorang memakan kapas.


Souma bisa mengerti kenapa Anna terkadang memikirkan soal kampung halamannya, dia mungkin merasa tidak enak dengan semua orang.


Saat dia makan dengan enak rakyatnya jelas tidak memiliki apapun untuk dinikmati. Tanpa sadar Souma menepuk rambut Anna selagi tersenyum ke arahnya.


"Souma."


"Kita sudah sampai," perkataan Misela memotong tatapan romantis keduanya.

__ADS_1


Di ujung jalan tampak sebuah istana yang telah rusak, bagian depannya telah menghilang dan pintunya terlihat sudah cukup berkarat.


Fakta bahwa masih ada orang yang bekerja sesuatu yang cukup membuat beberapa orang tak percaya, para pelayan dan juga penjaga membungkuk hormat pada Anna yang telah menginjakan kembali kakinya.


"Selamat datang yang mulia ratu."


"Aku kembali, jangan pikirkan soal tubuhku yang mengecil... aku akan kembali dalam beberapa hari saja."


"Kami mengerti."


"Tolong bawa tamu-tamu penting kita ke ruangan khusus, aku akan kembali setelah mengganti pakaianku."


"Baik."


Souma memiringkan kepalanya menatap Anna.


"Kau seperti seorang bangsawan?"


"Aku memang bangsawan."


Hampir sulit dipercaya bahwa Anna bisa memerintah seseorang dengan baik, jika Souma ingat Anna lebih suka menyiapkan sesuatu sendiri tanpa tergantung orang lain.

__ADS_1


Sisi seperti ini juga tidaklah buruk.


Agar Anna memerankan perannya dengan baik, Souma hanya mengikuti semuanya dengan santai. Adapun Scarlett lebih suka menempel di lengannya selagi mengawasi setiap ornamen yang dia lihatnya.


__ADS_2