Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 116 : Tempat Mereka


__ADS_3

Tenda sementara didirikan dan Souma dengan santai memeriksa keadaan mereka sekaligus memberikan obat penyembuhan secara gratis.


Souma mengarahkan tangannya dan itu menciptakan lingkaran suci dengan pola rumit yang belum pernah dilihat siapapun, bahkan untuk setinggi Pandora dan Undine dalam sihir mereka jelas kebingungan.


Hanya terkena sedikit cahayanya separah apapun luka yang diterimanya mereka kembali sedia kala.


Suatu hari di dunia tertentu Souma berperan sebagai tim medis, saat itu dunia yang dia kunjungi adalah sebuah dunia yang telah memasuki era zaman industri, mereka menggunakan senjata mutakhir berupa alat-alat besi yang menembakan laser dan cenderung lemah dalam tim medis.


Sihir ini diciptakannya saat waktu itu secara spontan agar bisa menyembuhkan luka secara cepat tanpa perlu rapalan ataupun hal merepotkan.


"Anda benar-benar dewa."


"Aku bukan dewa, selanjutnya."


"Baik."


Setelah selesai Souma duduk bersandar pada tembok sedangkan Undine di dekatnya mengeluh akan sesuatu.


"Aku tidak terlalu pandai sihir penyembuh yang aku bisa hanya menghancurkan sesuatu atau sebagainya."


Tanpa ditanyakan Souma jelas sudah tahu itu.


Beberapa orang ada yang mengalami trauma dan lalu berlarian hanya melihat Undine dari kejauhan.


Law muncul setelah menyelidiki sekitar.


"Aku sudah mengetahui kemana mereka pergi, dari sini mereka mengambil jarak ke barat, di sana ada kota jadi tidak aneh mereka menjadikannya sebuah basis untuk menyerang kita suatu hari nanti."

__ADS_1


Pandora yang duduk jauh dari mereka mengambil sebuah daun ke mulutnya dan itu menghasilkan suara suling yang indah yang bisa didengarkan semua orang.


"Akan jadi masalah jika membiarkan mereka begitu saja, kita harus menghabisi mereka," ucap Souma yang disusul Undine.


"Itu berarti adalah kesempatanku menggunakan sihir ledakan, tapi kenapa kau membawa taring di punggungmu?"


"Aku tadinya datang kemari untuk memesan sebuah pedang aku rasa aku tidak bisa mendapatkannya dengan cepat," balas Law kecewa.


Selepas berisitirahat, sore harinya melalui sihir Souma mereka berempat telah muncul di kota yang dimaksud, Law mengendap-endap bersama dua gadis di belakangnya selagi menempelkan dirinya ke tembok sementara Souma berjalan santai selagi memegangi punggung kepalanya.


"Apa yang kau lakukan? Kau harus melakukan seperti apa yang kita lakukan."


"Haruskah."


"Kau belajar di mana ini dasar pengintaian."


"Ini cukup menarik, aku selalu menyerang dari depan dan belum pernah melakukan hal seperti mengendap-endap."


Itu perkataan jujur dari Pandora yang disertai nada sarkasme, Law mengerenyitkan alisnya namun memilih mengabaikannya dan berjalan maju.


Mereka melihat dua orang itu bergerak pergi ke sebuah bar yang di depannya ditulis 'Disewa untuk hari ini' ada mantan tiga raja di dalamnya dan masing-masing dari mereka terlihat mengobrol dari jendela.


Undine menatap Souma dengan pandangan bersinar.


"Maaf Undine tapi jika menggunakan sihir peledak di tengah kota itu hanya akan melukai orang tidak bersalah."


"Jangan khawatir aku tidak peduli pada mereka."

__ADS_1


Souma menarik pipinya.


"Sakit."


"Ada yang salah denganmu."


"Jangan bertengkar sekarang... untuk sekarang kita masuk saja, tapi pastikan untuk penuh gaya, ikuti aku."


Law menendang pintu hingga pintu tersebut terlempar ke depan, semua orang yang tertawa kini terhenti oleh keberadaan mereka termasuk ketiga raja yang duduk paling jauh.


"Aku komandan kesatria kerajaan Diamond, aku akan menangkap kalian di sini."


Semua orang tertawa setelah keheningan tersebut.


"Kau cukup berani datang kemari sendirian dan juga tanpa senjata."


"Apa maksudmu sendirian aku bersama..."


Saat Law menyadarinya tidak ada siapapun yang berada di sebelahnya.


"Ugh."


Pandora yang memperhatikan jauh bersama Souma dan Undine tertawa.


"Sudah kuduga ikut dengannya memang menarik."


"Sepertinya Law telah menarik penyihir padanya, aku akan bersedih untuknya."

__ADS_1


Souma mengangguk atas perkataan Undine.


__ADS_2