
Suatu hari aku pernah bermimpi di mana tanah ini menjadi hijau, ditumbuhi berbagai makanan yang bisa diambil tanpa perlu berebut dan semua orang bisa makan dengan kenyang.
Setelah kekalahanku dari manusia aku telah kembali ke tanahku sendiri yang tak berarti apapun, banyak orang yang bilang bahwa itu tidak masalah namun sejujurnya aku telah membuat mereka kecewa.
Di depanku seorang yang mengakui dirinya sebagai penyihir senja hanya mengerutkan alisnya atas ketidak senangannya.
Dia adalah orang yang mengusulkan tentang merebut tanah manusia dan sekarang dia sekali lagi membujukku untuk melakukannya lagi.
"Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda bagaimana jika kita mulai membunuh manusia yang lebih lemah... begitu lebih mudah."
"Tidak, aku akan mencari jalan lain untuk merubah tanah ini."
"Tidak asyik. Yah sudah... kalau itu keinginanmu apa boleh buat... kalau begitu aku akan mencari kesenanganku sendiri."
Dan seperti itulah aku memutuskan hubunganku dengan penyihir.
Aku duduk di atas singgasana dengan perasan kosong, hanya sedikit orang yang masih hidup dan beberapa pekerja kastil yang mengurusi tempat ini telah mengambil masa pensiun mereka lebih awal.
"Misela, apa itu kau?"
"Yang mulia ratu, maaf mengganggu tapi saya memiliki sesuatu yang harus saya katakan."
Misela adalah tangan kananku, ia berpenampilan seperti pelayan pada umumnya hanya saja memiliki tanduk dan ekor hati di belakangnya.
Dia sama sepertiku ia seorang Succubus, yang memiliki rambut hitam sebahu dengan mata yang tidak selaras. Mata kirinya berwarna hijau sementara mata lain berwarna merah.
"Apa itu?"
Dia berlutut ke arahku dan mulai menjelaskan, menurutnya ada sebuah kabar bahwa ada seorang yang disebut sebagai Dewa Alchemist, dewa itu terus berpindah-pindah tempat untuk menjual berbagai ramuan dan akhirnya dikatakan bahwa ia telah menetap kembali ke sebuah desa bernama desa Huruhara.
__ADS_1
Misela mengusulkan, mungkin saja ia bisa menyelamatkan tanah kita jika kita memintanya.
"Apa kau yakin? Dia mungkin akan menghabisi kita karena kita berasal dari ras iblis."
"Tapi paling tidak kita bisa mencobanya dulu, karena itulah izinkan saya untuk pergi."
Aku menimbang-nimbang hal itu dalam pikiranku, semua ini terjadi karena kekalahanku maka dari itu aku ingin bertanggung jawab untuk semuanya, jika ada satu harapan maka aku akan berharap untuk satu itu.
Dan akhirnya aku maupun Misela pergi ke desa Huruhara, di depanku ada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai rumah sekaligus toko obat-obatan.
Misela di sampingku tampak merasa gelisah.
"Yang mulia ratu, saya pikir saya yang lebih baik masuk, ini mungkin berbahaya."
"Tidak, aku akan melakukannya... tolong tunggu sebentar."
Aku menghela nafas panjang selagi membawa koper di tanganku, ini adalah rencana yang telah kusiapkan, aku akan pura-pura sebagai orang yang lari dari rumah, memerlukan tempat tinggal serta sebuah pekerjaan dengan begitu aku yakin bisa sedikit menipunya.
Meski aku mengatakan itu indentitasku langsung ketahuan, aku tidak akan menyerah aku menawarkan tubuhku sebagai gantinya namun dia menolaknya.
Mustahil?
Apa dia pria yang tidak normal?
Setelah keheningan sesaat dia akhirnya mengizinkanku untuk bekerja di sini bahkan menawarkan sesuatu yang tidak bisa aku bayangkan.
Ia akan mengembalikan tanah ras iblis jika aku bekerja selama enam bulan di sini dengan baik, aku mengatakan hal itu pada Misela dan ia sangat bahagia sebelum akhirnya memutuskan kembali ke tanah ras iblis.
Setelah enam bulan berlalu Souma berkata kembali padaku, ia secara sengaja mengunjungi kamarku saat semua orang tertidur lelap lalu tanpa terduga dia berlutut padaku.
__ADS_1
"Souma?"
"Maaf Anna, sepertinya aku perlu waktu lebih banyak untuk membuat ramuannya, apa tidak masalah.. aku benar-benar minta maaf."
Membayangkan Souma akan mengatakan hal seperti ini membuatku terkejut, aku tahu bahwa ia telah bekerja keras untuk melakukannya, jika aku hanya memaksakan keinginanku padanya itu hanya bentuk sebuah keegoisanku.
"Tak apa Souma, aku akan menunggu.. mohon jangan paksakan dirimu."
Mungkin mereka akan kecewa namun aku tidak bisa berbuat banyak, Souma bukanlah dewa yang menciptakan sesuatu dengan mudah seperti apa yang dikatakan orang lain, dia hanya pria biasa yang ingin menjalani hidupnya dengan santai.
Aku bahkan merasa bersalah karena melibatkannya dalam hal ini, namun aku sangat senang telah bertemu dengannya.
Aku berkata lembut padanya.
"Souma mau menghabiskan malam denganku?"
"Ogah."
Aku membanting pintu di depan wajahnya secara spontan.
"Anna, apa kau marah?"
"Berisik, pergi sana."
"Eh."
Pria ini aneh, bagaimana cara merangsangnya? Bahkan aku tidak bisa menyebut diriku Succubus lagi.
Tanpa sadar aku menenggelamkan wajahku ke dalam bantal dan selimut dengan rasa frustasi.
__ADS_1